Google+ Followers

Senin, 29 November 2010

Tips Menghindari Seks Bebas Untuk Remaja Masa Kini


Hubungan sex diluar nikah membawa cukup banyak dampak negatif bagi diri pelaku maupun lingkungan sekitar. Mulai dari kemungkinan tertular penyakit, hingga kehamilan diluar nikah. Hal ini juga menyebabkan / berdampak pula pada tingginya tingkat aborsi. Padahal perbuatan aborsi, juga memiliki resiko yang sangat tinggi terhadap keselamatan dari perempuan itu sendiri.

Berikut resiko dan bahaya yang sering terjadi jika melakukan aborsi khususnya para remaja:

1. Kematian karena terlalu banyak pendarahan
2. Kematian mendadak karena pembiusan yang gagal
3. Kematian secara lambat akibat infeksi serius disekitar kandungan.
4. Sobeknya rahim
5. Kerusakan leher rahim (Cervical Lacerations) yang akan menyebabkan cacat pada anak berikutnya.
6. Kanker payudara (karena ketidakseimbangan hormon estrogen pada wanita)
7. Kanker indung telur (Ovarian Cancer)
8. Kanker leher rahim (Cervical Cancer)
9. Kanker hati (Liver Cancer)
10. Kelainan pada placenta/ari-ari (Placenta Previa) yang akan menyebabkan cacat pada anak berikutnya dan pendarahan hebat pada saat kehamilan berikutnya.
11. Infeksi rongga panggul (Pelvic Inflammatory Disease)
12. Menjadi mandul/tidak mampu memiliki keturunan lagi (Ectopic Pregnancy)
13. Infeksi pada lapisan rahim (Endometriosis)
14. Infeksi alat reproduksi karena melakukan kuretase (secara medis) yang dilakukan secara tak steril. Hal ini membuat remaja mengalami kemandulan dikemudian hari setelah menikah.
15. Pendarahan sehingga remaja dapat mengalami shock akibat pendarahan dan gangguan neurologist. Selain itu pendarahan juga dapat mengakibatkan kematian ibu maupun anak atau keduanya.
16. Resiko terjadinya reptur uterus atau robeknya rahim lebih besar dan menipisnya dinding rahim akibat kuretase. Kemandulan oleh karena robeknya rahim, resiko infeksi, resiko shock sampai resiko kematian ibu dan anak yang dikandungnya.
17. Terjadinya fistula genital traumatis adalah suatu saluran atau hubungan antara genital dan saluran kencing atau saluran pencernaan yang secara normal tidak ada.

Minggu, 03 Oktober 2010

MENGATASI KERAGUAN DIRI DALAM BERGAUL

Dalam bergaul kita sering merasa ragu-ragu ,cemas, dan rasa takut lainnya. Ada beberapa hal yang menjadi penyebab munculnya keraguan terhadap diri sendiri yaitu :
1. Keraguan diri yang berakar dari harga diri yang tinggi rendahnya ditentukan oleh apa yang diharapkan dengan apa yang sudah dilakukan. Semakin tinggi jarak antara harapan dan kenyataan. Maka semakin rendah harga dirinya.
2. Keraguan diri berakar dari mimpi dan visi tanpa aksi ,sehingga orang yang terlalu banyak mimpi tentang kondisi ideal tanpa berusaha untuk mewujudkannya akan berakibat harga diri yang semakin rendah.
3. Besar pasak dari pada tiang adalah prinsip ekonomi yang merugikan. Dalam konsep diri, kerugian timbul karena pendapatan(apa yang diharapkan)lebi kecil dari biaya (pengorbanan yang dilakukan)

Ada beberapa hal yang dapat dilakukan untuk mengatasi keraguan diri,diantaranya adalah:
• Memupuk Integritas
Integritas adalah kemampuan untuk menyelaraskan antara perilaku dengan nilai, antara apa yang dikatakan dengan apa yang dilakukan
• Melatih Kematangan
Kematangan adalah keseimbangan antara keberanian dan pertimbangan. Jika seseorang dapat mengekspresikan perasaan dan keyakinannya dengan keberanian dan diimbangi dengan pertimbangan akan perasaan dan keyakinan orang lain, maka ia disebut orang yang sudah matang.
• Menguasai Kompetensi
Kompetensi bersinonim dengan kecakapan ,kemampuan, penguasaan kompetensi dapat mengatasi keraguan diri.
• Melatih Kebiasaan
Kebiasaan berhubungan dengan rutinitas . setiap kebiasaan akan menjadi rutinitas , akan tetapi rutinitas belum tentu menjadi kebiasaan . kebiasaan dipengaruhi oleh tiga factor yaitu :
1. Pengetahuan yaitu paradigma teoritis, apa yang harus dilakukan dan mengapa.
2. Keterampilan yaitu bagaimana melakukannya
3. Motivasi yaitu keinginan untuk melakukannya.

Kegiatan dibawah ini diharapkan dapat membantu anda dalam memahami sumber-sumber keraguandiri dan cara mengatasinya.
1. pernahkah anda merasakan keraguan diri dalam bergauldengan teman sebaya dan teman di sekolah . cobalah tuliskan pengalaman-pengalaman tersebut :
a) disekolah:
………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………
b) dengan teman sebaya :
……………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………...
2. Dari perasaan ragu yang anda alami , apakah yang menjadi penyebab utamanya?..................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................
3. Berdasarkan pengalaman anda, bagaimanakah cara mengatasi keraguan diri tersebut?..................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................
4. Kerugian apakah yang pernah anda alami akibat perasaan keraguan diri ?.....................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................

Selasa, 28 September 2010

MENGETAHUI BAGAIMANA DAN MENGGUNAKAN WAKTU SECARA EFEKTIF


Tips Mengatur Waktu Yang Efektif dan Efesien :
1. Perhatikan kapan waktu luang yang dimiliki
2. Perhatikan kondisi kita yang paling fit untuk belaajr
3. Buatlah kadwal untuk mengatur waktu belajar dan juga aktivitas yang akan dilakukan
4. Jagalah motovasi belajar dengan cara membuat target
5. Perhatikan kondisi tubuh
6. Saat belajar tidak selalu harus melakukan tugas,buatlah waktu untuk membaca materi pelajaran dua kali.
7. Setelah melakukan semua kegiatan, maka sisakan waktu 5 menit untuk mengevaluasi kegiatan anda.

Jumat, 27 Agustus 2010

SAAT KESEPIAN MELANDA

Manusia dikatakan sebagai mahluk sosial yang tidak bisa hidup tanpa manusia lainnya. Namun, tidak sedikit dari manusia yang merasakan kesepian karena berbagai alasan. Saat manusia merasa kesepian, manusia dikatakan tidak ‘berfungsi’ dengan baik. Bahkan kita juga dapat sakit karena kesepian. Tidak hanya sakit secara mental, tapi juga sakit secara fisik. Meningkatnya tekanan darah, masalah dengan arteri, gangguan tidur, mudah stress, menurunkan kemampuan belajar dan kapasitas memori, bahkan kesepian juga dikatakan dapat meningkatkan kecendrungan untuk bunuh diri.
Pada anak-anak, kesepian dapat mengakibatkan berbagai masalah. Banyaknya anak usia sekolah yang keluar dari sekolah dikatakan besar pengaruhnya karena kegagalan anak untuk berinteraksi dengan lingkungan sosialnya. Gagal beinteraksi tentu akan membuat anak mempertanyakan dirinya sendiri, apa yang salah dengan dirinya? Membuat jarak dengan orang lain dan tentu kesepian. Lebih lanjut dijelaskan bahwa dengan perasaan sebagai ‘orang luar’ pada diri anak, anak dapat berperilaku tidak bertanggung jawab atau perilaku anti sosial lainnya yang dapat membahayakan dirinya sendiri maupun orang lain. Sedangkan untuk individu dewasa, kesepian merupakan penyebab utama depresi dan kecanduan alkohol. Dengan kata lain, kesepian juga menimbulkan berbagai masalah kepada individu. Namun kesepian akan lebih mudah dirasakan oleh wanita dibanding laki-laki.
Terbatasnya teman dekat serta kelangkaan kontak sosial dikatakan sebagai penyebab munculnya kesepian. Namun demikian, mencari teman saat kesepian pun bukan perkara mudah, karena saat kesepian, individu cenderung akan bereaksi negatif atas keadaan disekitarnya. Perasaan negatif tersebut juga akan mempengaruhi cara individu berinteraksi dengan orang lain. Di kehidupan sehari-hari, saat merasa kesepian, individu menjadi lebih cepat marah, berprasangka buruk, sensitive dan besar kemungkinan melebih-lebihkan segala sesuatu.
Lalu bagaimana cara untuk mengatasi kesepian. Sebuah penelitian yang dilakukan dibeberapa negara didunia menemukan bahwa terdapat beberapa faktor yang akan membantu mengurangi perasaan kesepian. Secara garis besar cara yang banyak digunakan adalah:
1. Menerima perasaan kesepian tersebut: Dengan tidak menyangkal rasa sepi yang melanda, individu diharapkan mampu berpikir positif dan mencari jalan keluar yang tidak merugikan dirinya sendiri dan orang lain. Menyangkal rasa sepi bisa mengakibatkan individu mengatasi dengan cara kedua, yaitu:
2. Berpaling pada minum-minuman keras dan zat berbahaya lainnya.
3. Mencari bantuan professional: bergabung dengan komunitas atau orang-orang yang juga kesepian atau berkonsultasi dengan psikolog
4. Mencoba menjalin kembali hubungan dengan koneksi sosial yang pernah dimiliki
5. Meningkatkan keaktifan dengan berbagai cara: menenggelamkan diri dalam pekerjaan, organisasi sosial, dll.
6. Mendekatkan diri ke faktor religiusitas dan kepercayaan.
Namun, penggunaan keenam cara mengatasi kesepian ternyata juga dipengaruhi oleh budaya. Sebagai contoh, individu dikawasan Amerika Utara, yang budaya nya mengedepankan individualistic (dimana tingkat kompetitif yang tinggi dan mengedepankan keberhasilan setiap individu sebagai hal utama) maka cara yang dianggap paling membantu adalah dengan menerima perasaan kesepian dan mencoba mencari bantuan dari pihak professional atau psikolog. Tidak hanya itu, penggunaan minum-minuman keras dan zat berbahaya lainnya sebagai cara untuk mengatasi kesepian juga paling banyak ditemukan di kawasan Amerika Utara dibanding kawasan lainnya diseluruh dunia. Menurut penulis hal tersebut juga dipengaruhi oleh sulitnya mencari dukungan sosial, dengan rasa individualism yang tinggi, individu akan cenderung untuk memikirkan dirinya sendiri dan seakan-akan melupakan orang lain. Pada tahap tertentu, individu justru berpendapat lebih mudah melarikan diri ke minum-minuman keras karena sulitnya mencari dukungan sosial.
Untuk Negara yang kultur budayanya cukup dekat dengan agama dan kepercayaan (seperti kawasan Asia Tenggara dan Amerika Selatan) maka penggunaan metode mendekatkan diri ke faktor religiusitas lebih banyak digunakan. Jika dibandingkan, metode pendekatan diri ke faktor religiusitas lebih banyak digunakan oleh wanita dibanding pria.
Namun secara garis besar, wanita di kawasan Amerika Utara dan Asia Tenggara, lebih banyak menggunakan cara menerima perasaan kesepian. Untuk kaum pria, mereka lebih banyak menggunakan cara meningkatkan keaktifan dengan berbagai cara. Hal tersebut dikatakan karena pria lebih terkait baik dengan pekerjaan maupun aktivitas saat santai dibanding wanita.
Kesepian merupakan satu dari berbagai perasaan yang tidak ingin dimiliki oleh individu. Namun demikian, ada saatnya dimana kita tidak bisa terlepas perasaan tersebut. Oleh karena itu, kenalilah diri anda dan, meskipun sulit, usahakan sebaik mungkin untuk menghindari kesepian. Jika memang pada akhirnya perasaan tersebut tidak bisa terhindar, segera temukan cara yang anda rasa paling tepat mengatasi kesepian anda.
Nova JoNo Ariyanto

