Google+ Followers

Rabu, 29 Oktober 2014

KETIDAKSEMPURNAAN MANUSIA MENJADI MOTIVASI DIRI UNTUK MAJU

SEMPURNA..

Kadang kita memahami ketidak sempurnaan manusia

karena memang sudah kodratnya bahwa manusia diciptakan oleh Allah dengan ketidaksempurnaan

agar manusia punya rasa yang kuat untuk memaksimalkan potensi dirinya

Namun...walau bagaimanapun..ketidaksempurnaan itu selalu ada

selalu mengiringi proses perjuangan kita....

Apakah kita harus berhenti dengan ketidaksempurnaan itu dan menyerah karena prinsipnya manusia itu tidak ada yang sempurna?

Apakah kita selalu menerima ketidaksempurnaan kita dengan berdalih itu sudah takdir dan kodratnya?

dan apakah kita harus menyerah dengan segala ketidaksempurnaan yang kita miliki?

SEMPURNA

Bukan berarti kita melawan kodrat....dan bukan juga kita menyerah dan menerima ketidaksempurnaan itu tanpa ada usaha sedikitpun..

BERUSAHA

Itu kunci dari proses mencapai kesempurnaan.....

Berusaha terlebih dahulu.....lalui proses perjuangan dan pengorbanan...

lewati rintangan dan masalah

Dan.....kita akan mendekati KESEMPURNAAN

Mendekati kesempurnaan sudah merupakan hasil yang maksimal

dan hasil dari usaha telah kita nikmati dari jalanya suatu proses pencapaian tujuan.

" berbekal dari ketidaksempurnaan yang dimiliki manusia....menciptakan motivasi untuk melakukan usaha...dan akan mendapatkan hasil yang maksimal dari proses perjuangan dan pengorbanan.
"

Selasa, 28 Oktober 2014

BUDAYA SEKOLAH SMA MUHAMMADIYAH 2 PONTIANAK Oleh : Heriyanti, M.Pd Pada Kegiatan Seminar dalam rangka Milad SMA Muhammadiyah 2 Ke-25, Tanggal 28 Oktober 2014

