Google+ Followers

Kamis, 08 September 2011

KESALAHPAHAMAN YANG HARUS DIPERBAIKI DALAM BIMBINGAN DAN KONSELING

Bimbingan dan konseling adalah upaya pemberian bantuan kepada peserta didik dengan menciptakan lingkungan perkembangan yang kondusif, dilakukan secara sistematis dan berkesinambungan, supaya peserta didik dapat memahami dirinya sehingga sanggup mengarahkan diri dan dapat bertindak secara wajar, sesuai dengan tuntutan tugas-tugas perkembangan. Upaya bantuan ini dilakukan secara terencana dan sistematis untuk semua peserta didik berdasarkan identifikasi kebutuhan mereka, pendidik, institusi dan harapan orang tua dan dilakukan oleh seorang tenaga profesional bimbingan dan konseling yaitu konselor. Prof.Dr.H.Prayitno,M.Sc.Ed dalam bukunya “Dasar-dasar Bimbingan dan konseling” (1994) menyatakan bahwa “tujuan umum bimbingan dan konseling adalah untuk membantu individu memperkembangkan diri secara optimal sesuai dengan tahap perkembangan dan predisposisi yang dimilikinya (seperti kemampuan dasar dan bakat-bakatnya), berbagai latar belakang yang ada (seperti latar belakang keluarga, pendidikan, status social ekonomi), serta sesuai dengan tuntutan positif lingkungannya. Dalam hal ini bimbingan dan konseling membantu individu untuk menjadi insan yang berguna dalam kehidupannya yang memiliki berbagai wawasan, pandangan, interprestasi,pilihan, penyesuaian, dan ketrampilan yang tepat berkenaan dengan diri sendiri dan lingkungannya.” Melihat dari apa yang diuraikan di atas dan membandingkannya dengan kenyataan yang ada di lingkungan pendidikan kita saat ini, masih banyak permasalahan-permasalahan atau kesalahpahaman dalam bidang bimbingan dan konseling ini. Permasalahan itu timbul mungkin karena bimbingan dan konseling itu digeluti oleh berbagai pihak dengan latar belakang yang sangat bervariasi.Disamping itu juga kurangnya literatur sehingga pemahaman mereka tentang bimbingan dan konseling kurang. Sabar Rutoto dalam tulisannya yg berjudul “Menyongsong Pelayanan Bimbingan Konseling Sekolah di Era Modern” di Majalah Ilmiah Pawiyatan, menyatakan : Kenyataan dilapangan menunjukan masih adanya titik lemah dalam pelaksanaan BK.

Kelemahan itu diantaranya adalah masih banyak tenaga pelaksana tidak berpendidikan khusus bimbingan : kalau ada tenaga khusus bmbingan mereka berpendidikan jenjang sarjana angkatan tahun delapan puluhan yang note bene materi pada waktu itu masih minim. Ada tenaga berkualifikasi penuh tetapi jumlahnya kurang dibandingkan dengan jumlah siswa yang harus dilayani atau mereka harus merangkap mengajar atau tugas-tugas lain yang tidak ada relevansinya. Tidak adanya ruangan khusus untuk konseling. Ruang bimbingan menjadi satu dengan ruang Tata Usaha atau ruang UKS dipisahkan dengan bagian lainnya hanya dengan almari sebagai penyekat. Atau ada ruangan khusus tetapi dengan ukuran tidak memadai dan untuk menampung segala macam kegiatan BK dan keperluan kerja guru pembimbing tidak tersedia alat ukur dan materi bimbingan .Tidak memadainya biaya yang disediakan , Kurang diperoleh kerjasama dengan personil lain di sekolah, sebagian karena kurang pengertian mereka mengenai tujuan dan hakekat BK, Belum adanya manajemen BK yang di kelola secara professional dan maju, sehingga mutu layanan BK di sekolah masih kurang dan belum mampu memenuhi tuntutan motto “BK peduli Siswa” dalam makna yang kita harapkan. Permasalahan yang di paparkan oleh Sabar Rutoto itu merupakan juga permasalahan yang ada di daerah kita. Dan bila kita cerna dan renungkan,masalah itu timbul bukan dari satu pihak, namun dari berbagai pihak dan tidak menutup kemungkinan juga permasalahan tersebut timbul karena dari pihak Guru pembimbingnya sendiri. Membahas tentang permasalahan ataupun kesalahpahaman dalam Bimbingan dan Konseling, Prof.Dr.H.Prayitno,M.Sc.Ed dalam bukunya “Dasar-dasar Bimbingan dan konseling” (1994) memaparkan 15 kesalahpahaman yang sering dijumpai dilapangan, yaitu :
1. Bimbingan dan Konseling disamakan atau dipisahkan sama sekali dari pendidikan.
Ada sebagian orang yang berpendapat bahwa bimbingan dan konseling adalah identik dengan pendidikan sehingga sekolah tidak perlu lagi bersusah payah menyelenggarakan pelayanan bimbingan dan konseling, karena dianggap sudah implisit dalam pendidikan itu sendiri. Cukup mantapkan saja pengajaran sebagai pelaksanaan nyata dari pendidikan. Mereka sama sekali tidak melihat arti penting bimbingan dan konseling di sekolah. Sementara ada juga yang berpendapat pelayanan bimbingan dan konseling harus benar-benar terpisah dari pendidikan dan pelayanan bimbingan dan konseling harus secara nyata dibedakan dari praktik pendidikan sehari-hari. Walaupun guru dalam melaksanakan pembelajaran siswa dituntut untuk dapat melakukan kegiatan-kegiatan interpersonal dengan para siswanya, namun kenyataan menunjukkan bahwa masih banyak hal yang menyangkut kepentingan siswa yang tidak bisa dan tidak mungkin dapat dilayani sepenuhnya oleh guru di sekolah melalui pelayanan pengajaran semata, seperti dalam hal pelayanan dasar (kurikulum bimbingan dan konseling), perencanaan individual, pelayanan responsif, dan beberapa kegiatan khas Bimbingan dan Konseling lainnya. Begitu pula, Bimbingan dan Konseling bukanlah pelayanan eksklusif yang harus terpisah dari pendidikan. Pelayanan bimbingan dan konseling pada dasarnya memiliki derajat dan tujuan yang sama dengan pelayanan pendidikan lainnya (baca: pelayanan pengajaran dan/atau manajemen), yaitu mengantarkan para siswa untuk memperoleh perkembangan diri yang optimal. Perbedaan terletak dalam pelaksanaan tugas dan fungsinya, dimana masing-masing memiliki karakteristik tugas dan fungsi yang khas dan berbeda (1).
2. Menyamakan pekerjaan Bimbingan dan Konseling dengan pekerjaan dokter dan psikiater.

Dalam hal-hal tertentu memang terdapat persamaan antara pekerjaan bimbingan dan konseling dengan pekerjaan dokter dan psikiater, yaitu sama-sama menginginkan konseli/pasien terbebas dari penderitaan yang dialaminya, melalui berbagai teknik yang telah teruji sesuai dengan masing-masing bidang pelayanannya, baik dalam mengungkap masalah konseli/pasien, mendiagnosis, melakukan prognosis atau pun penyembuhannya. Kendati demikian, pekerjaan bimbingan dan konseling tidaklah persis sama dengan pekerjaan dokter atau psikiater. Dokter dan psikiater bekerja dengan orang sakit sedangkan konselor bekerja dengan orang yang normal (sehat) namun sedang mengalami masalah.Cara penyembuhan yang dilakukan dokter atau psikiater bersifat reseptual dan pemberian obat, serta teknis medis lainnya, sementara bimbingan dan konseling memberikan cara-cara pemecahan masalah secara konseptual melalui pengubahan orientasi pribadi, penguatan mental/psikis, modifikasi perilaku, pengubahan lingkungan, upaya-upaya perbaikan dengan teknik-teknik khas bimbingan dan konseling.
3. Bimbingan dan Konseling dibatasi pada hanya menangani masalah-masalah yang bersifat insidental.
Memang tidak dipungkiri pekerjaan bimbingan dan konseling salah satunya bertitik tolak dari masalah yang dirasakan siswa, khususnya dalam rangka pelayanan responsif, tetapi hal ini bukan berarti bimbingan dan konseling dikerjakan secara spontan dan hanya bersifat reaktif atas masalah-masalah yang muncul pada saat itu. Pekerjaan bimbingan dan konseling dilakukan berdasarkan program yang sistematis dan terencana, yang di dalamnya mengggambarkan sejumlah pekerjaan bimbingan dan konseling yang bersifat proaktif dan antisipatif, baik untuk kepentingan pencegahan, pengembangan maupun penyembuhan (pengentasan)
4. Bimbingan dan Konseling dibatasi hanya untuk siswa tertentu saja.
Bimbingan dan Konseling tidak hanya diperuntukkan bagi siswa yang bermasalah atau siswa yang memiliki kelebihan tertentu saja, namun bimbingan dan konseling harus dapat melayani seluruh siswa (Guidance and Counseling for All). Setiap siswa berhak dan mendapat kesempatan pelayanan yang sama, melalui berbagai bentuk pelayanan bimbingan dan konseling yang tersedia.
5. Bimbingan dan Konseling melayani “orang sakit” dan/atau “kurang/tidak normal”.