SAAT KESEPIAN MELANDA

Manusia dikatakan sebagai mahluk sosial yang tidak bisa hidup tanpa manusia lainnya. Namun, tidak sedikit dari manusia yang merasakan kesepian karena berbagai alasan. Saat manusia merasa kesepian, manusia dikatakan tidak ‘berfungsi’ dengan baik. Bahkan kita juga dapat sakit karena kesepian. Tidak hanya sakit secara mental, tapi juga sakit secara fisik. Meningkatnya tekanan darah, masalah dengan arteri, gangguan tidur, mudah stress, menurunkan kemampuan belajar dan kapasitas memori, bahkan kesepian juga dikatakan dapat meningkatkan kecendrungan untuk bunuh diri.
Pada anak-anak, kesepian dapat mengakibatkan berbagai masalah. Banyaknya anak usia sekolah yang keluar dari sekolah dikatakan besar pengaruhnya karena kegagalan anak untuk berinteraksi dengan lingkungan sosialnya. Gagal beinteraksi tentu akan membuat anak mempertanyakan dirinya sendiri, apa yang salah dengan dirinya? Membuat jarak dengan orang lain dan tentu kesepian. Lebih lanjut dijelaskan bahwa dengan perasaan sebagai ‘orang luar’ pada diri anak, anak dapat berperilaku tidak bertanggung jawab atau perilaku anti sosial lainnya yang dapat membahayakan dirinya sendiri maupun orang lain. Sedangkan untuk individu dewasa, kesepian merupakan penyebab utama depresi dan kecanduan alkohol. Dengan kata lain, kesepian juga menimbulkan berbagai masalah kepada individu. Namun kesepian akan lebih mudah dirasakan oleh wanita dibanding laki-laki.
Terbatasnya teman dekat serta kelangkaan kontak sosial dikatakan sebagai penyebab munculnya kesepian. Namun demikian, mencari teman saat kesepian pun bukan perkara mudah, karena saat kesepian, individu cenderung akan bereaksi negatif atas keadaan disekitarnya. Perasaan negatif tersebut juga akan mempengaruhi cara individu berinteraksi dengan orang lain. Di kehidupan sehari-hari, saat merasa kesepian, individu menjadi lebih cepat marah, berprasangka buruk, sensitive dan besar kemungkinan melebih-lebihkan segala sesuatu.
Lalu bagaimana cara untuk mengatasi kesepian. Sebuah penelitian yang dilakukan dibeberapa negara didunia menemukan bahwa terdapat beberapa faktor yang akan membantu mengurangi perasaan kesepian. Secara garis besar cara yang banyak digunakan adalah:
1. Menerima perasaan kesepian tersebut: Dengan tidak menyangkal rasa sepi yang melanda, individu diharapkan mampu berpikir positif dan mencari jalan keluar yang tidak merugikan dirinya sendiri dan orang lain. Menyangkal rasa sepi bisa mengakibatkan individu mengatasi dengan cara kedua, yaitu:
2. Berpaling pada minum-minuman keras dan zat berbahaya lainnya.
3. Mencari bantuan professional: bergabung dengan komunitas atau orang-orang yang juga kesepian atau berkonsultasi dengan psikolog
4. Mencoba menjalin kembali hubungan dengan koneksi sosial yang pernah dimiliki
5. Meningkatkan keaktifan dengan berbagai cara: menenggelamkan diri dalam pekerjaan, organisasi sosial, dll.
6. Mendekatkan diri ke faktor religiusitas dan kepercayaan.
Namun, penggunaan keenam cara mengatasi kesepian ternyata juga dipengaruhi oleh budaya. Sebagai contoh, individu dikawasan Amerika Utara, yang budaya nya mengedepankan individualistic (dimana tingkat kompetitif yang tinggi dan mengedepankan keberhasilan setiap individu sebagai hal utama) maka cara yang dianggap paling membantu adalah dengan menerima perasaan kesepian dan mencoba mencari bantuan dari pihak professional atau psikolog. Tidak hanya itu, penggunaan minum-minuman keras dan zat berbahaya lainnya sebagai cara untuk mengatasi kesepian juga paling banyak ditemukan di kawasan Amerika Utara dibanding kawasan lainnya diseluruh dunia. Menurut penulis hal tersebut juga dipengaruhi oleh sulitnya mencari dukungan sosial, dengan rasa individualism yang tinggi, individu akan cenderung untuk memikirkan dirinya sendiri dan seakan-akan melupakan orang lain. Pada tahap tertentu, individu justru berpendapat lebih mudah melarikan diri ke minum-minuman keras karena sulitnya mencari dukungan sosial.
Untuk Negara yang kultur budayanya cukup dekat dengan agama dan kepercayaan (seperti kawasan Asia Tenggara dan Amerika Selatan) maka penggunaan metode mendekatkan diri ke faktor religiusitas lebih banyak digunakan. Jika dibandingkan, metode pendekatan diri ke faktor religiusitas lebih banyak digunakan oleh wanita dibanding pria.
Namun secara garis besar, wanita di kawasan Amerika Utara dan Asia Tenggara, lebih banyak menggunakan cara menerima perasaan kesepian. Untuk kaum pria, mereka lebih banyak menggunakan cara meningkatkan keaktifan dengan berbagai cara. Hal tersebut dikatakan karena pria lebih terkait baik dengan pekerjaan maupun aktivitas saat santai dibanding wanita.
Kesepian merupakan satu dari berbagai perasaan yang tidak ingin dimiliki oleh individu. Namun demikian, ada saatnya dimana kita tidak bisa terlepas perasaan tersebut. Oleh karena itu, kenalilah diri anda dan, meskipun sulit, usahakan sebaik mungkin untuk menghindari kesepian. Jika memang pada akhirnya perasaan tersebut tidak bisa terhindar, segera temukan cara yang anda rasa paling tepat mengatasi kesepian anda.
Nova JoNo Ariyanto

Senin, 23 Agustus 2010

Putus cinta bukan akhir dunia

Hampir semua dari kita pernah merasakan jatuh cinta. Hampir semua dari kita pula mungkin pernah merasakan sakit hati karena putus cinta atau cinta tidak berbalas. Banyak pertanyaan di fanpage ruangpsikologi menanyakan bagaimana mengobati sakit hati karena putus cinta. Gagal dalam cinta tentu saja mempengaruhi kehidupan sehari-hari, bahkan beberapa penelitian menyebutkan bahwa putus cinta dapat merusak fungsi individu dalam kehidupan sosial. Untuk para remaja, sakit hati merupakan penyebab utama untuk melakukan tindakan bunuh diri.
Sakit hati karena putus cinta tentu saja dirasakan oleh pria dan wanita. Wanita, lebih dikenal karena dikatakan lebih emosional dibanding laki-laki. Selain fakta bahwa laki-laki cenderung lebih mudah menyukai seseorang, perlu diketahui juga laki-laki lebih kesulitan untuk mengobati sakit hati karena putus cinta dibanding wanita.
Sakit hati karena putus cinta, diperkirakan dipengaruhi oleh beberapa faktor, diantaranya adalah 1) kedekatan sebuah hubungan; 2) lamanya sebuah hubungan: hasil penelitian menunjukkan tingkat stress lebih rendah dimiliki oleh individu yang baru beberapa minggu menjalin hubungan; dan 3) ‘kemudahan’ ketika mencari pasangan pengganti. Namun, tampaknya alasan dibalik putus cinta juga mempengaruhi, karena hasil penelitian menunjukkan bahwa individu yang ‘diputuskan’ secara mendadak dikatakan memiliki tingkat sakit hati yang lebih tinggi dibanding individu yang tidak mengalami hal serupa. Bahkan, individu yang putus cinta karena dikhianati dikatakan memiliki tingkat sakit hati hampir menyamai tingkat sakit secara fisik.
Alasan setiap pasangan berbeda ketika memutuskan untuk tidak melanjutkan hubungan, Mengatasi sakit hati karena hal tersebut bukanlah sebuah hal yang mudah. Beberapa hal yang bisa dilakukan antara lain adalah:
Sharing atau berbagi. Berbagi atau mencurahkan isi hati dikatakan mampu meringankan beban yang dirasakan karena berbagi mampu membantu otak melepaskan opiods atau zat yang meringankan stress. Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya bahwa pria lebih sulit melupakan sakit hati karena putus cinta, hal tersebut mungkin berkaitan dengan fakta bahwa wanita lebih mudah berbagi dibanding pria.
Berolah raga. Selain berbagi, opioids juga bisa dilepaskan otak melalui aktivitas berolahraga.
Relaksasi atau meditasi. Bentuk dari relaksasi dan meditasi yang bisa dilakukan pun bermacam-macam, seperti menarik nafas panjang, yoga atau bahkan menulis jurnal. Seperti yang dijelaskan pada artikel ‘Menulislah dan jangan bunuh diri’ menulis mampu mengurangi tingkat stress yang dirasakan.
Berkaitan dengan relaksasi dan berolahraga, langkah lain yang bisa dilakukan adalah tidur. Sulit tidur dan depresi merupakan hal-hal yang dapat muncul ketika seorang individu sedang merasakan patah hati. Merupakan hal yang sulit bagi individu untuk dapat tidur, oleh karena itu relaksasi, meditasi, dan olahraga dapat membantu untuk tidur. Namun perlu diingat bahwa terlalu banyak tidur juga dialami oleh beberapa individu yang patah hati, maka batasi lah jumlah tidur, 6-8 jam perhari.
Hal lain yang dikatakan membantu adalah dengan membayangkan melakukan dialog dengan pasangan. Bentuk dialognya lebih kearah mencurahkan isi hati, curahan isi hati pun dapat berupa cercaan atas beberapa sifat buruk yang dimiliki pasangan, atau bahkan pujian atas apa yang telah dilakukan pasangan. Mampu mengontrol dan memproses perasaan dikatakan sebagai salah satu cara untuk mengurangi efek negatif patah hati.
Hal-hal diatas dapat membantu proses penyembuhan karena gagal dalam cinta. Namun seperti yang sering kita dengar, dan didukung oleh survey sebuah penelitian, dua hal yang paling membantu patah hati adalah waktu dan kemudahan dalam mencari pasangan pengganti. Untuk waktu, penelitian menunjukkan bahwa dua bulan pertama merupakan waktu yang paling berat setelah patah hati untuk sebagian besar individu, namun dikatakan pula setelah itu sakit hati dapat berkurang sedikit demi sedikit. Sedangkan untuk pasangan baru, semakin mudah menemukan pengganti maka sakit hati yang dirasakan dapat berkurang.
Nova ‘JoNo’ Ariyanto
Sumber:
Field, F., Diego, M., Pelaez, M., Deeds, O., & Delgado, J. 2009. Breakup distress in university students. Adolescence; Winter 2009; 44, 176; ProQuest Social Science Journals pg. 705