A. Pendahuluan
Sekolah belum berhasil membina peserta didik menjadi lulusan yang bermoral. Sisi afektif peserta didik teramat lemah bahkan cenderung mengkhawatirkan pihak keluarga, sekolah, dan masyarakat. Padahal tujuan utama orang tua menyekolahkan anak adalah agar mereka kelak menjadi pribadi yang berakhlak, disamping berilmu dan terampil. Sikap menyimpang peserta didik masih sering terjadi, seperti tawuran/kekerasan, memakai narkoba, seks bebas, membolos, tidak mengerjakan PR, dan seterusnya. Sikap-sikap tersebut bertentangan dengan tujuan pendidikan. Sekolah pun dianggap gagal sebagai institusi pendidikan yang bertujuan mencerdaskan, menerampilkan, dan mengembangkan segi afektif dan moral siswa.
Oleh sebab itu, perlu adanya peningkatan dalam proses pendidikan melalui budaya sekolah yang dapat membentuk karakter kepribadian siswa sesuai dengan tujuan pendidikan.
B. Pembahasan
Jejen Mushfah dalam http://www.academia.edu/4105186/Budaya_Sekolah, mengartikan budaya sekolah adalah pengetahuan dan hasil karya cipta komunitas sekolah yang berusaha ditransformasikan kepada peserta didik, dan dijadikan pedoman dalam setiap tindakan komunitas sekolah. Pengetahuan dimaksud mewujud dalam sikap dan perilaku nyata komunitas sekolah, sehingga menciptakan warna kehidupan sekolah yang bisa dijadikan cermin bagi siapa saja yang terlibat di dalamnya. Contoh sederhananya adalah kebiasaan siswa mencium tangan guru dan rutinitas senam/olah raga pada Jumat di sekolah.
Budaya sekolah yang diciptakan sekolah tidak terlepas dari semua pihak yang ada di sekolah. Semua pihak berperan penting dalam keberhasilan pelaksanaan budaya sekolah. Baik itu sumber daya manusianya maupun lingkungan sekolahnya. Untuk itu, diupayakan agar terwujudnya kerjasama antar semua pihak demi terlaksananya dan tercapainya tujuan budaya sekolah.
Tujuan utama budaya sekolah adalah mewujudkan visi sekolah, dimana visi SMA Muhammadiyah 2 Pontianak adalah Unggul dalam prestasi, disiplin, berakhlak dan mandiri. Agar terlaksananya budaya sekolah dalam rangka mencapai visi sekolah, kompetensi siswa menjadi acuan dasar dalam pencapaian tujuan, yaitu menjadikan siswa yang memiliki kemampuan sebagai hasil dari proses belajar.
1. Kompetensi Siswa
Melalui belajar di sekolah dengan dibantu guru peserta didik dapat memiliki banyak kompetensi. Kompetensi siswa adalah kemampuan siswa sebagai hasil belajar. Kompetensi membuat seseorang secara tidak langsung percaya diri, kuat, dan memperoleh kehidupan yang layak. Macam-macam kompetensi siswa adalah:
a. Pribadi mandiri
b. Mampu bekerja
c. Berkepribadian matang dan baik
Belajar memiliki lima dimensi sebagaimana dikatakan Marzano (1988: 16),
a. dimensi sikap-sikap dan persepsi-persepsi positif terhadap belajar
b. dimensi penguasaan dan pengintegrasian pengetahuan
c. dimensi perluasan dan penghalusan pengetahuan
d. dimensi penggunaan pengetahuan secara bermakna
e. dimensi kebiasaan-kebiasaan berpikir produktif
Beracuan pada kompetensi siswa, budaya sekolah menjadi media dalam proses belajar guna menjadikan siswa yang berkompetensi seperti yang diuraikan di atas.
Makin kuat pemahaman, keyakinan, dan kepatuhan warga terhadap norma dan nilai-nilai sekolahnya, makin tinggi kebanggaan terhadap sekolahnya. Rasa persatuannya makin menguatkan motif berprestasi dan daya belajarnya. Ini adalah prinsip pengembangan budaya sekolah.
2. Fungsi Budaya Sekolah
Robbins (1990: 253) mencatat lima fungsi budaya organisasi, yaitu:
a. Membedakan satu organisasi dengan organisasi lainnya,
b. Meningkatkan sense of identity anggota,
c. Meningkatkan komitmen bersama,
d. Menciptakan stabilitas sistem sosial,
e. Mekanisme pengendalian yang terpadu dan membentuk sikap dan perilaku karyawan.
Budaya organisasi yang diuraikan di atas lebih khusus dipahami sebagai fungsi budaya sekolah, karena sekolah juga merupakan organisasi. Selain dari lima fungsi di atas, budaya sekolah juga berfungsi untuk :
a. Memberikan petunjuk kepada anggota bagaimana bersikap dan berperilaku.
b. Menguji kemampuan pemimpin.
c. Meningkatkan daya saing organisasi.
d. Memberikan arah atau tujuan organisasi.
Manfaat budaya sekolah sangat banyak dan dapat berdampak baik terhadap perilaku siswa dan citra sekolah. Apabila budaya sekolah telah berhasil diakukan dan benar-benar menjadi sebuah keharusan, maka peraturan yang ada di sekolah tentunya dapat berjalan beriringan dengan budaya sekolah serta adanya kesadaran personal maupun kelompok dalam menerapkan budaya dan aturan sekolah dengan baik. Program pengembangan diri siswa melalui kegiatan ekstra kurikuler terprogram, muzakaroh, muhadaroh, hizbul watan, dapat membentuk kepribadian siswa yang bersifat agamis dan disiplin.