Sasaran Bimbingan dan Konseling adalah hanya orang-orang normal yang mengalami masalah. Melalui bantuan psikologis yang diberikan konselor diharapkan orang tersebut dapat terbebaskan dari masalah yang menghinggapinya. Jika seseorang mengalami keabnormalan yang akut tentunya menjadi wewenang psikiater atau dokter untuk penyembuhannya. Masalahnya, tidak sedikit petugas bimbingan dan konseling yang tergesa-gesa dan kurang hati-hati dalam mengambil kesimpulan untuk menyatakan seseorang tidak normal. Pelayanan bantuan pun langsung dihentikan dan dialihtangankan (referal).
6. Pelayanan Bimbingan dan Konseling berpusat pada keluhan pertama (gejala) saja.
Pada umumnya usaha pemberian bantuan memang diawali dari gejala yang ditemukan atau keluhan awal disampaikan konseli. Namun seringkali justru konselor mengejar dan mendalami gejala yang ada bukan inti masalah dari gejala yang muncul. Misalkan, menemukan siswa dengan gejala sering tidak masuk kelas, pelayanan dan pembicaraan bimbingan dan konseling malah berkutat pada persoalan tidak masuk kelas, bukan menggali sesuatu yang lebih dalam dibalik tidak masuk kelasnya.
7. Bimbingan dan Konseling menangani masalah yang ringan.
Ukuran berat-ringannya suatu masalah memang menjadi relatif, seringkali masalah seseorang dianggap sepele, namun setelah diselami lebih dalam ternyata masalah itu sangat kompleks dan berat. Begitu pula sebaliknya, suatu masalah dianggap berat namun setelah dipelajari lebih jauh ternyata hanya masalah ringan saja. Terlepas berat-ringannya yang paling penting bagi konselor adalah berusaha untuk mengatasinya secara cermat dan tuntas. Jika segenap kemampuan konselor sudah dikerahkan namun belum juga menunjukan perbaikan maka konselor seyogyanya mengalihtangankan masalah (referal) kepada pihak yang lebih kompeten
8. Petugas Bimbingan dan Konseling di sekolah diperankan sebagai “polisi sekolah”.
Masih banyak anggapan bahwa bimbingan dan konseling adalah “polisi sekolah” yang harus menjaga dan mempertahankan tata tertib, disiplin dan keamanan di sekolah.Tidak jarang konselor diserahi tugas mengusut perkelahian ataupun pencurian, bahkan diberi wewenang bagi siswa yang bersalah. Dengan kekuatan inti bimbingan dan konseling pada pendekatan interpersonal, konselor justru harus bertindak dan berperan sebagai sahabat kepercayaan siswa, tempat mencurahkan kepentingan apa-apa yang dirasakan dan dipikirkan siswa. Konselor adalah kawan pengiring, penunjuk jalan, pemberi informasi, pembangun kekuatan, dan pembina perilaku-perilaku positif yang dikehendaki sehingga siapa pun yang berhubungan dengan bimbingan konseling akan memperoleh suasana sejuk dan memberi harapan.
9. Bimbingan dan Konseling dianggap semata-mata sebagai proses pemberian nasihat.
Bimbingan dan konseling bukan hanya bantuan yang berupa pemberian nasihat. Pemberian nasihat hanyalah merupakan sebagian kecil dari upaya-upaya bimbingan dan konseling. Pelayanan bimbingan dan konseling menyangkut seluruh kepentingan klien dalam rangka pengembangan pribadi klien secara optimal.
10. Bimbingan dan konseling bekerja sendiri atau harus bekerja sama dengan ahli atau petugas lain
Pelayanan bimbingan dan konseling bukanlah proses yang terisolasi, melainkan proses yang sarat dengan unsur-unsur budaya,sosial,dan lingkungan. Oleh karenanya pelayanan bimbingan dan konseling tidak mungkin menyendiri. Konselor perlu bekerja sama dengan orang-orang yang diharapkan dapat membantu penanggulangan masalah yang sedang dihadapi oleh klien. Di sekolah misalnya, masalah-masalah yang dihadapi oleh siswa tidak berdiri sendiri.Masalah itu sering kali saling terkait dengan orang tua,siswa,guru,dan piha-pihak lain; terkait pula dengan berbagai unsur lingkungan rumah, sekolah dan masyarakat sekitarnya. Oleh sebab itu penanggulangannya tidak dapat dilakukan sendiri oleh guru pembimbing saja .Dalam hal ini peranan guru mata pelajaran, orang tua, dan pihak-pihak lain sering kali sangat menentukan. Guru pembimbing harus pandai menjalin hubungan kerja sama yang saling mengerti dan saling menunjang demi terbantunya siswa yang mengalami masalah itu. Di samping itu guru pembimbing harus pula memanfaatkan berbagai sumber daya yang ada dan dapat diadakan untuk kepentingan pemecahan masalah siswa. Guru mata pelajaran merupakan mitra bagi guru pembimbing, khususnya dalam menangani masalah-masalah belajar. Namun demikian, konselor atau guru pembimbing tidak boleh terlalu mengharapkan bantuan ahli atau petugas lain. Sebagai tenaga profesional konselor atau guru pembimbing harus mampu bekerja sendiri, tanpa tergantung pada ahli atau petugas lain. Dalam menangani masalah siswa guru pembimbing harus harus berani melaksanakan pelayanan, seperti “praktik pribadi”, artinya pelayanan itu dilaksanakan sendiri tanpa menunggu bantuan orang lain atau tanpa campur tangan ahli lain. Pekerjaan yang profesional justru salah satu cirinya pekerjaan mandiri yang tidak melibatkan campur tangan orang lain atau ahli.
11. Konselor harus aktif, sedangkan pihak lain harus pasif Sesuai dengan asas kegiatan,
di samping konselor yang bertindak sebagai pusat penggerak bimbingan dan konseling, pihak lain pun, terutama klien,harus secara langsung aktif terlibat dalam proses tersebut.Lebih jauh, pihak-pihak lain hendaknya tidak membiarkan konselor bergerak dan berjalan sendiri. Di sekolah, guru pembimbing memang harus aktif, bersikap “jemput bola”, tidak hanya menunggu didatangi siswa yang meminta layanan kepadanya.Sementara itu, personil sekolah yang lain hendaknya membantu kelancaran usaha pelayanan itu. Pada dasarnya pelayanan bimbingan dan konseling adalah usaha bersama yang beban kegiatannya tidak semata-mata ditimpakan hanya kepada konselor saja. Jika kegiatan yang pada dasarnya bersifat usaha bersama itu hanya dilakukan oleh satu pihak saja, dalam hal ini konselor, maka hasilnya akan kurang mantap, tersendat-sendat, atau bahkan tidak berjalan sama sekali.
12. Menganggap pekerjaan bimbingan dan konseling dapat dilakukan oleh siapa saja
Benarkah pekerjaan bimbingan konseling dapat dilakukan oleh siapa saja? Jawabannya bisa saja “benar” dan bisa pula “tidak”. Jawaban ”benar”, jika bimbingan dan konseling dianggap sebagai pekerjaan yang mudah dan dapat dilakukan secara amatiran belaka. Sedangkan jawaban ”tidak”, jika bimbingan dan konseling itu dilaksanakan berdasarkan prinsip-prinsip keilmuan dan teknologi (yaitu mengikuti filosopi, tujuan, metode, dan asas-asas tertentu), dengan kata lain dilaksanakan secara profesional. Salah satu ciri keprofesionalan bimbingan dan konseling adalah bahwa pelayanan itu harus dilakukan oleh orang-orang yang ahli dalam bidang bimbingan dan konseling. Keahliannya itu diperoleh melalui pendidikan dan latihan yang cukup lama di Perguruan Tinggi.
13. Menyama-ratakan cara pemecahan masalah bagi semua klien
Cara apapun yang akan dipakai untuk mengatasi masalah haruslah disesuaikan dengan pribadi klien dan berbagai hal yang terkait dengannya.Tidak ada suatu cara pun yang ampuh untuk semua klien dan semua masalah. Bahkan sering kali terjadi, untuk masalah yang sama pun cara yang dipakai perlu dibedakan. Masalah yang tampaknya “sama” setelah dikaji secara mendalam mungkin ternyata hakekatnya berbeda, sehingga diperlukan cara yang berbeda untuk mengatasinya. Pada dasarnya.pemakaian sesuatu cara bergantung pada pribadi klien, jenis dan sifat masalah, tujuan yang ingin dicapai, kemampuan petugas bimbingan dan konseling, dan sarana yang tersedia.
