Minggu, 23 September 2012

LAYANAN BIMBINGAN DAN KONSELING TERHADAP KESULITAN BELAJAR SISWA

A. Pengertian dan Karakteristik Belajar

Banyak para ahli berpendapat tentang belajar. Dari sumber : http://id.shvoong.com/how-to/careers/2227734-pengertian-ciri-ciri-dan karakteristik/ #ixzz268hLOF1s memaparkan tentang pengertian belajar adalah:

1. Morgan berpendapat, belajar adalah setiap perubahan yang relatif menetap dalam tingkah laku yang terjadi sebagai suatu hasil dari latihan atau pengalaman (Purwanto, 2000: 84).

2. Chalidjah Hasan (1994:84) mendefinisikan belajar sebagai “suatu aktifitas mental/praktis, yang berlangsung dalam interaksi aktif dengan lingkungan yang menghasilkan perubahan-perubahan, keterampilan, dan nilai sikap.

3. Menurut Muhibbin Syah (2007:63), belajar adalah kegiatan yang berproses dan merupakan unsur yang sangat fundamental dalam setiap penyelenggaraan jenjang pendidikan. Hal ini berarti keberhasilan dan kegagalan dalam mencapai tujuan pendidikan tergantung pada proses belajar yang dialami soleh siswa. Belajar bukan hanya kegiatan mempelajari suatu mata pelajaran di sekolah secara formal, akan tetapi kecakapan, kebiasaan dan sikap manusia juga terbentuk karena belajar.

4. Para ahli modern merumuskan belajar sebagai bentuk pertumbuhan atau perubahan dalam diri seseorang yang dinyatakan dalam cara bertingkah laku yang baru berkat pengalaman dan latihan (Oemar Hamalik, 1983:21).

Selain dari pendapat di atas, sumber lain yang membahas tentang pengertian belajar http://joegolan.wordpress.com/2009/04/13/pengertian-belajar/ menguraikan bahwa :

1. Menurut james O. Whittaker (Djamarah, Syaiful Bahri , Psikologi Belajar; Rineka Cipta; 1999) Belajar adalah Proses dimana tingkah laku ditimbulkan atau diubah melalui latihan atau pengalaman.

2. Winkel, belajar adalah aktivitas mental atau psikis, yang berlangsung dalam interaksi aktif dengan lingkungan yang menghasilkan perubahan-perubahan dalam pengetahuan, pemahaman, ketrampilan, nilai dan sikap.

3. Cronchbach (Djamarah, Syaiful Bahri , Psikologi Belajar; Rineka Cipta; 1999)Belajar adalah suatu aktifitas yang ditunjukkan oleh perubahan tingkah laku sebagai hasil dari pengalaman.

4. Howard L. Kingskey (Djamarah, Syaiful Bahri, Psikologi Belajar; Rineka Cipta; 1999) Belajar adalah proses dimana tingkah laku ditimbulkan atau diubah melalui praktek atau latihan.

5. Drs. Slameto (Djamarah, Syaiful Bahri, Psikologi Belajar; Rineka Cipta; 1999) Belajar adalah suatu proses usaha yang dilakukan individu untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan, sebagai hasil pengalaman individu itu sendiri di dalam interaksi dengan lingkungannya.

6. (Djamarah, Syaiful Bahri, Psikologi Belajar; Rineka Cipta; 1999)
Belajar adalah serangkaian kegiatan jiwa raga untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku sebagai hasil dari pengalaman individu dalam interaksi dengan lingkungannya yang menyangkut kognitif, afektif dan psikomotor.

7. R. Gagne (Djamarah, Syaiful Bahri, Psikologi Belajar; Rineka Cipta; 1999) hal 22. Belajar adalah suatu proses untuk memperoleh motivasi dalam pengetahuan, ketrampilan, kebiasaan dan tingkah laku

8. Herbart (swiss) Belajar adalah suatu proses pengisian jiwa dengan pengetahuan dan pengalaman yang sebanyak-banyaknya dengan melalui hafalan.

9. Robert M. Gagne dalam buku: the conditioning of learning mengemukakan bahwa: Learning is change in human disposition or capacity, wich persists over a period time, and which is not simply ascribable to process a groeth. Belajar adalah perubahan yang terjadi dalam kemampuan manusia setelah belajar secara terus menerus, bukan hanya disebabkan karena proses pertumbuhan saja. Gagne berkeyakinan bahwa belajar dipengaruhi oleh faktor dari luar diri dan faktor dalm diri dan keduanya saling berinteraksi.