Rabu, 21 Juli 2010

VISI DAN MISI BIMBINGAN KONSELING SMA NEGERI 6 PONTIANAK

1. Visi :Terwujudnya perkembangan diri dan kemandirian secara
optimal dengan hakekat kemanusiaannya sebagai hamba Tuhan
YME, sebagai
mahluk individu, dan mahluk social dalam berhubungan
dengan manusia dan alam semesta
2. Misi : Menunjang perkembangan diri dan kemandirian siswa
untuk dapat
menjalani kehidupannya sehari-hari sebagai siswa
secara efektif,
kreatif dan dinamis serta memiliki kecakapan hidup untuk
masa depan karir dalam :

a. Beriman dan bertaqwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa
b. Pemahaman perkembangan diri dan lingkungan
c. Pengarahan diri kearah dimensi spiritual
d. Pengambilan keputusan berdasarkan IQ, EQ dan SQ.
e. Pengaktualisasian diri secara optimal.

Selasa, 18 Mei 2010

SOPAN SANTUN
Sopan santun adalah sikap prilaku seseorang yang merupakan kebiasan yang disepakati dan diterima dalam lingkungan peergaulan. Bagi siswa, sopan santun merupakan perwujudan budi perkerti luhur yang diperoleh melalui pendidikan dan latihan dari berbagai orang dalam kedudukannya masing-masing, seperti orang tua, dan guru, para pemuka masyarakat dan agama, dan tulisan-tulisan atau hasil karya para bijak (cerdik pandai) yang merupakan bagian dari ajaran moral.
Siswa sebagai insan pribadi, insan pendidikan, insan pembangunan nasional baik secara pribadi (individu) maupun secara kelompok sebagai mahluk social yang hidup dalam lingkungan social, harus dapat mewujudkan sikap dan prilaku yang dapat mencerminkan norma nilai sopan santun yang dimilikinya sesuai dengan kondisi dan situasi secara pribadi (individu) maupun secara kelompok.
Siswa sebagai pribadi (individu) terlepas dalam hubungannya dengan pribadi lainnya atau kelompok harus dapat mewujudkan sikap dan prilaku sehari-hari sesuai norma nilai sopan sanntun sebagai pencerminan kepribadian dan budi perkerti luhur. Perwujudan sikap dan prilaku sehari-hari siswa sebagai pribadi yang mencerminkan pribadi dan budi pekerti luhur harus di wujudkan dalam:
1. Sikap berbicara
2. Sikap duduk
3. Sikap berdiri
4. Sikap berjalan
5. Sikap berpakaian
6. Sikap makan dan minum
7. Sikap pergaulan
8. Sikap penghormatan
9. Sikap menggunakan fasilitas umum
Siswa sebagai insan dalam kodratnya sebagai makhluk social yang memiliki norma nilai sopan santun, berkepribadian dan berbudi pekerti luhur harus dapat mewujudkan sikap dan perilaku kelompok sehari-hari sesuai norma nilai sopan santun di lingkungan sosialnya di sekolah, di keluarga, dan di masyarakat sebagai berikut:
1. Di sekolah
Siswa sebagai angggota masyarakat sekolah dituntut untuk mencerminkan sikap dan prilaku yang berlaku di sekolahnya antara lain:
a. Sikap memasuki ruang kelas, ruang guru, tata usaha, dan ruang bimbingan dan konseling.
b. Sikap duduk di kelas
c. Sikap teerhadap kepala sekolah, guru, dan staf tata usaha.
d. Sikap terhadap sesame teman.
e. Sikap berpakaian seragam sekolah
f. Sikap saat mengikuti upacara sekolah
g. Sikap dilapangan dan sebagainya.
2. Di keluarga
Siswa sebagai anggota keluarga di tuntut untuk mencerminkan sikap dan prilaku sesuai dengan norma dan kebiasaan yang berlaku dalam keluarganya antara lain:
a. Sikap memasuki rumah
b. Sikap terhadap orang tua dan anggota keluarga yang lebih tua
c. Sikap terhadap saudara-saudara
d. Sikap makan dan minum
e. Sikap menerima telpon
f. Sikap berpakaian
3. Di masyarakat
Siswa sebagai anggota masyarakat di tuntut untuk mencerminkan sikap dan prilaku sesuai dengan norma dan nilai yang berlaku dalam masyarakatnya antara lain:
a. Sikap terhadap orang yang lebih tua, tokoh masyarakat.
b. Sikap terhadap sesama teman
c. Sikap perkenalan
d. Sikap berteman
e. Sikap mengikuti rapat
f. Sikap mengikuti ceramah
g. Sikap pada jamuan makan/pesta
h. Sikap pada waktu beerpergian
i. Sikap mengunjungi orang sakit

Perwujudan barbagai sikap dan prilaku siswa yang dapat mencerminkan norma nilai sopan santun dapat terbentuk melalui pendidikan dan latihan, sehingga terwujud dalam bentuk sikap dan prilaku yang selaras dan serasi dengan kodrat, tempat, waktu, dan kondisi lingkungan di mana siswa berada sehari-hari.

Permasalahan dan sumber penyebab
Banyak keluhan yang di kemukakan para orang tua, tenaga pendidikan dan masyarakat mengenai sikap dan prilaku siswa yang menyimpang ataupun tidak sesuai dengan norma/ nilai sopan santun, misalnya pergi atau masuk rumah tidak pamit pada orang tuan rumah atau mengetuk pintu, di sekolah duduk di kelas seenaknya atau memasuki rumah orang (bertamu) tanpa mengetuk pintu, serta banyak lagi contoh yang di temukan dalam kehidupan siswa.
Siswa hidup dalam lingkungan keluarga, sekolah dan masyarakat jika berprilaku menyimpang atau tidak sesuai dengan norma sopan santun \, tidak dapat diletakkan kesalahan pada satu pihak saja. Harus di tinjau dari dimensi orang tua yaitu bagaimana pola asuh keluarga dan penanaman nilai-nilai keagamaan dari kecil, kemudian di sekolah, bagaimana lingkungan pergaulan dengan teman-temanya, sikap dan prilaku para guru sebagai panutan dan masyrakat yang merupakan panutan mereka adalah tokoh pimpinan masyarakat. Dapat disimpulkan sebagai sumber penyebab dari pada penyimpangan prilaku siswa ataupun sikap prilaku yang tidak sesuai dengan norma sopan santun adalah:
a. Keluarga
Di dalam keluarga hendak lah sedini mungkin di tanamkan nilai budi perkerti luhur, disiplin dan nilai-nilai keagamaan.
Orang tua harus memberikan contoh-contoh yang baik dan memberikan perhatian yang cukup pada anaknya.
Orang tua yang keduanya sibuk sehingga tidak sempat bergaul dengan anak-anaknya, maka siswa tidak mendapatkan apa yang seharusnya diperoleh dari kedua orang tuanya.
b. Sekolah, masyarakat dan lingkungan
1. Lingkungan pergaulan dengan teman-temanya di sekolah atau di masyarakat dapat berpengaruh terhadap sikap dan prilaku seorang siswa.
2. Sikap dan prilaku para pendidik dan tokoh masyarakat yang merupakan panutan.
3. Tontonan film-film.