Sabtu, 16 Maret 2013

PERAN DAN FUNGSI BIMBINGAN DAN KONSELING DALAM IMPLEMENTASI KURIKULUM 2013

Dunia pendidikan di Indonesia sekarang ini sedang ramai-ramainya membicarakan tentang kurikulum 2013. Sosialisasi kurikulum 2013 sedang dilaksanakan disetiap daerah sampai pelosok. Dalam beberapa waktu yang lalu kepala sekolah dan beberapa wakil kepala sekolah SMA Negeri 6 Pontianak juga telah mengikuti kegiatan sosialisasi kurikulum 2013.
Melihat maraknya pembicaraan tentang kurikulum 2013, membuat suatu motivasi bagi konselor untuk mengetahui, bagaimana posisi bimbingan dan konseling dalam kurikulum 2013, dan ternyata hal ini telah ramai juga dibicarakan oleh masyarakat bimbingan dan konseling dalam mebahas fungsi dan peran bimbingan dan konseling dalam impelemntasi kurikulum 2013.
Bersumber dari tulisan "MASUKAN PEMIKIRAN TENTANG PERAN BIMBINGAN DAN KONSELING DALAM KURIKULUM 2013" Oleh: Masyarakat Profesi Bimbingan dan Konseling Indonesia, perlu diketahui bahwa bimbingan dan konseling memiliki peran yang sangat penting dalam implementasi kurikulum 2013, karena bimbingan dan konseling berperan dan berfungsi, secara kolaboratif, dalam hal-hal berikut.
1. Menguatkan Pembelajaran yang Mendidik
Untuk mewujudkan arahan Pasal 1 (1), 1 (2), Pasal 3, dan Pasal 4 (3) UU No. 20 tahun 2003 secara utuh, kaidah-kaidah implementasi Kurikulum 2013 sebagaimana dijelaskan harus bermuara pada perwujudan suasana dan proses pembelajaran mendidik yang memfasilitasi perkembangan potensi peserta didik. Suasana belajar dan proses pembelajaran dimaksud pada hakikatnya adalah proses mengadvokasi dan memfasilitasi perkembangan peserta didik yang dalam implementasinya memerlukan penerapan prinsip-prinsip bimbingan dan konseling. Bimbingan dan konseling harus meresap ke dalam kurikulum dan pembelajaran untuk mengembangkan lingkungan belajar yang mendukung perkembangan potensi peserta didik. Untuk mewujudkan lingkungan belajar dimaksud, guru hendaknya: (1) memahami kesiapan belajar peserta didik dan penerapan prinsip bimbingan dan konseling dalam pembelajaran, (2) melakukan asesmen potensi peserta didik, (3) melakukan diagnostik kesulitan perkembangan dan belajar peserta didik, (4) mendorong terjadinya internalisasi nilai sebagai proses individuasi peserta didik. Perwujudan keempat prinsip yang disebutkan dapat dikembangkan melalui kolaborasi pembelajaran dengan bimbingan dan konseling.
2. Memfasilitasi Advokasi dan Aksesibilitas
Kurikulum 2013 menghendaki adanya diversifikasi layanan, jelasnya layanan peminatan. Bimbingan dan konseling berperan melakukan advokasi, aksesibilitas, dan fasilitasi agar terjadi diferensiasi dan diversifikasi layanan pendidikan bagi pengembangan pribadi, sosial, belajar dan karir peserta didik. Untuk itu kolaborasi guru bimbingan dan konseling/konselor dengan guru mata pelajaran perlu dilaksanakan dalam bentuk: (1) memahami potensi dan pengembangan kesiapan belajar peserta didik, (2) merancang ragam program pembelajaran dan melayani kekhususan kebutuhan peserta didik, serta (3) membimbing perkembangan pribadi, sosial, belajar dan karir.
3. Menyelenggarakan Fungsi Outreach
Dalam upaya membangun karakter sebagai suatu keutuhan perkembangan, sesuai dengan arahan Pasal 4 (3) UU No. 20/2003, Kurikulum 2013 menekankan pembelajaran sebagai proses pemberdayaan dan pembudayaan. Untuk mendukung prinsip dimaksud bimbingan dan konseling tidak cukup menyelenggarakan fungsi-fungsi inreach tetapi juga melaksanakan fungsi outreach yang berorientasi pada penguatan daya dukung lingkungan perkembangan sebagai lingkungan belajar. Dalam konteks ini kolaborasi guru bimbingan dan konseling/konselor dengan guru mata pelajaran hendaknya terjadi dalam konteks kolaborasi yang lebih luas, antara lain: (1) kolaborasi dengan orang tua/keluarga, (2) kolaborasi dengan dunia kerja dan lembaga pendidikan, (3) “intervensi” terhadap institusi terkait lainnya dengan tujuan membantu perkembangan peserta didik.

Selasa, 16 Oktober 2012

Bk Sma Negeri 6 Pontianak Slideshow Slideshow

Bk Sma Negeri 6 Pontianak Slideshow Slideshow: TripAdvisor™ TripWow ★ Bk Sma Negeri 6 Pontianak Slideshow Slideshow ★ untuk Pontianak. Slideshow perjalanan gratis yang menakjubkan di TripAdvisor

Kamis, 04 Oktober 2012

Mau-nya Pemerintah itu apa sih dari guru yang memiliki "Sertifikat Pendidik"..???