10. Lester D. Crow and Alice Crow (WWW. Google.com) Belajar adalah acuquisition of habits, knowledge and attitudes. Belajar adalah upaya-upaya untuk memperoleh kebiasaan-kebiasaan, pengetahuan dan sikap.

11. Ngalim Purwanto (1992) (WWW. Google.com) Belajar adalah setiap perubahan yang relatif menetap dalam tingkah laku, yang terjadi sebagi hasil dari suatu latihan atau pengalaman.

Berdasarkan definisi-definisi di atas, maka dapat disimpulkan bahwa belajar merupakan suatu proses perubahan tingkah laku yang bersifat kognitif, psikomotor maupun afektif yang terjadi melalui latihan atau pengalaman dan disebabkan oleh pertumbuhan atau kematangan serta dipengaruhi faktor lingkungan yang mengarah pada tingkah laku baik atau tingkah laku buruk
Jadi secara psikologis, belajar merupakan suatu proses perubahan tingkah laku yang terbentuk dari hasil interaksi seseorang dengan lingkungannya dalam memenuhi kebutuhan hidupnya. Perubahan-perubahan itu akan dinyatakan dalam seluruh aspek tingkah laku.

B. Pengertian Kesulitan Belajar
Dalam proses belajar, akan ditemui berbagai hal kemungkinan-kemungkinan yang positif dan negatif, karena belajar merupakan interaksi dari perkembangan diri individu dengan faktor lingkungan. Oleh sebab itu akan timbul suatu permasalahan yang harus dihadapi agar proses belajar tersebut menghasilkan tingkah laku yang baik.
Permasalahan yang ditemui dalam belajar adalah kesulitan belajar. Dimana individu merasa sulit untuk menjalani proses perubahan menuju ke arah positif. Suryaman B (2012) mengatakan bahwa:
Anak yang mengalami kesulitan belajar adalah anak yang memiliki ganguan satu atau lebih dari proses dasar yang mencakup pemahaman penggunaan bahasa lisan atau tulisan, gangguan tersebut mungkin menampakkan diri dalam bentuk kemampuan yang tidak sempurna dalam mendengarkan, berpikir, berbicara, membaca, menulis, mengeja atau menghitung. Kesulitan belajar siswa ditunjukkan oleh hambatan-hambatan tertentu untuk mencapai hasil belajar, dan dapat bersifat psikologis, sosiologis, maupun fisiologis, sehingga pada akhirnya dapat menyebabkan prestasi belajar yang dicapainya berada di bawah semestinya.
Menurut Sugihartono (2011), Kesulitan belajar dapat di lihat dari:

1. Gejala yang tampak pada peserta didik yang ditandai dengan prestasi belajar yang rendah atau dibawah kriteria yang telah ditetapkan atau kriteria minimal. Prestasi belajarnya lebih rendah dibandingkan prestasi teman-temannya, atau lebih rendah dibandingkan prestasi belajar sebelumnya.

2. Menunjukkan adanya jarak antara prestasi belajar yang diharapkan dengan presiasi yang dicapai

3. Prestasi belajar yang dicapai tidak sesuai dengan kapasitas inteligensinya. Kesulitan belajar peserta didik tidak selalu disebabkan oleh inteligensinya yang rendah

Kesulitan belajar merupakan suatu permasalahan yang umum ditemui oleh individu, terutama siswa di sekolah. Oleh sebab itu, perlu adanya pemahaman dalam mendiagnosa kesulitan belajar yang ada pada siswa di sekolah dalam rangka untuk membantu siswa mengatasi permasalahannya dalam kesulitan belajar.
Oleh sebab itu perlu diketahui jenis-jenis kesulitan belajar siswa di sekolah, Suryaman B. (2012) menjelaskan bahwa kesulitan belajar siswa diantaranya yaitu:

1. Learning Disorder atau kekacauan belajar adalah keadaan dimana proses belajar seseorang terganggu karena timbulnya respons yang bertentangan. Pada dasarnya, yang mengalami kekacauan belajar, potensi dasarnya tidak dirugikan, akan tetapi belajarnya terganggu atau terhambat oleh adanya respons-respons yang bertentangan, sehingga hasil belajar yang dicapainya lebih rendah dari potensi yang dimilikinya. Contoh : siswa yang sudah terbiasa dengan olah raga keras seperti karate, tinju dan sejenisnya, mungkin akan mengalami kesulitan dalam belajar menari yang menuntut gerakan lemah-gemulai.