Minggu, 16 Mei 2010

CARA MEMPEROLEH DAN MENGGUNAKAN KEKUATAN PRIBADI

Kalau kalian mendengar kata "Kekuatan pribadi", menurut kalian apa artinya ?
A. menjadi lebih kuat daripada orang lain ?
B. Menjadi lebih cerdas dari pada orang lain ?
C. Menjadi lebih baik dari pada orang lain ?
D. Menjadi mampu membuat orang lain melakukan apa yang kalian inginkan ?
E. Mempunyai uang lebih banyak dari pada orang lain ?
F. Menjadi terkenal seperti penyanyi rock, bintang film atau atlet ?
G. Semua yang di atas ?
Ketika kami menggunakan kata "Kekuatan pribadi", kami tidak bermaksud mengartikannya dengan salah satu uraian di atas. Kekuatan pribadi berarti merasa aman dan percaya diri di dalam diri kalian sendiri.
Siapapun dapat mempunyai kekuatan pribadi. Walaupun kalian "Hanya seorang anak kecil",kalian dapat mempunyai kekuatan pribadi.Kalian dapat belajar cara untuk memperolehnya dan menggunakannya. Tidak peduli bagaimana perasaan kalian sekarang ini, kalian dapat belajar merasa aman dan percaya diri.
Diperlukan waktu dan latihan. Diperlukan keteguhan hati untuk membuat perubahan dalam hidup kalian.Tetapi kalian dapat melakukannya!
Seperti tahun yang mempunyai empat musim, kekuatan pribadi mempunyai empat bagian, yaitu :
1. Bertanggung jawab
2. Membuat pilihan
3. Mengetahui diri kalian sendiri
4. Memperoleh dan menggunakan kekuatan dalam hubungan kalian dan kehidupan kalian
BERTANGGUNG JAWAB
Fakta : Kalian bertanggung jawab atas jenis manusia seperti apa kalian dan
bagaimana kalian menjalani hidup kalian.
Mungkin tampaknya kalian tidak setuju dengan pertanyaan ini. Bagaimana kalian dapat bertanggung jawab bila orang dewasa selalu mengatur apa yang harus kalian lakukan ?
Banyak anak heran mengenai hal ini. Mereka mencampuradukkan "Bertanggung jawab" dengan "Mendapat tugas" atau "menjadi bos" dari orang dan benda lain.
Kisah seorang SARAH...........
Sarah sedang menjaga adik-adiknya,jacob,sewaktu orang tua mereka berkunjung kerumah teman.Jacob ingin menonton program TV faforitnya.Sarah ingin menonton program faforitnya sendiri.sarah berkata kepada jacob,"Ibu dan Ayah berkata aku yang bertanggung jawab.Kamu harus melakukan apa yang kukatakan".
Sarah menggunakan kata bertanggung jawab sebagai alasan untuk memperoleh apa yang diinginkannya.padahal maksudnya bukan demikian.Dan ada hal yang bukan menjadi artinya:mempunyai kendali atas segala sesuatu yang terjadi pada diri kalian.
Terdapat banyak hal dalam hidup kalian yang tidak dapat kalian kendalikan.Seperti cuaca.Tempat keluarga kalian tinggal. Sekolah tempat kalian belajar. Berapa banyak pekerjaan rumah yang diberikan guru kepada kalian.Bagaimana tindakan atau perasaan orang lain..........
MEMBUAT PILIHAN
Fakta : kalian ingin bertanggung jawab atau tingkah laku dan perasaan kalian
sendiri, kalian dapat membuat pilihan mengenai hal itu.
kalian dapat memilih cara untuk bertindak.Kalian dapat memilih untuk tidak merebut alat pengendali vidio game dari tangan teman atau memecahkan mainan atau tidak mematuhi orang tua kalian. Bahkan bila kalian merasa ingin melakukan hal-hal tersebut.Bahkan bila perasaan ini tampaknya amat kuat menguasai atau tidak tertahankan.
Berulang kali, tindakan kita dikaitkan dengan perasaan kita.Kita memukul seseorang karena merasa marah. Kita berteriak pada seseorang karena kita merasa prustasi.Kita menangis karena kita merasa sedih.
Kalian dapat memilih cara bagaimana untuk merasa marah, frustasi, atau sedih. Kalian bahkan dapat memilih untuk mempunyai perasaan berbeda, yang lebih positif dan lebih produktif.
Suatu bagian yang penting dari belajar untuk membuat pilihan yang baik adalah dimulai dengan mencoba memperkirakan apa yang kita harapkan akan terjadi karena pilihan kita, kemudian memutuskan apakah harapan kita realistis.
Dengan kata lain: Apa yang kita inginkan untuk terjadi karena pilihan kita? berapa besar peluang ini akan terjadi? bila peluangnya bagus, berarti pilihan kita realistis.Bila peluangnnya menyedihkan,pilihan kita tidak realistis.....
MEMAHAMI DIRI SENDIRI
Mengetahui diri kalian sendiri adalah dengan memahami diri sendiri...,cara yang baik untuk memulainya adalah menyebutkan dan menyatakan perasaan,impian, dan kebutuhan kalian.
Perasaan bukanlah mengenai hal yang salah atau benar, buruk atau baik, perasaan memang seperti itu, ketika kalian tahu dan menerima fakta mendasar ini, kalian dapat mulai menyatakan semua perasaan kalian, bila menurut kalian,kalian merasa sedih, begitulah perasaan kalian. Tidak seorangpun dapat membuat kalian merasakan dengan cara lain. Tidak seorangpun yang lebih mengetahui mengenai perasaan kalian sendiri.
MEMPEROLEH DAN MENGGUNAKAN KEKUATAN PRIBADI DALAM HUBUNGAN DAN KEHIDUPAN KALIAN
Ini tidak berarti kalian harus selalu setuju dengan orang yang mempunyai kekuatan peran atas diri kalian. Atau bahkan kalian harus melakukan segala sesuatu yang mereka katakan. Bila seorang dewasa mencoba untuk menyuruh kalian melakukan sesuatu yang menurut kalian tidak benar, carilah pertolongan! Temui orang dewasa lain yang kalian percaya dan dapat diajak bicara.Ceritakan kepada orang tersebut apa yang terjadi. teruskan mencoba sampai kalian menemukan seseorang yang dapat membantu kalian.
Kalau kita peduli pada apa yang dipikirkan orang lain mengenai kita, kita memberikan kekuasaan kepada orang lain itu atas diri kita. Kita bertindak dengan cara yang kita yakini akan mebuat orang tersebut menyukainya. Kita menghormati orang tersebut dan mungkin mulai meniru dia.
(Di Kutip dari buku "Belalah diri kalian sendiri")

Selasa, 20 April 2010

MASA TRANSISI DAN ADAPTASI REMAJA

Walaupu para remaja sedang berada pada masa transisi dan adaptasi, sesuai kebutuhan psikologis dan tugas perkembangannya, bukan berarti remaja boleh tidak peduli dengan orang di sekitarnya, ciri tahap perkembangan sebagai remaja tidak boleh menjadi pembenaran bagimu untuk bertindak semaunya dan memaksa orang lain untuk selalu memaklumi segala tingkah lakumu yang melanggar norma masyaarakat. Sebaliknya, masa ini harus benar-benar dimanfaatkan sebagai pematangan diri dan meningkatkan kualitas diri. Dengan kebijaksanaan dirimu dalam banyak hal, kamu akan memasuki tahap masa hidup berikutnya, yaitu masa dewasa dengan baik.
Mengingat pentingnya masa remaja sebagai pijakan atau pondasi kehidupan, remaja harus secara sadar menghindari berbagai perilaku berisiko tinggi, khususnya yang tergolong masalah psikososial. Masalah-masalah semacam ini akan membebani kehidupanmu tidak saja pada tahap remaja, tetapi juga pada tahap kehidupan berikutnya. Diantara masalah psikososial berisiko tinggi tersebut adalah kehamilan yang tidak di inginkan, penyakit karena hubungan seksual, penyalahgunaan obat terlarang, minuman keras, berjudi, merokok, berhenti sekolah, steres, frustrasi, defresi, dan tawuran. Semua itu tidak selaras dengan ajaran agama, hokum, dan norma masyakarakat. Akibbatnya, bukan hanya dirimu yang merasakan dampak negatif permasalahan itu, tetapi juga orang tua, keluarga, dan lingkungan masyarakat.
Perhatikan baik-baik Indikator-indikator berikut ini adalah akibat dari prilaku berisiko tinggi yang di perbuat oleh remaja.
a. Prestasi atau hasil belajar menurun
b. Terlalu sering tidak masuk sekolah
c. Keluhan-keluhan fisik yang terlalu sering atau menetap
d. Perubbahan kebiasaan makan atau tidur
e. Kesulitan konsentrasi atau terus menerus merasa bosan
f. Adanya kecemasan, steres, gejala-gejala defresi (tidak bergairah, sedih, putus asa, ingin bunuh diri, takut mati, pesimis, merasa tidak berguna, dann sejinsnya)
g. Menarik diri dari kelompok/teman/keluarga, dan berganti-ganti teman baik
h. Adanya perubahan pola tingkah laku yang radikal
i. Konflik dengan orang tua
j. Merasa tidak betah dirumah

Untuk menghindari risiko dia atas, mulai hari ini milikilah prinsip-prinsip diri sebagai
Berikut:
a. Prestasi belajar yang di peroleh minimal memenuhi standard an kalauu mungkin berprestasi tinggi
b. Rajin dan tekun bersekolah
c. Membiasakan diri hidup sehat dan seimbang
d. Makan, istirahat, tidur, dan olahraga yang cukup dan teratur
e. Membiasakan berkonsentrasi pada saat mengikuti pelajaran atau melakukan kegiatan sehingga tetap bersemangat
f. Menyeimbangkan pengunaan fungsi otak kiri dan kanan sehingga terjadi keselarasan hidup
g. Berfikir positif dan bergembira
h. Berteman, bergaul, dan bersahabat secara aman dan wajar
i. Berusaha menyesuaikan diri dengan lingkungan
j. Ikut menjadi bagian penting dalam terciptanya keharmonisan keluarga
k. Taat dan patuh pada hokum, aturan, dan norma yang berlaku
l. Hidup dengan rasa optimis dan selalu berpengharapan
m. Menjaga tubuh agar tetap sehat jasmani dan rohani
n. Berteman dengan lawan jenis secara wajar
o. Berusaha menemukan ketenangan di rumah sendiri(home sweet home)

Masa remaja menjadi menyenangkan takkala para remaja mengisi waktunya dengan segala kegiatan positif yang bermanfaat. Banyak kegiatan yang bias di laksanakan di sekolah, lingkungan masyarakat, atau dalam kelompok-kelompok. Kamu harus pandai membawa diri. Jangan ikut arus yang salah, atau keliru mencari teman bergaul.
Pada masa remaja yang penuh gejolak ini para remaja tetap harus berani mengambil sikap yang tegas terhadap pilihan yang ada di lingkungan hidupnya. Isilah waktumu dengan kegiatan yang posotif