Pertanyaan yang sederhana dan mudah di jawab. Namun akan mudah kah untuk memenuhinya bagi guru yang memiliki sertifikat pendidik?, Semuanya tergantung dari individu masing-masing.
Menurut Permen No. 11 Tahun 2011 Tentang serifikasi Bagi Guru dalam Jabatan Pasal 1 mengatakan “Sertifikasi bagi guru dalam jabatan selanjutnya disebut Sertifikasi adalah proses pemberian sertifikat pendidik kepada guru yang bertugas sebagai guru kelas, guru mata pelajaran, guru bimbingan dan konseling, dan guru yang diangkat dalam jabatan pengawas satuan pendidikan. “ Kunandar (2009-79) mengatakan “Sertifikasi profesi guru adalah proses untuk memberikan sertifikat kepada guru yang telah memenuhi standar kualifikasi dan standar kompetensi”.
Dari pendapat-pendapat di atas, maka disimpulkan bahwa sertifikasi adalah suatu proses pemberian sertifikat yang dilakukan oleh pemerintah ditujukan untuk guru baik itu guru kelas, guru mata pelajaran, guru bimbingan dan konseling dan guru yang diangkat sebagai pengawas dalam jabatan pengawas satuan pendidikan yang telah memenuhi standar kualifikasi dan standar kompetensi.
Sertifikat yang diberikan kepada guru tersebut sebagai suatu tanda bahwa guru tersebut sudah berkompeten, karena tujuan dari program pemerintah dalam sertifikasi profesi pendidik ini adalah untuk menentukan kelayakan guru dalam melaksanakan tugasnya dan peningkatan mutu serta profesionalisme, seperti yang diungkapkan oleh Kunandar (2009-79) bahwa “Sertifikasi guru bertujuan untuk (1) menentukan kelayakan guru dalam melaksanakan tugas sebagai agen pembelajaran dan mewujudkan tujuan pendidikan nasional; (2) peningkatan proses dan mutu hasil-hasil pendidikan; dan (3) peningkatan profesionalisme guru.”
Pendapat lain yaitu Abimanyu.S (2012) mengungkapkan bahwa:
“Sertifikasi guru bertujuan untuk: (1) menentukan kelayakan guru dalam melaksanakan tugas sebagai agen pembelajaran dan mewujudkan tujuan pendidikan nasional; (2) meningkatkan proses dan mutu hasil pendidikan; (3) meningkatkan martabat guru; dan (4) meningkatkan profesionalitas guru.”
Pada dasarnya pelaksanaan sertifikasi guru mempunyai banyak tujuan. Dari pendapat-pendapat di atas, maka disimpulkan bahwa tujuan utama sertifikasi guru:
a. Menentukan kelayakan guru sebagai agen pembelajaran.
Sebagai agen pembelajaran berarti guru menjadi pelaku dalam proses pembelajaran. Guru yang sudah menerima sertifikat pendidik dapat diartikan sudah layak menjadi agen pembelajaran.
b. Meningkatkan proses dan mutu pendidikan
Mutu pendidikan antara lain dapat dilihat dari mutu siswa sebagai basil proses pembelajaran. Mutu siswa ini di antaranya ditentukan dari kecerdasan, minat, dan usaha siswa yang bersangkutan. Guru yang bermutu dalam arti berkualitas dan profesional menentukan mutu siswa.
c. Meningkatkan martabat guru
Dari bekal pendidikan formal dan juga berbagai kegiatan guru yang antara lain ditunjukkan dari dokumentasi data yang dikumpulkan dalam proses sertifikasi maka guru akan mentransfer lebih banyak ilmu yang dimiliki kepada siswanya. Secara psikologis kondisi tersebut akan meningkatkan martabat guru yang bersangkutan.
d. Meningkatkan profesionalisme Guru yang profesional
Antara lain dapat ditentukan dari pendidikan, pelatihan, pengembangan diri, dan berbagai aktivitas lainnya yang terkait dengan profesinya. langkah awal untuk menjadi professional dapat ditempuh dengan mengikuti sertifikasi guru.