2. Learning Disfunction merupakan gejala dimana proses belajar yang dilakukan siswa tidak berfungsi dengan baik, meskipun sebenarnya siswa tersebut tidak menunjukkan adanya subnormalitas mental, gangguan alat dria, atau gangguan psikologis lainnya. Contoh : siswa yang memiliki postur tubuh yang tinggi atletis dan sangat cocok menjadi atlet bola volley, namun karena tidak pernah dilatih bermain bola volley, maka dia tidak dapat menguasai permainan volley dengan baik.

3. Under Achiever mengacu kepada siswa yang sesungguhnya memiliki tingkat potensi intelektual yang tergolong di atas normal, tetapi prestasi belajarnya tergolong rendah. Contoh : siswa yang telah dites kecerdasannya dan menunjukkan tingkat kecerdasan tergolong sangat unggul (IQ = 130 – 140), namun prestasi belajarnya biasa-biasa saja atau malah sangat rendah.

4. Slow Learner atau lambat belajar adalah siswa yang lambat dalam proses belajar, sehingga ia membutuhkan waktu yang lebih lama dibandingkan sekelompok siswa lain yang memiliki taraf potensi intelektual yang sama.

5. Learning Disabilities atau ketidakmampuan belajar mengacu pada gejala dimana siswa tidak mampu belajar atau menghindari belajar, sehingga hasil belajar di bawah potensi intelektualnya.

C. Kedudukan Diagnosis Kesulitan Belajar dalam Hakekat Bimbingan dan Konseling

Diagnosis kesulitan belajar dalam bimbingan dan konseling merupakan salah satu tugas dan tanggung jawab konselor terhadap semua siswa di sekolah. Untuk membuktikan bahwa bimbingan dan konseling turut berperan serta dalam diagnosis kesulitan belajar, salah satu bidang bimbingan dalam layanan BK adalah bidang bimbingan belajar.

Bimbingan belajar merupakan salah satu bentuk layanan bimbingan yang penting diselenggarakan di sekolah. Pengalaman menunjukkan bahwa kegagalan-kegagalan yang dialami siswa dalam belajar tidak selalu disebabkan oleh kebodohan atau rendahnya inteligensi. Sering kegagalan itu terjadi disebabkan mereka tidak mendapat layanan bimbingan yang memadai.

Prayitno dan Erman (2004) mengatakan bahwa: “layanan bimbingan belajar dilaksanakan melalui tahap-tahap : (1) pengenalan siswa yang mengalami masalah belajar, (2) pengungkapan sebab-sebab timbulnya masalah belajar, dan (3) pemberian bantuan pengentasan masalah belajar.”

Pengenalan Siswa yang Mengalami Masalah Belajar Di sekolah, di samping banyaknya siswa yang berhasil secara gemilang dalam belajar, sering pula dijumpai adanya siswa yang gagal, seperti angka-angka rapor rendah, tidak naik kelas, tidak lulus ujian akhir, dan sebagainya. Secara umum, siswa-siswa yang seperti itu dapat dipandang sebagai siswa-siswa yang mengalami masalah belajar.

Pengungkapan sebab-sebab timbulnya masalah belajar dapat dilakukan dengan menggunakan berbagai macam alat atau instrumen yang bisa mengungkap masalah tersebut, yaitu dengan:

1. Tes Hasil Belajar

2. Tes Kemampuan Dasar

3. Skala Sikap dan Kebiasaan Belajar

4. Test Diagnostik

5. Analisis Hasil Belajar atau Karya

Upaya membantu siswa yang mengalami kesulitan dalam belajar adalah dengan memberikan layanan Bimbingan dan konseling, yaitu dengan konseling individu, konseling kelompok atau dengan Bimbingan kelompok.

Siswa yang mengalami kesulitan dalam belajar perlu mendapatkan bantuan agar masalahnya tidak berlarut-larut yang nantinya dapat mempengaruhi proses perkembangan siswa. Oleh sebab itu, upaya yang dilakukan konselor dalam layanan bimbingan konseling adalah dengan pengajaran perbaikan, kegiatan pengayaan, peningkatan motivasi belajar dan pengembangan sikap dan kebiasaan belajar yang efektif. Upaya ini diberikan sesuai dengan latar belakang kesulitan belajar siswa.

D. Pengajaran Remedial Sebagai Layanan Bimbingan dan Konseling

Pengajaran remedial adalah pengajaran ulang yang dilakukan guru kepada siswa yang mengalami kesulitan belajar. pembelajaran remedial adalah pembelajaran yang bersifat menyembuhkan sehingga menjadi baik atau sembuh dari masalah pembelajaran yang dirasa sulit. Natawija (1983) berpendapat bahwa: “ Dilihat dari arti katanya remedial berarti bersifat menyembuhkan/ membetulkan atau membuat menjadi baik.”