Minggu, 28 Maret 2010

ALAT UNGKAP MASALAH

DAFTAR MASALAH
001. Badan terlalu kurus, atau terlalu gemuk
002. Warna kulit kurang memuaskan
003. Berat badan terus berkurang, atau bertambah.
004. Badan terlalu pendek, atau terlalu gemuk.
005. Secara jasmaniah kurang menarik.
006. Belum mampu memikirkan dan memilih pekerjaan yang akan dijabat nantinya.
007. Belum mengetahui bakat diri sendiri untuk jabatan/pekerjaan apa.
008. Kurang memiliki pengetahuan yang luas tentang lapangan pekerjaan dan seluk
beluk jenis-jenis pekerjaan.
009. Ingin memperoleh bantuan dalam mendapatkan pekerjaan sambilan untuk melatih
diri bekerja sambil sekolah.
010. Khawatir akan pekerjaan yang dijabatnya nanti; jangan-jangan memberikan
penghasilan yang tidak mencukupi.
011. Terpaksa atau ragu-ragu memasuki sekolah ini.
012. Meragukan kemanfaatan memasuki sekolah ini.
013. Sukar menyesuaikan diri dengan keadaan sekolah.
014. Kurang meminati pelajaran atau jurusan atau program yang diikuti.
015. Khawatir tidak dapat menamatkan sekolah pada waktu yang direncanakan.
016. Fungsi dan/atau kondisi kesehatan mata kurang baik.
017. Mengalami gangguan tertentui karena cacat jasmani.
018. Fungsi dan/atau kondisi kesehatan hidung kurang baik.
019. Kondisi kesehatan kulit sering terganggu.
020. Gangguan pada gigi.
021. Ragu akan kemampuan saya untuk sukses dalam bekerja.
022. Belum mampu merencanakan masa depan.
023. Takut akan bayangan masa depan.
024. Mengalami masalah karena membanding-bandingkan pekerjaan yang layak atau
tidak layak untuk dijabat.
025. Khawatir diperlakukan secara tidak wajar atau tidak adil dalam mencari
dan/atau melamar pekerjaaan.
026. Sering tidak masuk sekolah.
027. Tugas-tugas pelajaran tidak selesai pada waktunya.
028. Sukar memahami penjelasan guru sewaktu pelajaran berlangsung.
029. Mengalami kesulitan dalam membuat catatan pelajaran.
030. Terpaksa mengikuti mata pelajaran yang tidak disukai.
031. Fungsi dan/atau kondisi kerongkongan kurang baik atau sering
terganggu,misalnya serak.
032. Gagap dalam berbicara.
033. Fungsi dan/atau kondisi kesehatan telinga kurang baik.
034. Kurang mampu berolahraga karena kondisi jasmani yang kurang baik.
035. Gangguan pada pencernaan makanan.
036. Kurang yakin terhadap kamampuan pendidikan sekarang ini dalam menyiapkan
jabatan tertentu nantinya.
037. Ragu tentang kesempatan memperoleh pekerjaan sesuai dengan pendidikan yang
diikuti sekarang ini.
038. Ingin mengikuti kegiatan pelajaran dan/atau latihan khusus tertentu yang
benar-benar menunjang proses mencari dan melamar pekerjaan setamat
pendidikan ini.
039. Cemas kalau menjadi penganggur setamat pendidikan ini.
040. Ragu apakah setamat pendidikan ini dapat bekerja secara mandiri.
041. Gelisah dan/atau melakukan kegiatan tidak menentu sewaktu pelajaran
berlangsung, misalnya membuat coret-coretan dalam buku,cenderung mengganggu
teman.
042. Sering malas belajar.
043. Kurang konsentrasi dalam mengikuti pelajaran.
044. Khawatir tugas-tugas pelajaran hasilnya kurang memuaskan atau rendah.
045. Mengalami masalah kerena kemajuan atau hasil belajar hanya diberitahukan
pada akhir catur wulan.
046. Sering pusing dan/atau mudah sakit.
047. Mengalami gangguan setiap datang bulan.
048. Secara umum merasa tidak sehat.
049. Khawatir mengidap penyakit turunan.
050. Selera makan sering terganggu.
051. Hasil belajar atau nilai-nilai kurang memuaskan.
052. Mengalami masalah dalam belajar kelompok.
053. Kurang berminat dan/atau kurang mampu mempelajari buku pelajaran.
054. Takut dan/atau kurang mampu berbicara di dalam kelas dan/atau di luar kelas.
055. Mengalami kesulitan dalam ejaan, tata bahasa dan/atau perbendaharaan kata
dalam Bahasa Indonesia.
056. Mengalami masalah dalam menjawab pertanyaan ujian.
057. Tidak mengetahui dan/atau tidak mampu menerapkan cara-cara belajar yang baik.
058. Kekurangan waktu untuk belajar.
059. Mengalami masalah dalam menyusun makalah, laporan atau karya tulis lainnya.
060. Sukar mendapatkan buku pelajaran yang diperlukan.
061. Mengidap penyakit kambuhan.
062. Alergi terhadap makanan atau keadaan tertentu.
063. Kurang atau susah tidur.
064. Mengalami gangguan akibat merokok atau minuman atau obat-obatan.
065. Khawatir tertular penyakit yang diderita orang lain.
066. Mengalami kesulitan dalam pemahaman dan penggunaan istilah dan/atau Bahasa
Inggris dan/atau bahasa asing lainnya.
067. Kesulitan dalam membaca cepat dan/atau memahami isi buku pelajaran.
068. Takut menghadapi ulangan/ujian.
069. Khawatir memperoleh nilai rendah dalam ulangan/ujian ataupun tugas-tugas.
070. Kesulitan dalam mengingat materi pelajaran.
071. Seringkali tidak siap menghadapi ujian.
072. Sarana belajar di sekolah kurang memadai.
073. Orang tua kurang peduli dan/atau kurang membantu kegiatan belajar di sekolah
dan/atau dirumah.
074. Anggota keluarga kurang peduli dan/atau kurang membantu kegiatan belajar di
sekolah dan/atau dirumah.
075. Sarana belajar dirumah kurang memadai.
076. Sering mimpi buruk.
077. Cemas atau khawatir tentang sesuatu yang belum pasti.
078. Mudah lupa.
079. Sering melamun atau berkhayal.
080. Ceroboh atau kurang hati-hati.
081. Cara guru menyajikan pelajaran terlalu kaku dan/atau membosankan.
082. Guru kurang bersahabat dan/atau membimbing siswa.
083. Mengalami masalah karena disiplin yang diterapkan oleh guru.
084. Dirugikan karena dalam menilai kemajuan atau keberhasilan siswa guru kurang
objektif.
085. Guru kurang memberikan tanggung jawab kepada siswa.
086. Guru kurang adil atau pilih kasih.
087. Ingin dekat dengan guru.
088. Guru kurang memperhatikan kebutuhan dan/atau keadaan siswa.
089. Mendapat perhatian khusus dari guru tertentu.
090. Dalam memberikan pelajaran dan/atau berhubungan dengan siswa sikap
dan/atau tindakan guru sering berubah-ubah sehingga membingungkan siswa.
091. Sering murung dan/atau merasa tidak bahagia.
092. Mengalami kerugian atau kesulitan karena terlampau hati-hati.
093. Kurang serius menghadapi sesuatu yang penting.
094. Merasa hidup ini kurang berarti.
095. Sering gagal dan/atau mudah patah semangat.
096. Khawatir akan dipaksa melanjutkan pelajaran setamat sekolah ini.
097. Kekurangan informasi tentang pendidikan lanjutan yang dapat dimasuki setamat
sekolah ini.
098. Ragu tentang kemanfaatan pendidikan lanjutan setamat sekolah ini.
099. Khawatir tidak mampu melanjutkan pelajaran setamat dari sekolah ini
dan/atau terlalu memikirkan pendidikan lanjutan setamat sekolah ini.
100. Ragu apakah sekolah sekarang ini mampu memberikan modal yang kuat bagi para
siswanya untuk menempuh pendidikan yang lebih lanjut.
101. Khawatir tidak tersedia biaya untuk melanjutkan pekerjaan setamat sekolah
ini.
102. Tidak dapat mengambil keputusan tentang apakah akan mencari pekerjaan atau
melanjutkan pelajaran setamat sekolah ini.
103. Khawatir tuntutan dan proses pendidikan lanjutan setamat sekolah ini sangat
berat.
104. Terdapat pertentangan pendapat dengan orang tua dan/atau anggota keluarga
lain tentang rencana melanjutkan pelajaran setamat sekolah ini.
105. Khawatir tidak mampu bersaing dalam upaya memasuki pendidikan lanjutan
setamat sekolah ini.
106. Mudah gentar atau khawatir dalam menghadapi dan/atau mengemukakan sesuatu.
107. Penakut, pemalu, dan/atau mudah menjadi bingung.
108. Keras kepala atau sukar mengubah pendapat sendiri meskipun kata orang lain
pendapat itu salah.
109. Takut mencoba sesuatu yang baru.
110. Mudah marah atau tidak mampu mengendalikan diri.
111. Mengalami masalah untuk pergi ke tempat peribadatan.
112. Mempunyai pandangan dan/atau kebiasaan yang tidak sesuai dengan kaidah-
kaidah agama.
113. Tidak mampu melaksanakan tuntutan keagamaan dan/atau khawatir tidak mampu
menghindari larangan yang ditentukan oleh agama.
114. Kurang menyukai pembicaraan tentang agama.
115. Ragu dan ingin memperoleh penjelasan lebih banyak tentang kaidah-kaidah
agama.
116. Mengalami kesulitan dalam mendalami agama.
117. Tidak memiliki kecakapan dan/atau sarana untuk melaksanakan ibadah agama.
118. Mengalami masalah karena membandingkan agama yang satu dengan yang lainnya.
119. Bermasalah karena anggota keluarga tidak seagama.
120. Belum menjalankan ibadah agama sebagaimana diharapkan.
121. Merasa kesepian dan/atau takut ditinggal sendiri.
122. Sering bertingkah laku, bertindak, atau bersikap kekanak-kanakan.
123. Rendah diri atau kurang percaya diri.
124. Kurang terbuka terhadap orang lain.
125. Sering membesar-besarkan sesuatu yang sebenarnya tidak perlu.
126. Berkata dusta dan/atau berbuat tidak jujur untuk tujuan-tujuan tertentu,
seperti membohongi teman,berlaku curang dalam ujian.
127. Kurang mengetahui hal-hal yang menurut orang lain dianggap baik atau
buruk,benar atau salah.
128. Tidak dapat mengambil keputusan tentang sesuatu karena kurang memahami
baik-buruknya atau benar-salahnya sesuatu itu.
129. Merasa terganggu oleh kesalahan atau keburukan orang lain.
130. Tidak mengetahui cara-cara yang tepat untuk mengatakan kepada orang lain
tentang sesuatu yang baik atau buruk,benar atau salah.
131. Khawatir atau merasa ketakutan akan akibat perbuatan melanggar kaidah-kaidah
agama.
132. Kurang menyukai pembicaraan yang dilontarkan di tempat peribadatan.
133. Kurang taat dan/atau kurang khusyuk dalam menjalankan ibadah agama.
134. Mengalami masalah karena memiliki pandangan dan/atau sikap keagamaan yang
cenderung fanatik atau berprasangka.
135. Meragukan manfaat ibadah dan/atau upacara keagamaan.
136. Tidak menyukai atau tidak disukai seseorang.
137. Merasa diperhatikan, dibicarakan atau diperolokkan orang lain.
138. Mengalami masalah karena ingin lebih terkenal atau lebih menarik atau lebih
menyenangkan bagi orang lain.
139. Mempunyai kawan yang kurang disukai orang lain.
140. Tidak mempunyai kawan akrab, hubungan sosial terbatas atau terisolir.
141. Merasa terganggu karena melakukan sesuatu yang menjadikan orang lain tidak
senang.
142. Terlanjur berbicara, bertindak atau bersikap yang tidak layak kepada orang
tua dan/atau orang lain.
143. Sering ditegur karena dianggap melakukan kesalahan, pelanggaran atau sesuatu
yang tidak layak.
144. Mengalami masalah karena berbohong atau berkata tidak layak meskipun
sebenarnya dengan maksud sekedar berolok-olok atau menimbulkan suasana
gembira.
145. Tidak melakukan sesuatu yang sesungguhnya perlu dilakukan.
146. Takut dipersalahkan karena melanggar adat.
147. Mengalami masalah karena memiliki kebiasaan yang berbeda dari orang lain.
148. Terlanjur melakukan sesuatu perbuatan yang salah, atau melanggar nilai-nilai
moral atau adat.
149. Merasa bersalah karena terpaksa mengingkari janji.
150. Mengalami persoalan karena berbeda pendapat tentang suatu aturan dalam adat.
151. Kurang perduli terhadap orang lain.
152. Rapuh dalam berteman.
153. Merasa tudak dianggap penting, diremehkan atau dikecam oleh orang lain.
154. Mengalami masalah dengan orang lain karena kurang perduli terhadap diri
sendiri.
155. Canggung dan/atau tidak lancar berkomunikasi dengan orang lain.
156. Membutuhkan keterangan tentang persoalan seks, pacaran dan/atau perkawinan.
157. Mengalami masalah karena malu dan kurang terbuka dalam membicarakan soal
seks, pacar dan/atau jodoh.
158. Khawatir tidak mendapatkan pacar atau jodoh yang baik/cocok.
159. Terlalu memikirkan tentang seks, percintaan, pacaran atau perkawinan.
160. Mengalami masalah karena dilarang atau merasa tidak patut berpacaran.
161. Bermasalah karena kedua orang tua hidup berpisah atau bercerai.
162. Mengalami masalah karena ayah dan/atau ibu kandung telah meninggal.
163. Mengkhawatirkan kondisi kesehatan anggota keluarga.
164. Mengalami masalah karena keadaan dan perlengkapan tempat tinggal dan/atau
rumah orang tua kurang memadai.
165. Mengkhawatirkan kondisi orang tua yang bekerja terlalu berat.
166. Tidak lincah dan kurang mengetahui tentang tata krama pergaulan.
167. Kurang pandai memimpin dan/atau mudah dipengaruhi orang lain.
168. Sering membantah atau tidak menyukai sesuatu yang dikatakan/dirasakan orang
lain atau dikatakan sombong.
169. Mudah tersinggung atau sakit hati dalam berhubungan dengan orang lain.
170. Lambat menjalin persahabatan.
171. Kurang mendapat perhatian dari jenis kelamin lain atau pacar.
172. Mengalami masalah karena ingin mempunyai pacar.
173. Canggung dalam menghadapi jenis kelamin lain atau pacar.
174. Sukar mengendalikan dorongan seksual.
175. Mengalami masalah dalam memilih teman akrab dari jenis kelamin lain atau
pacar.
176. Keluarga mengeluh tentang keadaan keuangan.
177. Mengkhawatirkan keadaan orang tua yang bertempat tinggal jauh.
178. Bermasalah karena ibu atau bapak akan kawin lagi.
179. Khawatir tidak mampu memenuhi tuntutan atau harapan orang tua atau anggota
keluarga lain.
180. Membayangkan dan berpikir-pikir seandainya menjadi anak dari keluarga lain.
181. Mengalami masalah karena kurang mampu berhemat atau kemampuan keuangan
sangat tidak mencukupi, baik untuk keperluan sehari-hari maupun keperluan
pekerjaan.
182. Khawatir tidak mampu menamatkan sekolah ini atau putus sekolah dan harus
segera bekerja.
183. Mengalami masalah karena terlalu berhemat dan/atau ingin menabung.
184. Kekurangan dalam keuangan menyebabkan dalam pengembangan diri terhambat.
185. Untuk memenuhi keuangan terpaksa sekolah sambil bekerja.
186. Mengalami masalah karena takut atau sudah terlalu jauh berhubungan dengan
jenis kelamin lain atau pacar.
187. Bertepuk sebelah tangan dengan kawan akrab atau pacar.
188. Takut ditinggalkan pacar atau patah hati, cemburu atau cinta segitiga.
189. Khawatir akan dipaksa kawin.
190. Mengalami masalah karena sering dan mudah jatuh cinta dan/atau rindu kepada
pacar.
191. Kurang mendapat perhatian dan pengertian dari orang tua dan/atau anggota
keluarga.
192. Mengalami kesulitan dengan bapak atau ibu tiri.
193. Diperlakukan tidak adil oleh orang tua atau oleh anggota keluarga lainnya.
194. Khawatir akan terjadinya pertentangan atau percekcokan dalam keluarga.
195. Hubungan dengan orang tua dan anggota keluarga kurang hangat, kurang
harmonis dan/atau kurang menggembirakan.
196. Mengalami masalah karena ingin berpenghasilan sendiri.
197. Berhutang yang cukup memberatkan.
198. Besarnya uang yang diperoleh dan sumber-sumbernya tidak menentu.
199. Khawatir akan kondisi keuangan orang tua atau orang yang menjadi sumber
keuangan; jangan-jangan harus menjual atau menggadaikan harta keluarga.
200. Mengalami masalah karena keuangan dikendalikan oleh orang lain.
201. Kekurangan waktu senggang, seprti waktu istirahat, waktu luang d sekolah
ataupun dirumah, waktu libur untuk bersikap santai dan/atau melakukan
kegiatan yang menyenangkan atau rekreasi.
202. Tidak diperkenankan atau kurang bebas dalam menggunakan waktu senggang yang
tersedia untuk kegiatan yang disukai/diingini.
203. Mengalami masalah untuk mengikutikegiatan acara-acara gembira dan santai
bersama kawan-kawan.
204. Tidak mempunyai kawan akrab untuk bersama-sama mengisi waktu senggang.
205. Mengalami masalah karena memikirkan atau membayangkan kesempatan waktu
berlibur ditempat yang jauh, indah, tenang dan menyenangkan.
206. Mengalami masalah karena menjadi anak tunggal, anak sulung, anak bungsu,
satu-satunya anak laki-laki atau satu-satunya anak perempuan.
207. Hubungan kurang harmonis dengan kakak atau adik atau dengan anggota keluarga
lainnya.
208. Orang tua atau keluarga anggota lainnya terlalu berkuasa atau kurang memberi
kebebasan.
209. Dicurigai oleh orang tua atau anggota keluarga lain.
210. Bermasalah karena dirumah orang tua tinggal orang atau anggota keluarga lain.
211. Mengalami masalah karena membanding-bandingkan kondisi keuangan sendiri
dengan kondisi keuangan orang lain.
212. Kesulitan dalam mendapatkan penghasilan sendiri sambil sekolah.
213. Mempertanyakan kemungkinan memperoleh beasiswa atau dana bantuan belajar
lainnya.
214. Orang lain menganggap pelit dan/atau tidak mau membantu kawan yang sedang
mengalami kesulitan keuangan.
215. Terpaksa berbagi pengeluaran keuangan dengan kakak atau adik atau anggota
keluarga lain yang sama-sama membutuhkan biaya.
216. Tidak mengetahui cara menggunakan waktu senggang yang ada.
217. Kekurangan sarana, seperti biaya, kendaraan, televisi, buku-buku bacaan, dan
lain-lain untuk memanfaatkan waktu senggang.
218. Mengalami masalah karena cara melaksanakan kegiatan atau acara yang kurang
tepat dalam menggunakan waktu senggang.
219. Mengalami masalah dalam menggunakan waktu senggang karena tidak memiliki
keterampilan tertentu, seperti bermain musik, olah raga, menari dan
sebagainya.
220. Kurang berminat atau tidak ada hal yang menarik dalam memanfaatkan waktu
senggang yang tersedia.
221. Tinggal di lingkungan keluarga atau tetangga yang kurang menyenangkan.
222. Tidak sependapat dengan orang tua atau anggota keluarga tentang sesuatu yang
direncanakan.
223. Orang tua kurang senang kawan-kawan datang ke rumah.
224. Mengalami masalah karena rindu dan ingin bertemu dengan orang tua dan/atau
anggota keluarga lainnya.
225. Tidak betah dan ingin meninggalkan rumah karena keadaannya sangat tidak
menyenangkan.