Remaja dan Lingkungannya



Berita di Koran menyatakan bahwa anak SMA gantung diri di loteng..... Pernah juga ada kejadian seorang wanita yang bugil di depan umum karena stress... Banyak kasus-kasus besar seperti bunuh diri, stress, Lari dari rumah, Minum-minuman keras, Narkoba dan lain-lain...yang semua itu mempunyai latar belakang masalah pribadi. Masalah pribadi yang tidak dapat diselesaikan sendiri sehingga timbul perbuatan negatif yang merugikan dirinya. Hal ini biasa ditemukan dalam masyarakat, dan sebagai konselor atau pendidik merasa bertanggung jawab atas kejadian ini. Merasa bersalah dan ikut prihatin dengan perkembangan remaja sekarang. Jangan langsung menyalahkan mereka, tapi mari kita lihat secara keseluruhan dari permasalahan yang ada....dan pada dasarnya, permasalahan itu terjadi karena faktor dirinya dan lingkungan.Dirnya yang tidak dapat menerima keadaan lingkungan sehingga timbul perbuatan negatif. Permasalahan ini dapat menjadi bekal bagi kita sebagai orang tua, pendidik, dan masyarakat...bahwa mempersiapkan diri anak untuk dapat menerima keadaan lingkungan adalah sangat penting. dan disinilah peran dan tugas KONSELOR. Peran konselor adalah memberikan bantuan dan bimbingan kepada individu agar dapat berkembang sesuai dengan tugas perkembangannya sehingga bisa menghadapi permasalahan yang dialaminya, baik untuk sekarang dan masa yang akan datang.

Minggu, 23 September 2012

LAYANAN BIMBINGAN DAN KONSELING TERHADAP KESULITAN BELAJAR SISWA

A. Pengertian dan Karakteristik Belajar

Banyak para ahli berpendapat tentang belajar. Dari sumber : http://id.shvoong.com/how-to/careers/2227734-pengertian-ciri-ciri-dan karakteristik/ #ixzz268hLOF1s memaparkan tentang pengertian belajar adalah:

1. Morgan berpendapat, belajar adalah setiap perubahan yang relatif menetap dalam tingkah laku yang terjadi sebagai suatu hasil dari latihan atau pengalaman (Purwanto, 2000: 84).

2. Chalidjah Hasan (1994:84) mendefinisikan belajar sebagai “suatu aktifitas mental/praktis, yang berlangsung dalam interaksi aktif dengan lingkungan yang menghasilkan perubahan-perubahan, keterampilan, dan nilai sikap.

3. Menurut Muhibbin Syah (2007:63), belajar adalah kegiatan yang berproses dan merupakan unsur yang sangat fundamental dalam setiap penyelenggaraan jenjang pendidikan. Hal ini berarti keberhasilan dan kegagalan dalam mencapai tujuan pendidikan tergantung pada proses belajar yang dialami soleh siswa. Belajar bukan hanya kegiatan mempelajari suatu mata pelajaran di sekolah secara formal, akan tetapi kecakapan, kebiasaan dan sikap manusia juga terbentuk karena belajar.

4. Para ahli modern merumuskan belajar sebagai bentuk pertumbuhan atau perubahan dalam diri seseorang yang dinyatakan dalam cara bertingkah laku yang baru berkat pengalaman dan latihan (Oemar Hamalik, 1983:21).

Selain dari pendapat di atas, sumber lain yang membahas tentang pengertian belajar http://joegolan.wordpress.com/2009/04/13/pengertian-belajar/ menguraikan bahwa :

1. Menurut james O. Whittaker (Djamarah, Syaiful Bahri , Psikologi Belajar; Rineka Cipta; 1999) Belajar adalah Proses dimana tingkah laku ditimbulkan atau diubah melalui latihan atau pengalaman.

2. Winkel, belajar adalah aktivitas mental atau psikis, yang berlangsung dalam interaksi aktif dengan lingkungan yang menghasilkan perubahan-perubahan dalam pengetahuan, pemahaman, ketrampilan, nilai dan sikap.

3. Cronchbach (Djamarah, Syaiful Bahri , Psikologi Belajar; Rineka Cipta; 1999)Belajar adalah suatu aktifitas yang ditunjukkan oleh perubahan tingkah laku sebagai hasil dari pengalaman.

4. Howard L. Kingskey (Djamarah, Syaiful Bahri, Psikologi Belajar; Rineka Cipta; 1999) Belajar adalah proses dimana tingkah laku ditimbulkan atau diubah melalui praktek atau latihan.

5. Drs. Slameto (Djamarah, Syaiful Bahri, Psikologi Belajar; Rineka Cipta; 1999) Belajar adalah suatu proses usaha yang dilakukan individu untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan, sebagai hasil pengalaman individu itu sendiri di dalam interaksi dengan lingkungannya.