14. Memusatkan usaha Bimbingan dan Konseling hanya pada penggunaan instrumentasi
Perlengkapan dan sarana utama yang pasti dan dan dapat dikembangkan pada diri konselor adalah “mulut” dan keterampilan pribadi. Dengan kata lain, ada dan digunakannya instrumen (tes.inventori,angket dan dan sebagainya itu) hanyalah sekedar pembantu. Ketidaan alat-alat itu tidak boleh mengganggu, menghambat, atau bahkan melumpuhkan sama sekali usaha pelayanan bimbingan dan konseling.Oleh sebab itu, konselor hendaklah tidak menjadikan ketiadaan instrumen seperti itu sebagai alasan atau dalih untuk mengurangi, apa lagi tidak melaksanakan layanan bimbingan dan konseling sama sekali.Tugas bimbingan dan konseling yang baik akan selalu menggunakan apa yang dimiliki secara optimal sambil terus berusaha mengembangkan sarana-sarana penunjang yang diperlukan
15. Menganggap hasil pekerjaan Bimbingan dan Konseling harus segera terlihat.
Disadari bahwa semua orang menghendaki agar masalah yang dihadapi klien dapat diatasi sesegera mungkin dan hasilnya pun dapat segera dilihat. Namun harapan itu sering kali tidak terkabul, lebih-lebih kalau yang dimaksud dengan “cepat” itu adalah dalam hitungan detik atau jam. Hasil bimbingan dan konseling tidaklah seperti makan sambal, begitu masuk ke mulut akan terasa pedasnya. Hasil bimbingan dan konseling mungkin saja baru dirasakan beberapa hari kemudian, atau bahkan beberapa tahun kemuadian.. Misalkan, siswa yang mengkonsultasikan tentang cita-citanya untuk menjadi seorang dokter, mungkin manfaat dari hasil konsultasi akan dirasakannya justru pada saat setelah dia menjadi seorang dokter.
Melihat dari uraian di atas, jelas bahwa kesalahpahaman yang terjadi tersebut menyangkut hubungan antara bimbingan dan konseling dengan pendidikan, bagaimana peranan seorang konselor di sekolah, jenis bantuan yang diberikan, karakteristik masalah yang ditangani, prosedur kerja, kualifikasi keahlian, hasil yang harus dicapai, serta penggunaan instrumentasi bimbingan dan konseling. Haruskan permasalahan ini berlanjut terus, hingga apa yang dikonsepkan tentang bimbingan dan konseling menjadi kabur di masyarakat dan akhirnya timbul penilaian yang negatif terhadap bimbingan dan konseling. Banyak yang harus dilakukan untuk permasalahan ini, agar adanya meningkatkan pelayanan Bimbingan dan Konseling yang berdaya guna.Mari kita bangun kerjasama yang baik dalam satu tujuan yang sama yaitu menjadikan anak didik kita menjadi manusia yang berguna bagi bangsa dan Negara. Menciptakan kerjasama yang baik dengan pihak-pihak tertentu sangatlah tidak mudah, perlu adanya kerja keras dari Guru pembimbing. Untuk itu perlu adanya langkah-langkah penguatan dan penegasan peran serta identitas profesi. Langkah-langkah tersebut adalah :
1. Memahamkan Para kepala Sekolah Diyakini bahwa dukungan Kepala Sekolah dalam implementasi dan penanganan program Bimbingan dan Konseling di sekolah, sangat esensial, Hubungan antara kepala sekolah dengan konselor sangat penting terutama di dalam menentukan keefektifan program. Kepala Sekolah yang memahami dengan baik profesi Bimbingan dan konseling akan :
a. Memberikan kepercayaan kepada konselor dan memelihara komunikasi yang teratur dalam berbagai bentuk.
b. Memahami dan merumuskan peran konseling
c. Menempatkan staf sekolah sebagai tim atau mitra kerja
2. Membebaskan konselor dari tugas yang tidak relevan Masih ada konselor di sekolah yang diberi tugas mengajar bidang studi, bahkan mengrus hal-hal yang tidak relevan dengan Bimbingan dan Konseling seperti petugas piket, Bagian tata tertib sekolah , wali kelas dsb nya. Tugas-tugas ini tidak relevan dengan latar belakang pendidikan dan tidak akan menjadikan Bimbingan dan Konseling dapat dilaksanakan secara professional. Contoh : seorang pembimbing di tugas kan sebagai guru piket, pada saat dia piket ada seorang siswa yang terlambat dan menurut aturan bahwa siswa yang terlambat harus di hukum dahulu oleh guru piket baru boleh masuk kelas. Tidak kah hal ini akan menjadikan fungsi Bimbingan dan konseling menjadi kabur.Dimana seorang guru pembimbing di tuntut untuk menghindari sikap menghukum siswa,namun karena sebagai guru piket,dia harus menjalani tugasnya sebagai guru piket.
3. Membangun Standar Supervisi Tidak terpenuhinya standar yang diharapkanuntuk melakukan supervise Bimbingan dan Konseling membuat layanan tersebut terhambat dan tidak efektif. Supervisi yang dilakukan oleh orang yang tidak memahami dan tidak berlatarbelakang Bimbingan dan Konseling bisa membuat perlakuan supervise Bimbingan dan Konseling disamakan dengan perlakuan supervise guru bidang studi. Akibatnya balikan yang diperoleh konselor dari pengawas bukanlah hal-hal yang substanstif tentang kemampuan bimbingan dan konseling melainkan hal-hal tekhnis administrative. Supervisi Bimbingan dan konseling mesti di arahkan kepada upaya membina ketrampilan professional konselor seperti : Memahirkan ketrampilan konseling, belajar bagaimana menangani kesulitan siswa, mempraktekkan kode etik profesi, Mengembangkan program Komprehensif, mengembangkan ragam intervensi psikologis, dan melakukan fungsi-fungsi yang relevan.
4. Melakukan Sosialisasi tentang fungsi dan Tujuan Bimbingan dan konseling Banyak cara untuk melakukan sosialisasi ini. Diantaranya melakukan Seminar-seminar pendidikan yang diselenggarakan oleh ABKIN untuk semua guru Bidang studi. Selalu berbicara dalam rapat atau musyawarah yang diadakan di sekolah sendiri. Bertukar pikiran dengan teman-teman guru di sekolah dan sambil menjelaskan fungsi dan kedudukan Bimbingan dan konseling sebenarnya.
5. Meningkatkan kinerja guru pembimbing sendiri Banyak yang bisa kita lakukan sebagai guru pembimbinguntuk meningkatkan kinerja kita. Paling tidak kita punya niat untuk bekerja secara professional.Hal ini sudah bisa menjadi motifasi kita untuk maju Adapun yang bisa dilakukan diantaranya :
a. Mengikuti kegiatan MGBK. Pemerintah sudah menyiapkan dana untuk melakukan kegiatan MGBK. Maka ikutilah kegiatan itu secara aktif, selain ilmu baru kita dapat, kita juga bisa searing dengan rekan sesama konselor.
b. Mengikuti seminar-seminar Pendidikan Beberapa tahun belakangan ini, banyak sekali instansi , lembaga atau organisasi yang mengadakan seminar.Untuk kita yang berprofesi konselor.Perdalamlah ilmu kita dengan kegiatan seminar khusus bimbingan dan konseling.
c. Memanfaat Ilmu Tekhnologi untuk mengembangkan pengetahuan Banyak sekali informasi-informasi yang bisa kita dapat melalui internet. Banyak tulisan-tulisan yng di buat oleh mahasiswa, dosen, guru pembimbing dan bahkan pakar-pakar Bimbingan konseling juga membagi ilmunya melalui internet.
d. Menambah ilmu dengan mengikuti pendidikan yang lebih tinggi lagi. Tanpa kesadaran dari praktisi Bimbingan dan konseling untuk menanggapi masalah ini, maka bimbingan dan konseling tidak akan maju dan berkembang dan akhirnya tidak bisa melakukan pelayanan-pelayanan terhadap siswa yang menghadapi perkembangan dunia yang semakin kompleks dan penuh dengan permasalahan-permasalahan hidup. Heriyanti,S.Pd