Pada pembelajaran remedial kegiatan perbaikan bertujuan memberikan bantuan baik yang berupa perlakuan pengajaran maupun yang berupa bimbingan dalam mengatasi kesulitan belajar yang dihadapi siswa yang mungkin disebabkan oleh faktor internal maupun eksternal. Secara operasional kegiatan perbaikan yang dilaksanakan guru terhadap siswa yang mengalami kesulitan belajar bertujuan untuk memberikan bantuan yang berupa perlakuan pengajaran kepada siswa yang lamban, sulit, gagal belajar, agar mereka secara tuntas dapat menguasai bahan pelajaran yang diberikan.

Fungsi pembelajaran remedial dalam proses belajar mengajar di sekolah adalah sebagai penunjang terlaksananya kegiatan belajar siswa ke arah yang lebih baik. Untuk itu sangat perlu siswa diberikan bantuan serta bimbingan dalam mengatasi kesulitan belajarnya. Dengan jalan ini kita menggunakan suatu bentuk pengajaran mengatasi kekeliruan-kekeliruan yang menjadi penyebab kesulitan belajar sehingga ia dapat memahami kembali konsep-konsep pelajaran yang pernah didapatkannya.

Dalam layanan bimbingan dan konseling, konselor berupaya untuk memberikan bantuan menemukan semangat baru dalam belajar. Dengan motifasi yang didapat, siswa yang mengalami kesulitan belajar akan merasa mudah dalam menjalani pembelajaran remedial yang diberikan guru.

Pengajaran remedial yang diberikan kepada siswa sifatnya lebih khusus lagi, oleh sebab itu tidak mudah bagi guru untuk melakukannya, karena dalam pelaksanaan pengajaran remedial, guru dan konselor harus memperhatikan latar belakang masalah kesulitan belajar siswa. Prayitno dan Erman (2004) mengatakan bahwa “ Kalau di dalam kelas biasanya unsur emosional dapat dikurangi sedemikian rupa, maka siswa yang sedang menghadapi masalah belajar justru sebaliknya. Ia (mereka) mungkin dihinggapi oleh berbagai perasaan – takut, cemas, tidak tentram, bingung, bimbang dan sebagainya. Dalam hal ini adalah amat penting bagi guru dan konselor memahami perasaan-perasaan siswa yang seperti ini.”


Proses pengajaran remedial dapat terlaksana dengan optimal, jika dilakukan melalui kerjasama antara konselor dan guru. Melalui pelaksanaan layanan bimbingan belajar, konselor menemukan latar belakang masalah kesulitan belajar siswa, dari latar belakang ini, guru mencari metode yang tepat untuk siswa agar dapat melaksanakan pengajaran dan siswa akan menjadi lebih mudah memahami pelajaran tersebut.

Kamis, 16 Februari 2012

GURU PEMBIMBING TAHUN 2008/2009 (PAK ALI NASUTION, BU HERIYANTI, PAK RAHMAT)
GURU PEMBIMBING BARU PENGGANTI PAK ALI NASUTION NAMANYA BU JENY
KONSELING KELOMPOK KELAS X TAHUN 2010/2011
BOLEH DONG KAMI IKUT BANGGA...............

Kamis, 08 September 2011

KESALAHPAHAMAN YANG HARUS DIPERBAIKI DALAM BIMBINGAN DAN KONSELING

Bimbingan dan konseling adalah upaya pemberian bantuan kepada peserta didik dengan menciptakan lingkungan perkembangan yang kondusif, dilakukan secara sistematis dan berkesinambungan, supaya peserta didik dapat memahami dirinya sehingga sanggup mengarahkan diri dan dapat bertindak secara wajar, sesuai dengan tuntutan tugas-tugas perkembangan. Upaya bantuan ini dilakukan secara terencana dan sistematis untuk semua peserta didik berdasarkan identifikasi kebutuhan mereka, pendidik, institusi dan harapan orang tua dan dilakukan oleh seorang tenaga profesional bimbingan dan konseling yaitu konselor. Prof.Dr.H.Prayitno,M.Sc.Ed dalam bukunya “Dasar-dasar Bimbingan dan konseling” (1994) menyatakan bahwa “tujuan umum bimbingan dan konseling adalah untuk membantu individu memperkembangkan diri secara optimal sesuai dengan tahap perkembangan dan predisposisi yang dimilikinya (seperti kemampuan dasar dan bakat-bakatnya), berbagai latar belakang yang ada (seperti latar belakang keluarga, pendidikan, status social ekonomi), serta sesuai dengan tuntutan positif lingkungannya. Dalam hal ini bimbingan dan konseling membantu individu untuk menjadi insan yang berguna dalam kehidupannya yang memiliki berbagai wawasan, pandangan, interprestasi,pilihan, penyesuaian, dan ketrampilan yang tepat berkenaan dengan diri sendiri dan lingkungannya.” Melihat dari apa yang diuraikan di atas dan membandingkannya dengan kenyataan yang ada di lingkungan pendidikan kita saat ini, masih banyak permasalahan-permasalahan atau kesalahpahaman dalam bidang bimbingan dan konseling ini. Permasalahan itu timbul mungkin karena bimbingan dan konseling itu digeluti oleh berbagai pihak dengan latar belakang yang sangat bervariasi.Disamping itu juga kurangnya literatur sehingga pemahaman mereka tentang bimbingan dan konseling kurang. Sabar Rutoto dalam tulisannya yg berjudul “Menyongsong Pelayanan Bimbingan Konseling Sekolah di Era Modern” di Majalah Ilmiah Pawiyatan, menyatakan : Kenyataan dilapangan menunjukan masih adanya titik lemah dalam pelaksanaan BK.