LEMBAR JAWABAN
ALAT UNGKAP MASALAH SMA

Nama : …………….………..…………………………………
Jenis Kelamin : …………….………..…………………………………
No. Induk : …………….………..…………………………………
Kelas : …………….………..…………………………………
Tanggal Pengisian : …………….………..…………………………………


Langkah Pertama :

Bacalah dengan seksama pernyataan-pernyataan permasalahan di atas dan tandailah masalah yang menjadi keluhan dan mengganggu Anda pada saat sekarang, dengan cara meyilangi (X) nomor masalah yang sesuai, pada lembar jawaban ini:

JDK 001 002 003 004 005 KDP 006 007 008 009 010 PDP 011 012 013 014 015
016 017 018 019 020 021 022 023 024 025 026 027 028 029 030
031 032 033 034 035 036 037 038 039 040 041 042 043 044 045

046 047 048 049 050 051 052 053 054 055 056 057 058 059 060
061 062 063 064 065 066 067 068 069 070 071 072 073 074 075

DPI 076 077 078 079 080 081 082 083 084 085 086 087 088 089 090
091 092 093 094 095 096 097 098 099 100 101 102 103 104 105

106 107 108 109 110 ANM 111 112 113 114 115 116 117 118 119 120
121 122 123 124 125 126 127 128 129 130 131 132 133 134 135

HSO 136 137 138 139 140 141 142 143 144 145 146 147 148 149 150

151 152 153 154 155 HMM 156 157 158 159 160 KHK 161 162 163 164 165
166 167 168 169 170 171 172 173 174 175 176 177 178 179 180

EDK 181 182 183 184 185 186 187 188 189 190 191 192 193 194 195

196 197 198 199 200 WSG 201 202 203 204 205 206 207 208 209 210
211 212 213 214 215 216 217 218 219 220 221 222 223 224 225




Langkah Kedua :

Perhatikan dan baca kembali jawaban yang telah Anda isi, kemudian pilih masalah-masalah yang menurut Anda dirasakan paling mengganggu dengan cara memasukkan nomor masalah pada kolom berikut ini :

Nomor – nomor masalah yang dirasakan paling menggangu




Langkah Ketiga :

1. Apakah sudah menggambarkan seluruh masalah Anda?


Ya Tidak



2. Masalah lain yang Anda hadapi?



------------------------------------------------------------------------

------------------------------------------------------------------------

------------------------------------------------------------------------



3. Apakah Anda ingin konsultasi?

Ya Tidak



Jika “ Ya”, kepada siapa Anda ingin berkonsultasi?

a. Guru Bimbingan dan Konseling
b. Orang tua
c. Teman
d. …………………………..