Selasa, 09 Agustus 2011

KETRAMPILAN KONSELING Untuk Meningkatkan Ke-profesional-an Guru Pembimbing


Banyak sekali keluhan guru Pembimbing tantang masalah yang harus dihadapi di dunia kerjanya. Pada umumnya mereka mengeluhkan tentang lingkungan sekolah yang kurang mendukung profesinya sebagai guru pembimbing.
Melihat dan mendengar itu, mari kita Intropeksi diri sebagai Guru Pembimbing. Cobalah untuk melihat diri kita, apa yang sudah kita lakukan di lingkungan kerja kita. Ilmu apa yang sudah kita sumbangkan untuk lingkungan kerja kita......
Perlahan-lahan....mari kita ciptakan dunia kerja kita yang menyenangkan. Lingkungan kerja yang mendukung kita dan Merangkul semua sahabat-sahabat dan teman-teman di sekolah untuk mendukung kerja kita.
Memang tidak semudah membalik telapak tangan...karena yang dihadapi adalah bermacam-macam karakter manusia.Untuk itu,mulailah mendekati orang yg lebih memahami apa itu BIMBINGAN KONSELING....dan perlahan-lahan memberikan pengenalan kepada mereka yang tidak mengerti tentang BIMBINGAN KONSELING. Namun tidak juga semudah itu untuk mendapatkan tujuan yang diinginkan.Masih ada juga guru-guru yang memandang negatif tentang BIMBINGAN KONSELING atau dengan Guru pembimbing.
Dengan satu tekat dan semangat...Mari kita bekerja secara profesional, sehingga segelintir orang-orang yang memandang negatif itu tidak menjadikan suatu hambatan kita dalam berkarir. Hadapi mereka dengan senyuman......
Untuk menjadikan kita bekerja profesional, kita perlu ilmu yang mendasar, terutama dalam melakukan layanan...oleh sebab itu izin kan saya menuliskan informasi tentang KETRAMPILAN KONSELING.
Tulisan ini saya copy dari http://fitrasoka.multiply.com
Baiklah, untuk melaksanakan teknik konseling dengan baik, kita perlu memiliki keterampilan mendengarkan dan mempelajari. Apaan tuh.....? Biar gak keriting, keterangan ilmiahnya ga perlu ya (padahal ga tau) .


1. Komunikasi non verbal
Komunikasi non verbal ini kira-kira adalah komunikasi yang gak pake kata-kata. Bisa dari penampilan kita, mimik muka, maupun gumaman gak jelas seperti "Mmm....", "Ooh...". Jenis komunikasi ini bisa memperlihatkan bahwa kita memperhatikan apa yang lawan bicara sedang bicarakan. Oke, ga terlalu banyak masalah, cukup ditambah cengar-cengir dikit, beres.....

Yang dijadikan catatan kemarin adalah mengusahakan kepala sama tinggi, misalnya lawan bicara duduk kita ikut duduk, beliau berdiri kita ikut berdiri. Tapi untuk ketinggian yang berhubungan dengan anatomi tubuh yang emang segitu-gitunya tentu tidak perlu dipaksakan, hehehe....

Selain itu adalah memberi perhatian, menyingkirkan penghalang (contohnya terlalu terpaku pada form isian di tangan misalnya, akan menghalangi komunikasi dengan lawan bicara). Lalu... menyediakan waktu, gak so' sibuk dan terburu-buru, sambil sedikit-sedikit liat jam misalnya. Serta melakukan sedikit sentuhan yang wajar. Untuk poin terakhir sempat dilakukan diskusi garing tentang "sentuhan". Rekan yang demo mempraktekkan sentuhan ringan di paha dekat lutut si pasien (dua-duanya perempuan), seorang teman yang lain komplen bahwa itu bukan sentuhan yang wajar buatnya. Akhirnya kami menyepakati bahwa sentuhan wajar yang bisa digunakan adalah sentuhan ringan di bahu saja, tidak di bagian tubuh yang lain . Kalau berlainan jenis lebih baik gak bersentuhan sama sekali daripada disangka ganjen.


2. Pertanyaan terbuka
Nah ini dia.... Ini pertanyaan yang bisa memancing banyak jawaban, yang tidak sekedar "ya" atau "tidak". Diharapkan dengan pertanyaan seperti ini si pasien/klien/siapapun bisa bercerita semua tentang permasalahannya yang sedang kita gali. Ini rada hese buat yang pernah belajar anamnesis seperti saya, yang terbiasa bertanya untuk mendapatkan jawaban-jawaban pendek dan jelas, to the point tea lah.

Kadang saya masih mikir, kenapa sih harus nanya dengan cara yang akan menghasilkan jawaban yang mungkin berputar-putar, kan mending kita tanya to the point? Hehe.... Tapi kayaknya sih karena pertanyaan terbuka dapat membuat dia bercerita boanyaaak, dan akan lebih nyaman buat dia (kalo kitanya ndengerin tentunya... ). Kalo pake gaya anamnesis gitu mungkin orang tersebut akan kurang terbuka. Padahal kita membutuhkan banyak data sensitif termasuk kondisi ekonomi, kondisi rumah, dukungan terhadap ibu dan laen-laen. Gitu meureun.....


3. Mengatakan kembali apa yang lawan bicara katakan.
Ini bermanfaat terutama untuk merespon kata-kata lawan bicara yang sebetulnya kurang tepat berdasar fakta. Kita tidak disarankan untuk menyetujui pendapat yang salah, tapi juga tidak boleh menunjukkan ketidaksetujuan karena akan membuat lawan bicara kurang nyaman. Tapi juga gak bisa diem aja karena akan keliatan gak responsif dong, hehe..... *Halah, ribet..*

Bagian sini juga rada hese, karena refleks kita biasanya langsung ingin menampik kata-kata yang salah. Misalnya... seorang ibu mengeluh anaknya sering menangis dan menganggap hal tersebut karena ASI-nya kurang. Bahkan untuk mengatakan : "Jangan khawatir Bu, anak ibu gak apa-apa kok.... ASI ibu pasti cukup," adalah respon yang kurang tepat. Hal tersebut akan membuat si ibu merasa kurang dipahami, tidak dipercaya, merasa tidak mampu, merasa perasaannya salah, dan lain-lain yang akan mengurangi rasa percaya dirinya, padahal percaya diri adalah kunci seorang ibu mampu menyusui.