Kelemahan itu diantaranya adalah masih banyak tenaga pelaksana tidak berpendidikan khusus bimbingan : kalau ada tenaga khusus bmbingan mereka berpendidikan jenjang sarjana angkatan tahun delapan puluhan yang note bene materi pada waktu itu masih minim. Ada tenaga berkualifikasi penuh tetapi jumlahnya kurang dibandingkan dengan jumlah siswa yang harus dilayani atau mereka harus merangkap mengajar atau tugas-tugas lain yang tidak ada relevansinya. Tidak adanya ruangan khusus untuk konseling. Ruang bimbingan menjadi satu dengan ruang Tata Usaha atau ruang UKS dipisahkan dengan bagian lainnya hanya dengan almari sebagai penyekat. Atau ada ruangan khusus tetapi dengan ukuran tidak memadai dan untuk menampung segala macam kegiatan BK dan keperluan kerja guru pembimbing tidak tersedia alat ukur dan materi bimbingan .Tidak memadainya biaya yang disediakan , Kurang diperoleh kerjasama dengan personil lain di sekolah, sebagian karena kurang pengertian mereka mengenai tujuan dan hakekat BK, Belum adanya manajemen BK yang di kelola secara professional dan maju, sehingga mutu layanan BK di sekolah masih kurang dan belum mampu memenuhi tuntutan motto “BK peduli Siswa” dalam makna yang kita harapkan. Permasalahan yang di paparkan oleh Sabar Rutoto itu merupakan juga permasalahan yang ada di daerah kita. Dan bila kita cerna dan renungkan,masalah itu timbul bukan dari satu pihak, namun dari berbagai pihak dan tidak menutup kemungkinan juga permasalahan tersebut timbul karena dari pihak Guru pembimbingnya sendiri. Membahas tentang permasalahan ataupun kesalahpahaman dalam Bimbingan dan Konseling, Prof.Dr.H.Prayitno,M.Sc.Ed dalam bukunya “Dasar-dasar Bimbingan dan konseling” (1994) memaparkan 15 kesalahpahaman yang sering dijumpai dilapangan, yaitu :
1. Bimbingan dan Konseling disamakan atau dipisahkan sama sekali dari pendidikan.
Ada sebagian orang yang berpendapat bahwa bimbingan dan konseling adalah identik dengan pendidikan sehingga sekolah tidak perlu lagi bersusah payah menyelenggarakan pelayanan bimbingan dan konseling, karena dianggap sudah implisit dalam pendidikan itu sendiri. Cukup mantapkan saja pengajaran sebagai pelaksanaan nyata dari pendidikan. Mereka sama sekali tidak melihat arti penting bimbingan dan konseling di sekolah. Sementara ada juga yang berpendapat pelayanan bimbingan dan konseling harus benar-benar terpisah dari pendidikan dan pelayanan bimbingan dan konseling harus secara nyata dibedakan dari praktik pendidikan sehari-hari. Walaupun guru dalam melaksanakan pembelajaran siswa dituntut untuk dapat melakukan kegiatan-kegiatan interpersonal dengan para siswanya, namun kenyataan menunjukkan bahwa masih banyak hal yang menyangkut kepentingan siswa yang tidak bisa dan tidak mungkin dapat dilayani sepenuhnya oleh guru di sekolah melalui pelayanan pengajaran semata, seperti dalam hal pelayanan dasar (kurikulum bimbingan dan konseling), perencanaan individual, pelayanan responsif, dan beberapa kegiatan khas Bimbingan dan Konseling lainnya. Begitu pula, Bimbingan dan Konseling bukanlah pelayanan eksklusif yang harus terpisah dari pendidikan. Pelayanan bimbingan dan konseling pada dasarnya memiliki derajat dan tujuan yang sama dengan pelayanan pendidikan lainnya (baca: pelayanan pengajaran dan/atau manajemen), yaitu mengantarkan para siswa untuk memperoleh perkembangan diri yang optimal. Perbedaan terletak dalam pelaksanaan tugas dan fungsinya, dimana masing-masing memiliki karakteristik tugas dan fungsi yang khas dan berbeda (1).
2. Menyamakan pekerjaan Bimbingan dan Konseling dengan pekerjaan dokter dan psikiater.