Senin, 08 Maret 2010

PERANAN BIMBINGAN KONSELING DALAM UJIAN NASIONAL

Bimbingan Konseling adalah pelayanan bantuan untuk peserta didik, baik secara perorangan maupun kelompok, agar mampu mandiri dan berkembang secara optimal dalam bidang pengembangan kehidupan pribadi, kehidupan sosial, kegiatan belajar, dan perencanaan karir.


Pelayanan bimbingan konseling di atas dilaksanakan oleh guru pembimbing di sekolah dengan aturan-aturan yang jelas dalam petunjuk pelaksanaan BK. Sebelum kegiatan BK terlaksana, pembimbing harus membuat program yang sesuai dengan kondisi sekolah. Kemudian program tersebut dilaksanakan dan pada akhirnya dievaluasi kegiatan-kegiatannya yang kemudian dilaporkan pada kepala sekolah.


Bantuan yang diberikan oleh guru pembimbing kepada siswa di sekolah tidak hanya kepada mereka yang bermasalah saja, tetapi juga diberikan kepada semua siswa. Baik itu yang bermasalah maupun yang tidak bermasalah.
Siswa sebagai seorang individu yang sedang berada dalam proses berkembang atau menjadi (on becoming), yaitu berkembang ke arah kematangan atau kemandirian. Untuk mencapai kematangan tersebut, siswa memerlukan bimbingan karena mereka masih kurang memiliki pemahaman atau wawasan tentang dirinya dan lingkungannya, juga pengalaman dalam menentukan arah kehidupannya. Disamping itu terdapat suatu keniscayaan bahwa proses perkembangan siswa tidak selalu berlangsung secara mulus, atau bebas dari masalah. Dengan kata lain, proses perkembangan itu tidak selalu berjalan dalam alur linier, lurus, atau searah dengan potensi, harapan dan nilai-nilai yang dianut.



Dengan Misi Bimbingan Konseling, yaitu memfasilitasi seluruh peserta didik memperoleh dan menguasai kompetensi di bidang akademik, pribadi, social, karir berlandaskan pada tata kehidupan etis normative dan ketakwaan kepada Tuhan YME, Maka sudah selayaknyalah Guru pembimbing merasa bertanggung jawab terhadap siswa yang akan mengikuti Ujian, dan ikut berperan aktif memberikan layanan khusus kepada mereka.


Bila ada pertanyaan “Berperankah Bimbingan Konseling dalam UN ?”, Maka ada berbagai macam jawaban yang terlempar sesuai dengan persi mereka masing-masing. Ada yang menjawab tidak berperan, Mungkin berperan dan ada juga yang menjawab sangat berperan. Jawaban yang berbeda-beda tersebut dilatar belakangi oleh sudut pandang yang berbeda juga. Mereka yang menjawab tidak berperan, karena mereka tidak tahu dan tidak pernah melihat pekerjaan seorang guru Pembimbing. Mereka yang menjawab mungkin berperan, tahu dengan pekerjaan BK tapi belum pernah melihat akifitas BK di lingkungannya (sekolahnya). Adapun orang yang menjawab sangat berperan adalah mereka yang tahu akan fungsi BK dan melihat program dan kegiatan BK yang berjalan dengan baik dan aktif.


Dari pendapat yang berbeda di atas, kita tidak bisa menyalahkan satu pihak, atau mencari siapa yang salah. Namun yang kita lakukan adalah bagaimana agar pandangan yang berbeda tadi menjadi satu pandangan.
Yang kita harapkan adalah pandangan masyarakat trerhadap Bimbingan Konseling adalah Bimbingan Konseling sangat berperan aktif dalam pelaksanaan UN.

Sebab kembali lagi pada Misi Bimbingan Konseling dan Pengertian Bimbingan Konseling di atas. Guru Pembimbing wajib berperan aktif dalam pelaksanaan UN.


Berperan aktif disini bukan berarti guru pembimbing harus menjadi panitia UN, harus membuat soal atau harus memeriksa hasil UN. Berperan aktif disini artinya guru pembimbing berperan sesuai dengan porsinya sebagai seorang guru pembimbing yang memberikan layanan. Misalnya Memberikan layanan informasi tentang cara belajar yang efektif dan efesien, Persiapan yang harus dilakukan siswa sebelum ujian, Syarat-syarat kelulusan, Cara yang baik untuk menghilangkan stress, Cara Belajar kelompok , dan sebagainya. Selain itu juga guru pembimbing memberikan layanan konseling individu pada siswa yang nampaknya punya masalah dalam belajar, atau siswa yang punya masalah pribadi,dengan tujuan agar mereka ketika menghadapi ujian tetap konsentrasi pada pelaksanaan UN/Ujian sekolah.


Selain dari kegiatan-kegiatan di atas, masih banyak lagi yang harus guru pembimbing lakukan untuk mereka. Dengan melaksanakan Pola !7, Guru pembimbing akan tampak berperan aktif dalam peningkatan motifasi dan konsentrasi siswa.


Keberhasilan UN sesuai dengan harapan memang tidak terlepas dari usaha dan kerja keras guru mata pelajaran. Mereka berusaha untuk memberikan materi dan latihan serta Bimbingan belajar hingga sore hari. Mereka selalu meberikan motifasi juga pada siswa, tapi jika hal ini tidak didampingi dengan aktifitas bimbingan konseling, maka harapan mungkin agak sulit untuk didapat. Karena guru yang memberikan materi di kelas punya beban dan tanggung jawab terhadap materi mereka. Waktu dikelas terbatas. Walaupun ada dari guru mata pelajaran yang memberikan motifasi atau cara belajar yang baik, namun tidak seluas atau sedalam guru pembimbing berikan. Hal ini di sebabkan guru pembimbing punya waktu dan beban tanggung jawab yang sesuai dengan tugasnya.


Ada pendapat guru pembimbing yang menyatakan bahwa layanan bimbingan konseling sulit dilaksanakan karena tidak ada jam wajib masuk kelas, sehingga guru Bimbingan tidak dapat melaksanakan layanan-layanan tersebut, khususnya layanan informasi atau orientasi.Pendapat di atas sudah harus dikubur. Banyak solusi yang dapat di tempuh. Diantaranya adalah berbicaralah pada pimpinan tentang program BK yang harus dilaksanakan sehingga BK perlu masuk kelas. Jika kepala sekolah juga tidak bisa memberikan waktu untuk masuk kelas, cari jalan lain dengan minta satu jam untuk satu bulan pada pelajaran yang tidak spesifik. (Misalnya Kesenian, Mulok atau olahraga). Atau Layanan dapat diberikan pada jam kosong yang dimana guru pembimbing tidak dalam keadaan sibuk.
Pengalaman yang pernah penulis lakukan adalah ketika kepala sekolah tidak bisa memberikan jam BK untuk masuk kelas, dengan inisitif sendiri, penulis memohon pada kepala sekolah untuk mengajar pelajaran MULOK. Kebetulan penulis juga punya pengalaman dan pengetahuan sedikit untuk memberikan mata pelajaran tersebut. Kepala sekolah menyetujui dan yang saya lakukan adalah pada jam pelajaran MULOK setiap satu bulan ada satu jam pelajaran yang saya ambil untuk memberikan layanan bimbingan konseling. Penulis tidak menyatakan ini adalah alternative yang baik. Tapi karena tanggung jawab dan ingin program BK berjalan dengan baik, maka hal ini penulis lakukan.

Dengan pelaksanaan bimbingan yang terstruktur dan terorganisir, maka orang akan menilai BK sangat penting dan berperan dalam proses pendidikan. Begitu juga dalam pelaksanaan UN. Siswa yang akan menghadapi Ujian memilki berbagai macam masalah. Baik itu masalah belajar, pribadi atau social. Bila hal ini tidak diketahui oleh guru pembimbing dan pendidik lainnya, maka akan mengganggu proses persiapan dan pelaksanaan UN yang dihadapi oleh siswa. Guru pembimbing yang aktif akan mengetahui dan memahami siswanya yang bermasalah. Siswa yang bermasalah dapat menemukan solusi pemecahan masalahnya melalui bantuan yang diberikan oleh guru pembimbing.


Perkembangan siswa pada saat ini tidak lepas dari pengaruh lingkungan, baik fisik, psikis maupun sosial. Pengaruh yang melekat pada lingkungan adalah perubahan gaya hidup warga masyarakat. Perubahan yang terjadi di masyarakat sulit diprediksi, karena sulit maka akan melahirkan kesenjangan perkembangan perilaku siswa, seperti penyimpangan perilaku. Penyimpangan prilaku yang dilakukan oleh siswa disekolah dapat menimbulkan pelanggaran terhadap tata tertib sekolah dan akibatnya berpengaruh pada proses belajar mereka. Hal inilah yang menjadikan permasalahan dalam persiapan mereka menghadapi ujian. Kadang mereka sering tidak sekolah, tidak ikut ulangan, hingga ada yang tidak ikut ujian praktek dan mereka merasa tidak ada beban. Apakah ini bukan masalah ?, dan siapa yang berperan disini ?


Itulah yang membuat penulis prihatin terhadap siswa yang menghadapi UN atau Ujian sekolah. Mereka merasa tidak punya masalah. Tapi sebenarnya mereka punya masalah. Mereka akan menyadari itu semua setelah UN berakhir dan melihat hasil ujian mereka dengan nilai yang tidak memuaskan.


Kepada Guru pembimbing, PR kita masih ada, yaitu menenangkan mereka pada saat mereka membuka amplop kelulusan nanti. Ada yang menangis, ada yang termenung, ada yang bahagia dan ada yang mungkin berlari untuk coba bunuh diri.

Oleh sebab itu, tinggalkan kesibukan kita yang lain. Dampingi mereka saat itu. Jangan biarkan mereka larut dalam emosi mereka masing-masing. Hal ini kita lakukan agar tidak terjadi penyesalan…….