Dengan demikian akan lebih aman jika kita sekedar melakukan pengulangan atas kalimatnya, misalnya begini,"Jadi menurut ibu, Anto (gunakan nama anaknya) sering menangis karena ASI ibu kurang?" Dengan begitu kita tidak mengiyakan, juga tidak melawan, tapi bahkan akan memancing si ibu bercerita lebih banyak. Responnya akan menjadi, "Iya.... soalnya... bla... bla... bla...." Nah, jadi tambah akrab kan....?


4. Berempati, menunjukkan bahwa kita mengerti bagaimana perasaannya.
Nyang ini juga sulit, hahaha.... Empati ini juga dapat dilakukan dengan pengulangan kata-kata si ibu. Misalnya si ibu bilang dirinya bingung, kita menimpali dengan "Ibu bingung ya...?" Pengulangan kata ini yang menurutku cukup mudah. Tapi tentunya terus-menerus melakukan pengulangan kata lawan bicara lama-lama bisa kelihatan menyebalkan, jadi daripada disambit pasien karena kita kayak membeo, mendingan kita belajar cara-cara lain untuk menunjukkan empati.


5. Menghindari kata-kata yang terdengar menilai/menghakimi.
Misalnya seorang ibu-ibu usia belasan tahun membawa anaknya yang berusia 3 bulan, si anak tampak kurus dan tidak sehat, si ibu membawa-bawa botol yang tampak kotor dengan susu yang sudah setengah basi di dalamnya. Dari berat badannya saja sudah kelihatan bahwa beratnya kurang, pemberian makannya salah, higienenya apalagi. Tapiii......... kita harus menahan diri untuk tidak menyalahkannya, bahkan untuk mengungkapkan fakta bahwa, "Waah, anak ibu beratnya kurang nih...."

Nah lo..., jadi diapain donk.... Akan saya tulis di artikel berikutnya yah, konseling (2) biar gak kepanjangan :-).

Agak beribet memang belajar konseling ini, seakan-akan membuat hal yang seharusnya gampang jadi susah, hehe.... Tenaga kesehatan yang ikut pelatihan ini biasanya agak kesulitan, ya karena sudah terbiasa to the point dan penuh instruksi tea lah. Rekan-rekan peserta pelatihan yang biasa pecicilan, waktu diminta mengemukakan pendapat dengan cara konseling bicaranya langsung jadi terbata-bata semua, karena pake mikirrr, hihi.... Belum biasa sih....

Jadi inget satu pengalaman berkaitan dengan ini, dulu waktu anak saya usia 7 bulan pernah kontrol ke dokter anak, terlihat bahwa berat anak saya kurang, waktu datang saat itu respon beliau cukup enak, saya pulang dan menjalankan instruksinya. Bulan depannya saya datang lagi, setelah ditimbang beratnya ternyata bisa naik, tapi... beliau berkomentar, "Naah, gitu dong, dikasih makan anaknya, harus rajin....".
Hmm... perasaan saya dulu tuh kayaknya yang, 'Eh... emang saya gak ngasih makan ya, emang saya males?' Hehe.... yang gitu-gitu deh. Bulan-bulan selanjutnya anakku susah makan lagi dan beratnya kayaknya gak nambah, tapi udah gak minat lagi tuh konsul ke dokter itu, takut dicela kalo ternyata beratnya gak naik lagi. Kayak gitu kali ya ilustrasi betapa pentingnya keterampilan konseling........ (bersambung)

Senin, 23 Mei 2011

"Redakan Amarahmu" Bagian.2


Kamu Membuat Kepalaku Serasa mau Pecah:TANDA-TANDA PERINGATAN AWAL
Banyak remaja yang meberitahu saya ketika marah, mereka kelepasan begitu saja dan meledak tanpa peringatan. Pengakuan ini sering sekali saya dengar.Terkadang para remaja menjadikan pembenaran atau perilaku mereka dan menghindar untuk mempertanggung jawabkan tindakan yang mereka lakukan. Sebenarnya,mereka seolah-olah sedang berkata, Bagaimana kamu bisa menyalahkanku atas apa yang telah kulakukan jika aku bisa mengendalikan diri sendiri ? Tapi jika alasan ini sepenuhnya benar, tidak akan ada harapan untuk berubah.Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, jika seseorang tidak pernah berada dalam posisi pengendalian, ia tidak pernah memiliki kendali.Agar bisa berubah, para remaja harus terlebih dahulu memahami bahwa mereka masih memegang kendali ketika mereka marah.Begitu menyadarinya, mereka harus belajar menaikkan tingkat kendali mereka sebelum kemarahan menguasai mereka. Para remaja dapat melakukannya dengan terus bersikap waspada terhadap tanda-tanda peringatan awal yang menandai adanya sebuah serangan kemarahan. Mengidentifikasi tanda-tanda ini akan membantu menahan amarah lebih awal, jauh sebelum meledak.
Ada banyak tanda yang mungkin mendahului sebuah serangan kemarahan, seperti otot tegang, perut mengeras, tangan mengepal, gigi menggeretak, atau jantung berdebar. saat marah, saya dapat merasakan wajah saya memerah. Saya dapat merasakan panas menyebar ke seluruh wajah saya. Ingatlah, tidak ada orang yang "Meledak" begitu saja dalam kemarahan tanpa adanya tanda-tanda peringatan.
Berikut ini beberapa sensasi yang mungkin kamu rasakan sebelum menjadi marah :
# Merasakan wajahmu memarah
# Darah mengalir cepat melalui nadimu
# Jantung berdebar
# Napas menjadi lebih cepat, pendek, atau tidak stabil
# Merasa panas atau dingin
# Merasa sakit di lehermu
Berikut ini beberapa tindakan yang mungkin tanpa sadar kamu lakukan tepat sebelum kemarahan terjadi :
@ Mengepal Tanganmu
@ Menegangkan rahangmu
@ Menggertakkan gigimu
@ Menegangkan dan meregangkan otot-ototmu
@ Mondar-mandir mengelilingi ruangan
@ Ketidakmampuan untuk duduk atau berdiri dengan tenang
Berikut ini beberapa pikiran yang dapat menjadi pertanda sebuah serangan kemarahan :
* Ia berbuat begini untuk menyakitkan
* Ia sengaja berbuat begini kepadaku
* Aku tidak percaya ia melakukan hal ini
* Tidak ada orang yang berbicara kepadaku seperti ini
* Akan kutunjukan kepadanya
* Sekarang semua orang sedang mentertawakanku

Berhati-hatilah saat mencatat berbagai pikiran yang menandai serangan kemarahan. Kerap kali, memikirkan apa yang telah membuat kita marah hanya membuat kita lebih marah. Berbagai pikiran ini membakar kemarahan kita dan kemarahan ini kemudian membakar pikiran kita, dan akhirnya menjebak kita dalam lingkaran setan.
SEBAGAI LATIHAN UNTUK MEREDAKAN AMARAH :
Tuliskan sensasi, tindakan dan pemikiran yang biasanya kamu alami tepat sebelum kamu menjadi marah.
Sensasi :...........................................................................
...........................................................................
...........................................................................
Tindakan:...........................................................................
...........................................................................
...........................................................................
Pemikiran:..........................................................................
..........................................................................
..........................................................................
Sebutkan Pemicu Umumnya:
eksternal :.........................................................................
internal :.........................................................................