Dalam hal-hal tertentu memang terdapat persamaan antara pekerjaan bimbingan dan konseling dengan pekerjaan dokter dan psikiater, yaitu sama-sama menginginkan konseli/pasien terbebas dari penderitaan yang dialaminya, melalui berbagai teknik yang telah teruji sesuai dengan masing-masing bidang pelayanannya, baik dalam mengungkap masalah konseli/pasien, mendiagnosis, melakukan prognosis atau pun penyembuhannya. Kendati demikian, pekerjaan bimbingan dan konseling tidaklah persis sama dengan pekerjaan dokter atau psikiater. Dokter dan psikiater bekerja dengan orang sakit sedangkan konselor bekerja dengan orang yang normal (sehat) namun sedang mengalami masalah.Cara penyembuhan yang dilakukan dokter atau psikiater bersifat reseptual dan pemberian obat, serta teknis medis lainnya, sementara bimbingan dan konseling memberikan cara-cara pemecahan masalah secara konseptual melalui pengubahan orientasi pribadi, penguatan mental/psikis, modifikasi perilaku, pengubahan lingkungan, upaya-upaya perbaikan dengan teknik-teknik khas bimbingan dan konseling.
3. Bimbingan dan Konseling dibatasi pada hanya menangani masalah-masalah yang bersifat insidental.
Memang tidak dipungkiri pekerjaan bimbingan dan konseling salah satunya bertitik tolak dari masalah yang dirasakan siswa, khususnya dalam rangka pelayanan responsif, tetapi hal ini bukan berarti bimbingan dan konseling dikerjakan secara spontan dan hanya bersifat reaktif atas masalah-masalah yang muncul pada saat itu. Pekerjaan bimbingan dan konseling dilakukan berdasarkan program yang sistematis dan terencana, yang di dalamnya mengggambarkan sejumlah pekerjaan bimbingan dan konseling yang bersifat proaktif dan antisipatif, baik untuk kepentingan pencegahan, pengembangan maupun penyembuhan (pengentasan)
4. Bimbingan dan Konseling dibatasi hanya untuk siswa tertentu saja.
Bimbingan dan Konseling tidak hanya diperuntukkan bagi siswa yang bermasalah atau siswa yang memiliki kelebihan tertentu saja, namun bimbingan dan konseling harus dapat melayani seluruh siswa (Guidance and Counseling for All). Setiap siswa berhak dan mendapat kesempatan pelayanan yang sama, melalui berbagai bentuk pelayanan bimbingan dan konseling yang tersedia.
5. Bimbingan dan Konseling melayani “orang sakit” dan/atau “kurang/tidak normal”.