Jumat, 05 Maret 2010

MENGENAL GAYA BELAJAR

Belajar merupakan suatu perubahan tingkah laku. Perubahan itu dapat mengarah kepada tingkah laku yang lebih baik, tetapi juga ada kemungkinan mengarah kepada tingkah laku yang lebih buruk.Belajar merupakan suatu perubahan yang terjadi melalui latihan dan pengalaman.maka perubahan yang disebabkan oleh pertumbuhan atau kematangan tidak dianggap sebagai hasil belajar.
Ciri-ciri orang yang telah melakukan perbuatan belajar secara sederhana adalah :
1. Orang yang tadinya tidak tahu menjadi tahu
2. Orang yang tadinya tidak bisa menjadi bisa
3. Orang yang tadinya tidak mengerti menjadi mengerti
Untuk dapat mencapai tiga ciri orang yang telah melakukan kegiatan belajar, masing-masing orang mempunyai gaya yang berbeda-beda sesuai dengan kebiasaan dan seleranya. Ada tiga gaya belajar yang masing-masing memiliki ciri yang berbeda. Dengan memahami gaya belajar, maka Anda memiliki ciri yang berbeda. Dengan memahami gaya belajar, maka anda diharapkan dapat menentukan langkah-langkah untuk belajar lebih cepat dan mudah sesuai dengan kondisi masing-masing. Di bawah ini akan dijabarkan tiga gaya belajar tersebut, yaitu :
1. Gaya Belajar Visual
a. Rapi dan teratur
b. berbicara dengan cepat
c. perencana dan pengatur jangka panjang yang baik
d. teliti dan mendetil
e. mementingkan penampilan dan tulisan
f. pengeja yang baik dan dapat melihat kata-kata yang sebenarnya dalam pikiran mereka
g. mengingat apa yang dilihat daripada yang didengar
h. mengingat dengan asosiasi Verbal
i. biasanya tidak terganggu oleh keributan
j. mengalami kesulitan mengingat instruksi verbal
k. pembaca cepat dan tekun
l. mencoret-coret tanpa arti ketika menerima telepon atau selama mengikuti pelajaran
m. sering lupa menyampaikan pesan verbal kepada orang lain
n. menjawab pertanyaan dengan singkat
o. Lebih suka berdemonstrasi dari pada pidato
p. Lebih suka seni lukis, drama, tarian dan sejenisnya dari pada musik
q. Seringkali tahu apa yang harus dilakukan tetapi tidak pandai memilih kata-kata.
Saran bagi pembelajar Visual : (1) Gunakan pena dan kertas untuk membantu mengingat materi yang diterangkan guru. (2) buatlah sketsa berupa diagram atau gambar-gambar dari apa yang dipelajari, (3) Warnai teks yang penting saat membaca dengan stabilo berwarna cerah, dan (4) Gunakan imajinasi Visual pikiran saat mencermati materi.
2. Gaya Belajar Auditorial, ciri-cirinya adalah :
a. Sering berbicara dengan dirinya sendiri saat belajar.
b. Mudah terganggu oleh keributan
c. menggerakkan bibir dan mengucapkan tulisan di buku ketika membaca
d. senang mendengarkan dan mengucapkan tulisan di buku ketika membaca
e. mampu mengulangi dan menirukan nada dan suara
f. kesulitan dalam menulis tetapi pandai bercerita
g. berbicara dengan irama yang terpola
h. biasanya merupakan pembicara fasih
i. Lebih suka musik dan belajar sambil mendengarkan musik.
j. belajar dengan mendengarkan dan mengingat apa yang didiskusikan
k. suka berbicara, berdiskusi, dan menjelaskan susuatu dengan panjang lebar
l. Kesulitan dalam pekerjaan yang melibatkan Visualisasi
m. Lebih pandai mengeja dengan keras daripada menuliskannya
n. lebih suka gurouan lisan dari pada cerita lucu dari komik
Saran bagi pembelajar Auditorial : (1) saat membaca materi suarakan materi tersebut dalam hati untuk mengingatnya, (2) gunakan kaset rekaman saat guru menerangkan di kelas agar dapat diputar kembali di rumah. (3) belajar bersama dengan cara berdiskusi atau tanya jawab. (4) saat belajar, luangkan waktu untuk melakukan diskusi internal tentang materi yang diberikan, dan (5) konsentrasikan saja pada penjelasan guru karena pembelajar ini cocok dengan metode ceramah.
3. Gaya Belajar Kinestetik Ciri-cirinya adalah :
a. Berbicara dengan perlahan
b. menanggapi perhatian pisik
c. menyentuh orang untuk menarik perhatian mereka
d. berdiri dekat ketika berbicara dengan orang
e. berorientasi pada fisik dan senang bergerak
f. belajar melalui praktek
g. menghafal dengan cara berjalan dan melihat-lihat
h. menggunakan jari sebagai petunjuk ketika membaca
i. banyak menggunakan isyarat tubuh
j. tidak dapat duduk dalam waktu lama
k. menggunakan kata-kata yang mengandung arti
l. membaca dengan menyertakan gerakan fisik sesuai dengan isi cerita
m. kemungkinan tulisannya jelek
n. selalu ingin mempraktekkan segala sesuatu
o. suka permainan yang menyibukkan
Saran bagi pembelajar Kinestetik : (1) tempatkan diri di lingkungan yang lebih aktif, materi yang didiskusikan dengan disertai simulasi lebih mudah diserap dengan baik. (2) tandai materi yang penting dengan stabilo warna, (3) buatlah catatan peta yaitu catatan yang disertai gambar sehingga selama pembelajaran kegiatan kinestetik terus berlangsung, dan (4) pergerakkan atau praktekkan materi yang dipelajari.
Dari ketiga gaya belajar di atas, tentu salah satunya ada yang sesuai dengan gaya belajar Anda. Dan untuk mengetahui gaya belajar yang Anda punyai apakah anda telah melakukan hal-hal yang disarankannya ?......

Selasa, 02 Maret 2010

CARA MENGHINDARI DAN MENGENDALIKAN KONFLIK

Bergaul dengan teman-teman dapat menambah wawasan hidup. Kita senang melakukan kegiatan bersama-sama, bermain, bercengkerama, bersenda gurau, dan bentuk-bentuk permainan yang lainnya. Kalau kita sedang bermain bersama-sama suka muncul ide-ide untuk melakukan sesuatu. Biasanya ide itu datang dari pengalaman salah seorang atau keinginan bersama untuk mencoba melakukan hal-hal yang belum pernah dilakukannya. Sumber ide bias berasal dari lingkungan sekitar atau dari keinginan menirukan perbuatan yang dilakukan oleh orang yang menjadi idola kita.
Contohnya : di lingkungan sekitar tempat tinggal kita orang dewasa merokok sudah dianggap bukan pekerjaan yang menyimpang, karena selain harganya terjangkau, rokok dapat dibeli di warung atau tokoh dengan mudah dan tersedia di mana-mana di seluruh pelosok. Apabila diantara kelompok bermain anda ada salah seorang atau lebih yang sudah pernah mencoba maka ia berusaha mengajak teman-temannya untuk melakukan hal yang sama. Bagaimanakah dengan kelompok bermain anda ?
Berikut ini beberapa contoh yang mengambarkan ajakan dan tekanan kelompok yang menyebabkan terjadinya konflik, yaitu :
1. Pada waktu pulang sekolah sambil menunggu angkot Sonny ditawari dan didesak untuk merokok oleh teman-temannya. Sonny menolak dengan alasan takut dimarahi oleh guru dan orang tuanya, dan teman-temannya mengejek, dijuluki banci, pengecut, tidak jantan, tidak solider, atau anak mami. Sonny merasa bingung, jika menolak ajakan teman-temannya ia akan dikucilkan, merasa tidak punya harga diri, serta ingin membuktikan bahwa kalau mau iapun bias berbuat seperti itu. Jika menuruti ajakan teman-temannya ia khawatir ketahuan guru sehingga bias dijatuhi sanksi oleh sekolah. Bagitu juga kalau ketahuan ayahnya, pasti akan marah dan tidak akan diberi uang jajan dan dianggap sebagai anak yang kurang baik.
2. Sartika bersama teman-temannya paling senang makan bakso. Pada hari ulang tahunnya Tika yang ke-17 orang tuanya tidak dapat menyelenggarakan pesta ulang tahun tersebut karena sedang tidak punya uang lebih. Tika diejek oleh teman-temannya karena dianggap kempungan, tidak gaul, tidak menghormati hari kelahirannya, tidak menghargai datangnya sweet seventeen. Karena malu dengan ejekan teman-temanya itu, akhirnya Tika ingin merayakan hari ulang tahunnya dengan mentraktir bakso. Untuk melaksanakan niatnya itu Tika menggunakan uang bayaran sekolah (SPP) tanpa sepengatahuan orang tuanya.














Rabu, 06 Januari 2010

SEBAB-SEBAB KEGAGALAN DALAM MENGIKUTI TES

Berdasarkan hasil pengalaman dan data yang ada bahwa kegagalan dalam mengembangkan karir pendidikan, antara lain disebabkan oleh kegagalan dalam mengikuti tes. Tidak sedikit calon-calon mahasiswa PTN yang gagal diterima di Perguruan Tinggi pilihannya hanya karena kegagalan dalam mengerjakan soal-soal tes masuk perguruan tinggi. Apabila diteliti mereka itu sebenarnya mampu menjawab semua soal tes tersebut, tetapi karena tidak terlatih atau karena kesalahan dalam mengisi jawaban, atau menghitamkan jawaban kompuiter, misalnya, maka ia terpaksa jatuh dalam tes tersebut.Lebih-lebih dewasa ini sistem tes telah mengalami perubahan prosedur, yakni dengan penerapan sistem kompuiter dalam mengoreksi hasil tes masuk perguruan tinggi. bahkan UN/US untuk siswa SMA juga sama. Lebih-lebih lagi untuk calon mahasiswa yang tidak siap tes atau yang prestasi belajarnya ketika di SMA kurang baik, tentu saja akan kalah bersaing dengan calon-calon mahasiswa yang telah siap berkat kebiasaan belajarnya yang efektif ketika di SMA.
Kegagalan mengikuti tes itu sering pula melanda para pelajar SMA, baik ketika mengikuti tes harian, Sumatif, akhir tahun maupun UN/US. Kegagalan itu umumnya di sebabkan oleh ketidaksiapan atau kurang siapnya para siswa akibat cara belajar yang asal-asalan sebelum menghadapi tes dari para gurunya.Kegagalan itu juga disebabkan kurang bersungguh-sungguhnya dalam mengerjakan soal tes yang dihadapinya, seperti tulisan tidak rapi dan tidak jelas, salah menafsirkan soal tes atau sikap tidak teliti dan terburu-buru dalam mengerjakan soal tes.
Secara lebih rinci berikut ini akan digambarkan sebab-sebab kegagalan dalam mengikuti tes dari sebagian besar pelajar kita, antara lain sebagai berikut :
1. Akibat cara belajar yang salah, tidak tuntas, asal-asalan, dan tidak efektif,
baik disekolah maupun di rumah
2. Akibat cara mengerjakan soal tes tidak tenang, tidak teliti dan terburu-buru
3. Akibat salah menafsirkan atau menginterprestasikan isi soal tes, sehingga
jawabannya tidak tepat
4. Akibat ketidaksiapan atau kurang siap dalam menghadapi setiap tes yang diadakan
guru di sekolah.
5. Akibat kurang percaya diri, ragu-ragu dan kebiasaan menyontek ketika mengerjakan
soal tes yang diberikan guru di sekolah.