6. (Djamarah, Syaiful Bahri, Psikologi Belajar; Rineka Cipta; 1999)
Belajar adalah serangkaian kegiatan jiwa raga untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku sebagai hasil dari pengalaman individu dalam interaksi dengan lingkungannya yang menyangkut kognitif, afektif dan psikomotor.

7. R. Gagne (Djamarah, Syaiful Bahri, Psikologi Belajar; Rineka Cipta; 1999) hal 22. Belajar adalah suatu proses untuk memperoleh motivasi dalam pengetahuan, ketrampilan, kebiasaan dan tingkah laku

8. Herbart (swiss) Belajar adalah suatu proses pengisian jiwa dengan pengetahuan dan pengalaman yang sebanyak-banyaknya dengan melalui hafalan.

9. Robert M. Gagne dalam buku: the conditioning of learning mengemukakan bahwa: Learning is change in human disposition or capacity, wich persists over a period time, and which is not simply ascribable to process a groeth. Belajar adalah perubahan yang terjadi dalam kemampuan manusia setelah belajar secara terus menerus, bukan hanya disebabkan karena proses pertumbuhan saja. Gagne berkeyakinan bahwa belajar dipengaruhi oleh faktor dari luar diri dan faktor dalm diri dan keduanya saling berinteraksi.

10. Lester D. Crow and Alice Crow (WWW. Google.com) Belajar adalah acuquisition of habits, knowledge and attitudes. Belajar adalah upaya-upaya untuk memperoleh kebiasaan-kebiasaan, pengetahuan dan sikap.

11. Ngalim Purwanto (1992) (WWW. Google.com) Belajar adalah setiap perubahan yang relatif menetap dalam tingkah laku, yang terjadi sebagi hasil dari suatu latihan atau pengalaman.

Berdasarkan definisi-definisi di atas, maka dapat disimpulkan bahwa belajar merupakan suatu proses perubahan tingkah laku yang bersifat kognitif, psikomotor maupun afektif yang terjadi melalui latihan atau pengalaman dan disebabkan oleh pertumbuhan atau kematangan serta dipengaruhi faktor lingkungan yang mengarah pada tingkah laku baik atau tingkah laku buruk
Jadi secara psikologis, belajar merupakan suatu proses perubahan tingkah laku yang terbentuk dari hasil interaksi seseorang dengan lingkungannya dalam memenuhi kebutuhan hidupnya. Perubahan-perubahan itu akan dinyatakan dalam seluruh aspek tingkah laku.

B. Pengertian Kesulitan Belajar
Dalam proses belajar, akan ditemui berbagai hal kemungkinan-kemungkinan yang positif dan negatif, karena belajar merupakan interaksi dari perkembangan diri individu dengan faktor lingkungan. Oleh sebab itu akan timbul suatu permasalahan yang harus dihadapi agar proses belajar tersebut menghasilkan tingkah laku yang baik.
Permasalahan yang ditemui dalam belajar adalah kesulitan belajar. Dimana individu merasa sulit untuk menjalani proses perubahan menuju ke arah positif. Suryaman B (2012) mengatakan bahwa:
Anak yang mengalami kesulitan belajar adalah anak yang memiliki ganguan satu atau lebih dari proses dasar yang mencakup pemahaman penggunaan bahasa lisan atau tulisan, gangguan tersebut mungkin menampakkan diri dalam bentuk kemampuan yang tidak sempurna dalam mendengarkan, berpikir, berbicara, membaca, menulis, mengeja atau menghitung. Kesulitan belajar siswa ditunjukkan oleh hambatan-hambatan tertentu untuk mencapai hasil belajar, dan dapat bersifat psikologis, sosiologis, maupun fisiologis, sehingga pada akhirnya dapat menyebabkan prestasi belajar yang dicapainya berada di bawah semestinya.
Menurut Sugihartono (2011), Kesulitan belajar dapat di lihat dari:

1. Gejala yang tampak pada peserta didik yang ditandai dengan prestasi belajar yang rendah atau dibawah kriteria yang telah ditetapkan atau kriteria minimal. Prestasi belajarnya lebih rendah dibandingkan prestasi teman-temannya, atau lebih rendah dibandingkan prestasi belajar sebelumnya.