Sasaran Bimbingan dan Konseling adalah hanya orang-orang normal yang mengalami masalah. Melalui bantuan psikologis yang diberikan konselor diharapkan orang tersebut dapat terbebaskan dari masalah yang menghinggapinya. Jika seseorang mengalami keabnormalan yang akut tentunya menjadi wewenang psikiater atau dokter untuk penyembuhannya. Masalahnya, tidak sedikit petugas bimbingan dan konseling yang tergesa-gesa dan kurang hati-hati dalam mengambil kesimpulan untuk menyatakan seseorang tidak normal. Pelayanan bantuan pun langsung dihentikan dan dialihtangankan (referal).
6. Pelayanan Bimbingan dan Konseling berpusat pada keluhan pertama (gejala) saja.
Pada umumnya usaha pemberian bantuan memang diawali dari gejala yang ditemukan atau keluhan awal disampaikan konseli. Namun seringkali justru konselor mengejar dan mendalami gejala yang ada bukan inti masalah dari gejala yang muncul. Misalkan, menemukan siswa dengan gejala sering tidak masuk kelas, pelayanan dan pembicaraan bimbingan dan konseling malah berkutat pada persoalan tidak masuk kelas, bukan menggali sesuatu yang lebih dalam dibalik tidak masuk kelasnya.
7. Bimbingan dan Konseling menangani masalah yang ringan.
Ukuran berat-ringannya suatu masalah memang menjadi relatif, seringkali masalah seseorang dianggap sepele, namun setelah diselami lebih dalam ternyata masalah itu sangat kompleks dan berat. Begitu pula sebaliknya, suatu masalah dianggap berat namun setelah dipelajari lebih jauh ternyata hanya masalah ringan saja. Terlepas berat-ringannya yang paling penting bagi konselor adalah berusaha untuk mengatasinya secara cermat dan tuntas. Jika segenap kemampuan konselor sudah dikerahkan namun belum juga menunjukan perbaikan maka konselor seyogyanya mengalihtangankan masalah (referal) kepada pihak yang lebih kompeten
8. Petugas Bimbingan dan Konseling di sekolah diperankan sebagai “polisi sekolah”.
Masih banyak anggapan bahwa bimbingan dan konseling adalah “polisi sekolah” yang harus menjaga dan mempertahankan tata tertib, disiplin dan keamanan di sekolah.Tidak jarang konselor diserahi tugas mengusut perkelahian ataupun pencurian, bahkan diberi wewenang bagi siswa yang bersalah. Dengan kekuatan inti bimbingan dan konseling pada pendekatan interpersonal, konselor justru harus bertindak dan berperan sebagai sahabat kepercayaan siswa, tempat mencurahkan kepentingan apa-apa yang dirasakan dan dipikirkan siswa. Konselor adalah kawan pengiring, penunjuk jalan, pemberi informasi, pembangun kekuatan, dan pembina perilaku-perilaku positif yang dikehendaki sehingga siapa pun yang berhubungan dengan bimbingan konseling akan memperoleh suasana sejuk dan memberi harapan.
9. Bimbingan dan Konseling dianggap semata-mata sebagai proses pemberian nasihat.
Bimbingan dan konseling bukan hanya bantuan yang berupa pemberian nasihat. Pemberian nasihat hanyalah merupakan sebagian kecil dari upaya-upaya bimbingan dan konseling. Pelayanan bimbingan dan konseling menyangkut seluruh kepentingan klien dalam rangka pengembangan pribadi klien secara optimal.
10. Bimbingan dan konseling bekerja sendiri atau harus bekerja sama dengan ahli atau petugas lain
Pelayanan bimbingan dan konseling bukanlah proses yang terisolasi, melainkan proses yang sarat dengan unsur-unsur budaya,sosial,dan lingkungan. Oleh karenanya pelayanan bimbingan dan konseling tidak mungkin menyendiri. Konselor perlu bekerja sama dengan orang-orang yang diharapkan dapat membantu penanggulangan masalah yang sedang dihadapi oleh klien. Di sekolah misalnya, masalah-masalah yang dihadapi oleh siswa tidak berdiri sendiri.Masalah itu sering kali saling terkait dengan orang tua,siswa,guru,dan piha-pihak lain; terkait pula dengan berbagai unsur lingkungan rumah, sekolah dan masyarakat sekitarnya. Oleh sebab itu penanggulangannya tidak dapat dilakukan sendiri oleh guru pembimbing saja .Dalam hal ini peranan guru mata pelajaran, orang tua, dan pihak-pihak lain sering kali sangat menentukan. Guru pembimbing harus pandai menjalin hubungan kerja sama yang saling mengerti dan saling menunjang demi terbantunya siswa yang mengalami masalah itu. Di samping itu guru pembimbing harus pula memanfaatkan berbagai sumber daya yang ada dan dapat diadakan untuk kepentingan pemecahan masalah siswa. Guru mata pelajaran merupakan mitra bagi guru pembimbing, khususnya dalam menangani masalah-masalah belajar. Namun demikian, konselor atau guru pembimbing tidak boleh terlalu mengharapkan bantuan ahli atau petugas lain. Sebagai tenaga profesional konselor atau guru pembimbing harus mampu bekerja sendiri, tanpa tergantung pada ahli atau petugas lain. Dalam menangani masalah siswa guru pembimbing harus harus berani melaksanakan pelayanan, seperti “praktik pribadi”, artinya pelayanan itu dilaksanakan sendiri tanpa menunggu bantuan orang lain atau tanpa campur tangan ahli lain. Pekerjaan yang profesional justru salah satu cirinya pekerjaan mandiri yang tidak melibatkan campur tangan orang lain atau ahli.