Dr.Michael Hershorn, "Redakan Amarahmu !" (tip-tip Pengendalian Emosi Remaja)(2006-69-77)

Jumat, 29 April 2011

" Rincian Kewajiban Konselor." Panduan Pengembangan diri (2006)


KONSELOR YANG BERTUGAS DI SEKOLAH/MADRASAH DIWAJIBKAN MENGUASAI DAN MENYELENGGARAKAN HAL-HAL BERIKUT :
1. Menguasai spectrum pelayanan pada umumnya,khususnya pelayanan professional konseling
a. Konselor menguasai spectrum pelayanan pada umumnya, khususnya pelayanan professional konseling.
b. Konselor menguasai spectrum pelayanan professional konseling
2. Merumuskan dan menjelaskan peran professional konselor kepada pihak-pihak terkait, terutama peserta didik,pimpinan sekolah/madrasah, sejawat pendidik, dan orang tua
3. Melaksanakan tugas pelayanan professional konseling yang setiap hari dipertanggung jawabkan kepada pemangku kepentingan, terutama pimpinan sekolah/madrasah , orang tua dan peserta didik.
4. Mewaspadai hal-hal negative yang dapat mengurangi keefektifan pelayanan professional konseling
a. Hal-hal berikut perlu dicegah untuk tidak terjadi atau tidak dilakukan oleh konselor :
1) Tercederainya asas kerahasiaan, karena konselor secara langsung ataupun tidak langsung mengemukakan hal-hal berkenaan dengan diri peserta didik yang tidak boleh atau tidak layak diketahui orang lain.
2) Memberikan label kepada peserta didik, baik perorangan maupun kelompok, dengan cara apapun, yang berkonotasi negative terhadap peserta didik yang bersangkutan
3) Bertindak laksana “Polisi sekolah” yang memata-matai ataupun mencari kesalahan peserta didik, seperti bertindak sebagai piket keamanan, perazia, pencari pencuri. Dalam hal ini, konselor dapat menerima peserta didik yang terjaring dalam kegiatan “Kepolisian sekolah”yang dilakukan oleh pihak lain, untuk mendapatkan pelayanan konseling.
4) Membuat ataupun menyetujui dibuatnya “Surat Perjanjian” dengan peserta didik yang berkonotasi atau berakhir pada sangsi ataupun hukuman tertentu. Dalam hal ini konselor dapat menerima peserta didik yang telah membuat perjanjian dengan pihak lain, untuk mendapatkan pelayanan konseling agar terhindar dari sangsi ataupun hukuman yang sebagaimana dinyatakan dalam “surat perjanjian”.
5. Mengembangkan kemampuan professional konseling secara berkelanjutan

Kamis, 24 Maret 2011

REDAKAN AMARAHMU

Bagian I
Kapan Amarahmu Menjadi Sebuah Masalah ?
Pada waktu-waktu tertentu dalam hidup kita, setiap orang mengalami kemarahan yang tidak perlu dan tidak dapat dibenarkan. Meskipun demikian, jika terlalu sering terjadi, hal ini dapat menjadi masalah. Berikut ini beberapa tanda yang akan memberitahu kapan kemarahanmu menciptakan masalah bagimu.
1. Ketika Kemarahan terlalu sering terjadiAda banyak situasi ketika amarah merupakan hal yang tepat dan dibenarkan. Namun demikian, kita acapkali marah, bahkan ketika kemarahan tersebut tidak berguna atau perlu. Kamu perlu membedakan kapan saat yang wajar untuk marah dan kapan amarah menjadi bukan gagasan yang bagus.
2. Ketika Kemarahan terlalu kuat. Kemarahan terjadi pada level intensitas yang berbeda. Kemarahan dalam kadar yang kecil atau menengah acap kali dapat berguna bagi kebaikanmu. Namun, kemarahan tingkat tinggi jarang menghasilkan hasil yang positif.
3. Ketika Kemarahan berlangsung terlalu lama.Ketika kamu memperpanjang kemarahanmu, tubuhmu harus menjaga stres/pemunculan marahmu pada level yang melebihi batas normal.Kita sering menyebutnya "Melebih-lebihkan sesuatu",Amarah yang berlangsung terlalu lama dapat menahan sistem tubuhmu kembali ke level normal, sehingga membuat dirimu rentan terhadap kesulitan dan gangguan yang lebih lanjut. Karena itu,kemarahan yang berkepanjangan membuatmu lebih mudah marah saat ada sesuatu yang tidak berjalan sebagaimana mestinya dilain waktu. Lebih jauh lagi, kemarahan yang berkepanjangan akan membuat konflik menjadi lebih sulit (bahkan tidak mungkin) di pecahkan
4. Ketika kemarahan menyebabkan tingkah laku (secara fisik atau verbal ) yang mengancam. Tindakan agresi pasti akan mebuatmu terlibat dalam masalah. Saat merasa disakiti atau diperlakukan dengan tidak adil, kamu mungkin ingin mencecar orang yang telah menyinggungmu. Kemarahan, terutama kemarahan yang kuat dan personal, mendorong respons agresif. Otot-ototmu menegangkan, suaramu menjadi lebih keras, dan kamu mengepal tinjumu serta menatap tajam. Ketika kamu berada dalam keadaan seperti itu, kamu lebih cebdrung bertindak secara reaktif. Serangan fisik dan serangan Verbal (seperti menyebut seseorang brengsek)bukanlah cara yang efektif untuk mengatasi konflik. Jika kemarahanmu membuatmu agresif, berarti kamu punya masalah.
5. Ketika Kemarahan mengganggu sekolah, pekerjaan, atau hubunganmu dengan orang lain. Kemarahanmu membuat orang lain sulit berhubungan denganmu, ada harga yang harus dibayar. Kemarahanmu akan membuat kamu tidak dapat berkonsentrasi ditempat kerja atau sekolah, dan membuatmu tidak puas dengan apa yang kamu lakukan. Kemarahanmu acap kali akan menghalau oranglain dan mebuat mereka sulit menyukaimu.
Bersambung........
Dr.Michael Hershorn, "Redakan Amarahmu !" (tip-tip Pengendalian Emosi Remaja)(2006-41,42)

Kamis, 03 Maret 2011

KENALI GAYA BELAJAR ANDA

Tidak semua orang memproses informasi dengan cara yang sama, termasuk anak Anda. Untuk itu sangat penting mengetahui bagaimana gaya bekerja otak yang diterjemahkan ke dalam gaya belajar yang berbeda-beda pula.

"Sangat penting mengetahui bagaimana gaya belajar anak-anak karena gaya belajar sangat memengaruhi perkembangannya kelak," kata Direktur Talent Spectrum, DIC Fingerprint Analysis, Adrian Benny Hidayat dalam seminar 'Gaya Belajar Anak Melalui Sidik Jari' di Auditorium Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi, Jakarta, Sabtu, 6 Maret 2010.

Model gaya belajar ada tiga. Pertama yaitu visual, yang lebih cenderung belajar dengan menggunakan indera pengllihatan. Mereka lebih mudah menyerap informasi secara visual baik data teks seperti tulisan, huruf, dan data gambar seperti foto atau diagram.

Selain itu ada auditory yang menggunakan indera pendengaran. Anak-anak lebih cepat menyerap data berupa bahasa atau nada. Terakhir, model belajar kinestetik. Mereka lebih cenderung belajar dengan gerakan dan sentuhan.

Setiap gaya belajar ini tentu menuntut penanganan berbeda agar mendapat hasil yang optimal. Berikut cara mengenali tipe belajar buah hati Anda:

Ciri-ciri gaya belajar tipe visual:
Lebih mudah mengingat dengan melihat
Lebih suka membaca
Lebih mudah menangkap pelajaran lewat materi bergambar
Memiliki kepekaan kuat terhadap warna
Tertarik pada seni lukis, pahat, dan gambar, daripada musik
Mudah menghafal tempat dan lokasi

Ciri-ciri gaya belajar auditory:
Mudah ingat dari apa yang didengar atau dibicarakan dengan teman-teman atau lingkungannya
Senang dibacakan atau mendengar cerita dibanding membaca cerita sendiri
Suka menuliskan kembali sesuatu
Senang membaca dengan suara keras
Pandai bercerita
Bisa mengulangi apa yang didengarnya, baik nada atau irama
Lebih suka humor lisan dibandingkan humor tulisan
Senang diskusi, bicara, bertanya, atau menjelaskan sesuatu dengan panjang
Mudah mempelajari bahasa asing

Ciri-ciri gaya belajar kinestetik:
Gemar menyentuh segala sesuatu yang dijumpainya
Suka mengerjakan sesuatu yang memungkinkan tangannya sangat aktif
Suka menggunakan objek nyata sebagai alat bantu belajar
Banyak melakukan gerakan fisik
Ketika membaca, ia menunjuk kata-kata dalam bacaan dengan jari tangannya
Lebih suka mendemonstrasikan sesuatu dengan peragaan atau gerakan daripada menjelaskan