2. Menunjukkan adanya jarak antara prestasi belajar yang diharapkan dengan presiasi yang dicapai

3. Prestasi belajar yang dicapai tidak sesuai dengan kapasitas inteligensinya. Kesulitan belajar peserta didik tidak selalu disebabkan oleh inteligensinya yang rendah

Kesulitan belajar merupakan suatu permasalahan yang umum ditemui oleh individu, terutama siswa di sekolah. Oleh sebab itu, perlu adanya pemahaman dalam mendiagnosa kesulitan belajar yang ada pada siswa di sekolah dalam rangka untuk membantu siswa mengatasi permasalahannya dalam kesulitan belajar.
Oleh sebab itu perlu diketahui jenis-jenis kesulitan belajar siswa di sekolah, Suryaman B. (2012) menjelaskan bahwa kesulitan belajar siswa diantaranya yaitu:

1. Learning Disorder atau kekacauan belajar adalah keadaan dimana proses belajar seseorang terganggu karena timbulnya respons yang bertentangan. Pada dasarnya, yang mengalami kekacauan belajar, potensi dasarnya tidak dirugikan, akan tetapi belajarnya terganggu atau terhambat oleh adanya respons-respons yang bertentangan, sehingga hasil belajar yang dicapainya lebih rendah dari potensi yang dimilikinya. Contoh : siswa yang sudah terbiasa dengan olah raga keras seperti karate, tinju dan sejenisnya, mungkin akan mengalami kesulitan dalam belajar menari yang menuntut gerakan lemah-gemulai.

2. Learning Disfunction merupakan gejala dimana proses belajar yang dilakukan siswa tidak berfungsi dengan baik, meskipun sebenarnya siswa tersebut tidak menunjukkan adanya subnormalitas mental, gangguan alat dria, atau gangguan psikologis lainnya. Contoh : siswa yang memiliki postur tubuh yang tinggi atletis dan sangat cocok menjadi atlet bola volley, namun karena tidak pernah dilatih bermain bola volley, maka dia tidak dapat menguasai permainan volley dengan baik.

3. Under Achiever mengacu kepada siswa yang sesungguhnya memiliki tingkat potensi intelektual yang tergolong di atas normal, tetapi prestasi belajarnya tergolong rendah. Contoh : siswa yang telah dites kecerdasannya dan menunjukkan tingkat kecerdasan tergolong sangat unggul (IQ = 130 – 140), namun prestasi belajarnya biasa-biasa saja atau malah sangat rendah.

4. Slow Learner atau lambat belajar adalah siswa yang lambat dalam proses belajar, sehingga ia membutuhkan waktu yang lebih lama dibandingkan sekelompok siswa lain yang memiliki taraf potensi intelektual yang sama.

5. Learning Disabilities atau ketidakmampuan belajar mengacu pada gejala dimana siswa tidak mampu belajar atau menghindari belajar, sehingga hasil belajar di bawah potensi intelektualnya.

C. Kedudukan Diagnosis Kesulitan Belajar dalam Hakekat Bimbingan dan Konseling

Diagnosis kesulitan belajar dalam bimbingan dan konseling merupakan salah satu tugas dan tanggung jawab konselor terhadap semua siswa di sekolah. Untuk membuktikan bahwa bimbingan dan konseling turut berperan serta dalam diagnosis kesulitan belajar, salah satu bidang bimbingan dalam layanan BK adalah bidang bimbingan belajar.

Bimbingan belajar merupakan salah satu bentuk layanan bimbingan yang penting diselenggarakan di sekolah. Pengalaman menunjukkan bahwa kegagalan-kegagalan yang dialami siswa dalam belajar tidak selalu disebabkan oleh kebodohan atau rendahnya inteligensi. Sering kegagalan itu terjadi disebabkan mereka tidak mendapat layanan bimbingan yang memadai.

Prayitno dan Erman (2004) mengatakan bahwa: “layanan bimbingan belajar dilaksanakan melalui tahap-tahap : (1) pengenalan siswa yang mengalami masalah belajar, (2) pengungkapan sebab-sebab timbulnya masalah belajar, dan (3) pemberian bantuan pengentasan masalah belajar.”

Pengenalan Siswa yang Mengalami Masalah Belajar Di sekolah, di samping banyaknya siswa yang berhasil secara gemilang dalam belajar, sering pula dijumpai adanya siswa yang gagal, seperti angka-angka rapor rendah, tidak naik kelas, tidak lulus ujian akhir, dan sebagainya. Secara umum, siswa-siswa yang seperti itu dapat dipandang sebagai siswa-siswa yang mengalami masalah belajar.