Untuk mengetahui gaya belajar anda, anda isi angket dibawah ini teruma buat siswa SMA MJ untuk semua kelas !! setelah anda dapatkan hasilnya, optimalkanlah hasil belajar anda maka stategi belajar anda tergantung dari gaya belajarnya. Meskipun anda memiliki gaya belajar yang dominan, tetapi cara lain perlu dilatih untuk mendukung cara belajar dg interaksi dg orang lain.
Nama :
Kelas :

ANGKET GAYA BELAJAR SISWA

MODALITAS BELAJAR ( Visual, Kinestetik, Auditori)
1. Ketika merangkai suatu barang, kamu lebih suka:
a. Mengikuti ilustrasi cara merangkainya.(V)
b. Mendengarkan orang membacakan instruksinya untukmu. (A)
c. Langsung mengerjakannya tanpa mengikuti instruksi. (K)

2. Jika akan menghadapi ulangan, kamu mudah hafal jika:
a. Menghafal materi ulangan sambil mengucapkannya keras-keras. (A)
b. Berjalan bolak-balik sambil menghafal. (K)
c. Membolak-balik buku membaca materi ulangan. (V)

3. Saat membaca suatu buku, yang sering kamu lakukan adalah:
a. Menelusuri tiap-tiap kata dengan jari telunjukmu. (K)
b. Membacanya dengan tenang, cepat dan tekun. (V)
c. Membaca sambil menggerakkan bibir dan mengucapkannya. (A)

4. Saat berbicara, kamu:
a. Berbicara dengan cepat (V)
b. Berbicara dengan kecepatan sedang (A)
c. Berbicara dengan kecepatan lambat (K)

5. Di waktu luang, kamu biasanya:
a. Mendengarkan radio, mengobrol (A)
b. Berjalan-jalan, olah raga, hiking (K)
c. Menonton televisi, membaca, mengisi TTS (V)

6. Kalau kamu marah, biasanya paling terlihat dari:
a. Ekspresi wajah. (V)
b. Intonasi suara.(A)
c. Gerak tubuh.(K)

7. Biasanya pada saat kamu tidak ada kegiatan:
a. Gelisah tak bisa duduk tenang. (K)
b. Bebicara dengan diri sendiri. (A)
c. Melamun, menatap ke angkasa. (V)

8. Pilih kegiatan yang kamu merasa nyaman melakukannya:
a. Menulis -V
b. Menari -K
c. Berolahraga -K
d. Menggambar -V
e. Membuat kerajinan tangan -K
f. Berdebat -A
g. Bercerita -A
h. Mendesain -V
i. Bermain Musik -A

9. Kata-kata khas kamu saat berbicara:
a. "Lihat baik-baik…" V
b. "Dengarkan baik-baik…" A
c. "Rasakan baik-baik…" K

10. Mana yang paling sering terjadi saat di sekolah:
a. Saat guru menerangkan, tangan kamu tidak bisa diam, memain-mainkan ballpoint. -K
b. Kamu mendengarkan saja waktu guru menerangkan. -A
c. Kamu memperhatikan wajah guru saat beliau berbicara/menerangkan. -V

11. Kamu lebih gampang mengingat sesuatu kalau kamu menuliskannya. -V
a. Hampir selalu 3
b. Kadang-kadang 2
c. Jarang sekali 1

12. Waktu guru menerangkan pelajaran di depan kelas, susah sekali bwt kamu utk mengerti.-V
a. Hampir selalu 3
b. Kadang-kadang 2
c. Jarang sekali 1

13. Bagian kosong buku catatan suka kamu gambari atau tulisi saat guru menerangkan. V
a. Hampir selalu 3
b. Kadang-kadang 2
c. Jarang sekali 1

14. Kamu tidak bisa belajar kalau ada keributan atau musik terdengar olehmu. V
a. Hampir selalu 3
b. Kadang-kadang 2
c. Jarang sekali 1

15. Di tempat sepi biasanya kamu bisa konsentrasi dengan baik. V
a. Hampir selalu 3
b. Kadang-kadang 2
c. Jarang sekali 1
16. Kamu lebih senang jika sesuatu berwarna. V
a. Hampir selalu 3
b. Kadang-kadang 2
c. Jarang sekali 1
17. Kamu seringkali 'telat' kalau ada yang melontarkan 'joke'. -V
a. Hampir selalu 3
b. Kadang-kadang 2\
c. Jarang sekali 1

18. Sewaktu ulangan, kamu membayangkan buku catatan kamu dalam pikiran. -V
a. Hampir selalu 3
b. Kadang-kadang 2
c. Jarang sekali 1

19. Saat guru menerangkan, kamu merasa lebih bisa berkonsentrasi kalau menatap
wajahnya.V
a. Hampir selalu 3
b. Kadang-kadang 2
c. Jarang sekali 1

20. Kamu menuliskan instruksi yang kamu dapat, tidak hanya mendengarnya saja. V
a. Hampir selalu 3
b. Kadang-kadang 2
c. Jarang sekali 1

21. Catatan-catatan kamu berantakan sekali, tidak teratur. A
a. Hampir selalu 3
b. Kadang-kadang 2
c. Jarang sekali 1

22. Mata kamu gampang capek walau kamu tidak pakai kacamata. A
a. Hampir selalu 3
b. Kadang-kadang 2
c. Jarang sekali 1

23. Kamu tidak begitu mahir mengartikan bahasa tubuh seseorang. A
a. Hampir selalu 3
b. Kadang-kadang 2
c. Jarang sekali 1

24. Kamu seringkali salah membaca suatu kata. A
a. Hampir selalu 3
b. Kadang-kadang 2
c. Jarang sekali 1

25. Lebih baik kamu disuruh mendengarkan guru menerangkan daripada disuruh membaca buku sendiri. A
a. Hampir selalu 3
b. Kadang-kadang 2
c. Jarang sekali 1
26. Kamu sangat mudah mengingat sesuatu yang dikatakan oleh orang. A
a. Hampir selalu 3
b. Kadang-kadang 2
c. Jarang sekali 1

27. Kamu paling tidak suka jika mendapat tugas menulis essay atau laporan, lebih baik ditanya secara lisan. A
a. Hampir selalu 3
b. Kadang-kadang 2
c. Jarang sekali 1

28. Kamu kesulitan membaca tulisan yang kecil-kecil, walau mata kamu sehat. A
a. Hampir selalu 3
b. Kadang-kadang 2
c. Jarang sekali 1

29. Instruksi/petunjuk tertulis membuat kamu bingung. A
a. Hampir selalu 3
b. Kadang-kadang 2
c. Jarang sekali 1

30. Membaca membuat tangan kamu pegal karena harus menunjuk tiap kata yang sedang dibaca, kalau tidak, melantur kemana-mana. -A
a. Hampir selalu 3
b. Kadang-kadang 2
c. Jarang sekali 1

31. Teman-teman kamu tidak mengerti kalau kamu memberi instruksi. K
a. Hampir selalu 3
b. Kadang-kadang 2
c. Jarang sekali 1

32. Waktu yang kamu butuhkan untuk mengerjakan tugas cukup lama, karena kamu harus berjalan ke sana kemari, beristirahat sebentar, atau mengerjakan hal lain, untuk mendapatkan ide lebih lanjut. K
a. Hampir selalu 3
b. Kadang-kadang 2
c. Jarang sekali 1

33. Duduk terlalu lama menyiksa kamu. K
a. Hampir selalu 3
b. Kadang-kadang 2
c. Jarang sekali 1

34. Daripada memikirkannya matang-matang, kamu memilih 'trial-error' kalau menghadapi suatu masalah. K
a. Hampir selalu 3
b. Kadang-kadang 2
c. Jarang sekali 1

35. Biasanya kamu langsung mengerjakan sesuatu tanpa harus melihat instruksinya terlebih dahulu. K
a. Hampir selalu 3
b. Kadang-kadang 2
c. Jarang sekali 1

36. Kamu senang berolah raga dan cukup mahir pada beberapa cabang olah raga. K
a. Hampir selalu 3
b. Kadang-kadang 2
c. Jarang sekali 1

37. Teman kamu bilang "Repot sekali melihat kamu menerangkan sesuatu, tangan kamu tidak bisa diam. Pasti ikut menerangkan juga". K
a. Hampir selalu 3
b. Kadang-kadang 2
c. Jarang sekali 1

38. Kamu melihat sesuatu yang sudah jadi, kemudian kamu suka membuatnya sendiri. K
a. Hampir selalu 3
b. Kadang-kadang 2
c. Jarang sekali 1

39. Kamu senang membaca buku pelajaran sambil naik sepeda statis/olahraga ditempat lainnya. K a. Hampir selalu 3
b. Kadang-kadang 2
c. Jarang sekali 1

40. Agar kamu dapat mengerti pelajaran, kamu suka menulis ulang atau mengetik catatan pelajaran kamu. K
a. Hampir selalu 3
b. Kadang-kadang 2
c. Jarang sekali 1

41. B/S Kamu lebih baik disuruh menggambarkan peta daripada menerangkan arah jalan kepada seseorang . (V)

42. B/S Kamu dapat/pernah memainkan suatu alat musik. (A)

43. B/S Kamu dapat menghubungkan musik dengan perasaanmu. A

44. B/S Kamu bisa menjumlah atau mengalikan dengan cepat diluar kepala. V

45. B/S Kamu senang bekerja dengan komputer atau kalkulator. V

46. B/S Belajar langkah baru dalam suatu tarian/gerakan dansa, mudah buat kamu. K

47. B/S Mudah bagi kamu untuk mengungkapkan pendapat kamu dalam suatu debat. A

48. B/S Kamu senang mengikuti ceramah atau seminar. A

49. B/S Dimanapun kamu berada, kamu tahu arah mata angin. V

50. B/S Hidupmu rasanya hampa tanpa musik. A

51. B/S Kamu selalu mengerti instruksi-instruksi dalam buku manual suatu barang. V

52. B/S Puzzle dan Games sangat kamu sukai. V

53. B/S Mudah bagi kamu untuk belajar mengendarai motor/mobil. K

54. B/S Kamu merasa terpancing saat mendengar ada orang yang berbicara tapi pembicaraannya terdengar tidak logis. A

55. B/S Koordinasi tubuh dan keseimbangan kamu cukup baik. K

56. B/S Kamu merasa lebih cepat dari orang lain saat melihat pola atau hubungan antara suatu angka. V

57. B/S Kamu menyukai kegiatan membuat model atau membuat patung. K

58. B/S Mudah bagi kamu untuk menangkap inti suatu pembicaraan/kalimat. A

59. B/S Kamu dapat dengan mudah membayangkan suatu objek dalam berbagai posisi. V

60. B/S Seringkali kamu menjadikan suatu lagu sebagai "soundtrack" suatu kejadian dalam hidup kamu. A

61. B/S Kamu suka bekerja dengan angka-angka dan bentuk. V

62. B/S Menyenangkan buat kamu untuk memperhatikan bentuk-bentuk gedung/rumah. V

63. B/S Diwaktu kamu sendiri atau di kamar mandi, kamu senang bersenandung atau bersiul. A

64. B/S Kamu cukup baik di salah satu cabang olahraga. K

65. B/S Kamu berminat untuk belajar struktur bahasa. A

66. B/S Biasanya kamu cukup sadar terhadap ekspresi wajah kamu. K

67. B/S Kamu cukup peka terhadap perubahan ekspresi tubuh orang lain. K

68. B/S Kamu cukup peka terhadap perasaan-perasaan kamu dan mudah untuk membedakannya. K

69. B/S Kamu cukup peka terhadap perasaan orang lain. K

70. B/S Kamu cukup peka tentang pandangan orang terhadap kamu. K

Skoring:
Untuk no 1-11, hitung jumlah K, A dan V yang kamu dapatkan. Untuk no 11-40, Hitunglah skor tiap item dengan melihat kode di depan pertanyaan itu (misal K, maka nilaimu untuk K=skor yang kau dapatkan pada item a,b atau c (1,2 atau 3)). Untuk no 41-70 sama seperti no 1-11.
Jumlahkan semua A, K dan V yang kamu dapat, lalu bandingkan. Nilai terbesar menunjukkan kecenderunganmu pada modalitas tersebut. Apabila nilaimu merata, berarti kamu telah menggunakan ketiga cara pencerap informasi secara seimbang.

Untuk Skor V yang menonjol :
Kamu adalah pelajar dengan tipe Visual :Hal ini berarti kamu cenderung belajar dengan cara melihat sesuatu. Kamu menyukai melihat gambar atau diagram,menonton pertunjukan, demonstrasi suatu kegiatan, atau menyaksikan video.
Untuk mempermudah dan mempercepat kamu untuk memahami sesuatu (pelajaran atau hal yg lain) cobalah:Mengubah pelajaran yang kamu catat ke dalam bentuk poster-poster yang mudah dilihat, dengan gambar-gambar yang menarik, grafik,dan warnai seindah mungkin.
Buatlah peta konsep pelajaran dengan: mulai dari tema besar di tengah halaman,menggunakan kata-kata penting, menggunakan simbol, warna, kata, gambar yang mencolok, dan lakukan ini dengan gayamu sendiri.Dalam mencatat pelajaran, gunakan tanda-tanda, gambar dan warna untuk menandai hal-hal penting agar dapat dengan mudah dilihat lagi jika kita mempelajarinya di lain waktu.
Untuk membantu mengingat apa yang baru kita baca dan dengar, duduklah dengan santai, dan bayangkan dalam pikiran apa yang baru dibaca/didengar, agar kita lebih paham lagi.

Untuk Skor A yang menonjol :
Kamu adalah pelajar dengan tipe Auditori:Hal ini berarti kamu cenderung belajar dengan cara mendengar sesuatu. Kamu menyukai mendengar pidato, ceramah guru menerangkan, mendengarkan radio atau kaset, berdebat atau berdiskusi.Untuk mempermudah kamu memahami sesuatu (pelajaran atau hal yg lain) cobalah:
Membaca pelajaran dengan cara baca yang dramatis, seperti pujangga membaca puisi misalnya, atau seperti scenario, bahkan cobalah menyanyikannya dengan irama iklan atau rap.Merangkum pelajaran untuk diucapkan dengan lantang, atau bahkan merekamnya dalam kaset, diselingi plesetan atau hal lain,dan memutarnya dengan walkman sepanjang perjalanan kita ke sekolah.
Saat membacakan dengan lantang, perhatikan intonasi, penekanan khusus, coba berbisik, dan coba juga sambil memejamkan mata untuk belajar membayangkan apa yang sedang dibacakan, sehingga secara tidak langsung kita telah mengaktifkan pula daya visual kita dalam belajar.
Untuk Skor K yang menonjol :
Kamu adalah pelajar dengan tipe Kinestetik:Hal ini berarti kamu cenderung belajar melalui aktivitas fisik dan melibatkan diri langsung. Kamu suka menyentuh, merasakan, membongkar sesuatu, melakukan olah tubuh.Untuk mempercepat dan mempermudahmu memahami sesuatu (pelajaran atau lainnya, cobalah:
Belajar sambil berjalan-jalan. Setiap kali membaca atau mendengarkan seseorangberbicara, bangkitlah untuk sedikit bergerak setiap 20-30 menit sekali.
Coba belajar dalam kelompok untuk membentuk suasana bermain peran (drama) dari pelajaran yang dibahas.Tulislah kembali point-point penting dari catatan pelajaran ke dalam kartu-kartu yang disusun secara logis.
Buatlah semacam percobaan, atau model dari apa yang sedang kamu pelajari. Libatkan tubuh kamu dalam belajar dengan mencoba meniru apa yang dipelajari, atau bahkan meniru gaya-gaya lucu gurumu ketika mengajar agar kamu dapat mengingatnya dengan lebih baik!Setiap orang memiliki kekuatan dan kelemahannya masing-masing.
Dengan mengetahui kekuatanmu, kamu dapat meningkatkan prestasi dengan mengarahkan diri untuk mencari cara-cara belajar yang cocok dengan kecenderungan-kecenderungan pada dirimu. Jika kamu mau belajar mengaktifkan aspek-aspek yang kurang menonjol lainnya (tentu dengan menyisihkan waktu)prestasi kamu bisa berkembang lebih baik lagi!