Pengungkapan sebab-sebab timbulnya masalah belajar dapat dilakukan dengan menggunakan berbagai macam alat atau instrumen yang bisa mengungkap masalah tersebut, yaitu dengan:

1. Tes Hasil Belajar

2. Tes Kemampuan Dasar

3. Skala Sikap dan Kebiasaan Belajar

4. Test Diagnostik

5. Analisis Hasil Belajar atau Karya

Upaya membantu siswa yang mengalami kesulitan dalam belajar adalah dengan memberikan layanan Bimbingan dan konseling, yaitu dengan konseling individu, konseling kelompok atau dengan Bimbingan kelompok.

Siswa yang mengalami kesulitan dalam belajar perlu mendapatkan bantuan agar masalahnya tidak berlarut-larut yang nantinya dapat mempengaruhi proses perkembangan siswa. Oleh sebab itu, upaya yang dilakukan konselor dalam layanan bimbingan konseling adalah dengan pengajaran perbaikan, kegiatan pengayaan, peningkatan motivasi belajar dan pengembangan sikap dan kebiasaan belajar yang efektif. Upaya ini diberikan sesuai dengan latar belakang kesulitan belajar siswa.

D. Pengajaran Remedial Sebagai Layanan Bimbingan dan Konseling

Pengajaran remedial adalah pengajaran ulang yang dilakukan guru kepada siswa yang mengalami kesulitan belajar. pembelajaran remedial adalah pembelajaran yang bersifat menyembuhkan sehingga menjadi baik atau sembuh dari masalah pembelajaran yang dirasa sulit. Natawija (1983) berpendapat bahwa: “ Dilihat dari arti katanya remedial berarti bersifat menyembuhkan/ membetulkan atau membuat menjadi baik.”

Pada pembelajaran remedial kegiatan perbaikan bertujuan memberikan bantuan baik yang berupa perlakuan pengajaran maupun yang berupa bimbingan dalam mengatasi kesulitan belajar yang dihadapi siswa yang mungkin disebabkan oleh faktor internal maupun eksternal. Secara operasional kegiatan perbaikan yang dilaksanakan guru terhadap siswa yang mengalami kesulitan belajar bertujuan untuk memberikan bantuan yang berupa perlakuan pengajaran kepada siswa yang lamban, sulit, gagal belajar, agar mereka secara tuntas dapat menguasai bahan pelajaran yang diberikan.

Fungsi pembelajaran remedial dalam proses belajar mengajar di sekolah adalah sebagai penunjang terlaksananya kegiatan belajar siswa ke arah yang lebih baik. Untuk itu sangat perlu siswa diberikan bantuan serta bimbingan dalam mengatasi kesulitan belajarnya. Dengan jalan ini kita menggunakan suatu bentuk pengajaran mengatasi kekeliruan-kekeliruan yang menjadi penyebab kesulitan belajar sehingga ia dapat memahami kembali konsep-konsep pelajaran yang pernah didapatkannya.

Dalam layanan bimbingan dan konseling, konselor berupaya untuk memberikan bantuan menemukan semangat baru dalam belajar. Dengan motifasi yang didapat, siswa yang mengalami kesulitan belajar akan merasa mudah dalam menjalani pembelajaran remedial yang diberikan guru.

Pengajaran remedial yang diberikan kepada siswa sifatnya lebih khusus lagi, oleh sebab itu tidak mudah bagi guru untuk melakukannya, karena dalam pelaksanaan pengajaran remedial, guru dan konselor harus memperhatikan latar belakang masalah kesulitan belajar siswa. Prayitno dan Erman (2004) mengatakan bahwa “ Kalau di dalam kelas biasanya unsur emosional dapat dikurangi sedemikian rupa, maka siswa yang sedang menghadapi masalah belajar justru sebaliknya. Ia (mereka) mungkin dihinggapi oleh berbagai perasaan – takut, cemas, tidak tentram, bingung, bimbang dan sebagainya. Dalam hal ini adalah amat penting bagi guru dan konselor memahami perasaan-perasaan siswa yang seperti ini.”


Proses pengajaran remedial dapat terlaksana dengan optimal, jika dilakukan melalui kerjasama antara konselor dan guru. Melalui pelaksanaan layanan bimbingan belajar, konselor menemukan latar belakang masalah kesulitan belajar siswa, dari latar belakang ini, guru mencari metode yang tepat untuk siswa agar dapat melaksanakan pengajaran dan siswa akan menjadi lebih mudah memahami pelajaran tersebut.