11. Konselor harus aktif, sedangkan pihak lain harus pasif Sesuai dengan asas kegiatan,
di samping konselor yang bertindak sebagai pusat penggerak bimbingan dan konseling, pihak lain pun, terutama klien,harus secara langsung aktif terlibat dalam proses tersebut.Lebih jauh, pihak-pihak lain hendaknya tidak membiarkan konselor bergerak dan berjalan sendiri. Di sekolah, guru pembimbing memang harus aktif, bersikap “jemput bola”, tidak hanya menunggu didatangi siswa yang meminta layanan kepadanya.Sementara itu, personil sekolah yang lain hendaknya membantu kelancaran usaha pelayanan itu. Pada dasarnya pelayanan bimbingan dan konseling adalah usaha bersama yang beban kegiatannya tidak semata-mata ditimpakan hanya kepada konselor saja. Jika kegiatan yang pada dasarnya bersifat usaha bersama itu hanya dilakukan oleh satu pihak saja, dalam hal ini konselor, maka hasilnya akan kurang mantap, tersendat-sendat, atau bahkan tidak berjalan sama sekali.
12. Menganggap pekerjaan bimbingan dan konseling dapat dilakukan oleh siapa saja
Benarkah pekerjaan bimbingan konseling dapat dilakukan oleh siapa saja? Jawabannya bisa saja “benar” dan bisa pula “tidak”. Jawaban ”benar”, jika bimbingan dan konseling dianggap sebagai pekerjaan yang mudah dan dapat dilakukan secara amatiran belaka. Sedangkan jawaban ”tidak”, jika bimbingan dan konseling itu dilaksanakan berdasarkan prinsip-prinsip keilmuan dan teknologi (yaitu mengikuti filosopi, tujuan, metode, dan asas-asas tertentu), dengan kata lain dilaksanakan secara profesional. Salah satu ciri keprofesionalan bimbingan dan konseling adalah bahwa pelayanan itu harus dilakukan oleh orang-orang yang ahli dalam bidang bimbingan dan konseling. Keahliannya itu diperoleh melalui pendidikan dan latihan yang cukup lama di Perguruan Tinggi.
13. Menyama-ratakan cara pemecahan masalah bagi semua klien
Cara apapun yang akan dipakai untuk mengatasi masalah haruslah disesuaikan dengan pribadi klien dan berbagai hal yang terkait dengannya.Tidak ada suatu cara pun yang ampuh untuk semua klien dan semua masalah. Bahkan sering kali terjadi, untuk masalah yang sama pun cara yang dipakai perlu dibedakan. Masalah yang tampaknya “sama” setelah dikaji secara mendalam mungkin ternyata hakekatnya berbeda, sehingga diperlukan cara yang berbeda untuk mengatasinya. Pada dasarnya.pemakaian sesuatu cara bergantung pada pribadi klien, jenis dan sifat masalah, tujuan yang ingin dicapai, kemampuan petugas bimbingan dan konseling, dan sarana yang tersedia.
14. Memusatkan usaha Bimbingan dan Konseling hanya pada penggunaan instrumentasi
Perlengkapan dan sarana utama yang pasti dan dan dapat dikembangkan pada diri konselor adalah “mulut” dan keterampilan pribadi. Dengan kata lain, ada dan digunakannya instrumen (tes.inventori,angket dan dan sebagainya itu) hanyalah sekedar pembantu. Ketidaan alat-alat itu tidak boleh mengganggu, menghambat, atau bahkan melumpuhkan sama sekali usaha pelayanan bimbingan dan konseling.Oleh sebab itu, konselor hendaklah tidak menjadikan ketiadaan instrumen seperti itu sebagai alasan atau dalih untuk mengurangi, apa lagi tidak melaksanakan layanan bimbingan dan konseling sama sekali.Tugas bimbingan dan konseling yang baik akan selalu menggunakan apa yang dimiliki secara optimal sambil terus berusaha mengembangkan sarana-sarana penunjang yang diperlukan
15. Menganggap hasil pekerjaan Bimbingan dan Konseling harus segera terlihat.
Disadari bahwa semua orang menghendaki agar masalah yang dihadapi klien dapat diatasi sesegera mungkin dan hasilnya pun dapat segera dilihat. Namun harapan itu sering kali tidak terkabul, lebih-lebih kalau yang dimaksud dengan “cepat” itu adalah dalam hitungan detik atau jam. Hasil bimbingan dan konseling tidaklah seperti makan sambal, begitu masuk ke mulut akan terasa pedasnya. Hasil bimbingan dan konseling mungkin saja baru dirasakan beberapa hari kemudian, atau bahkan beberapa tahun kemuadian.. Misalkan, siswa yang mengkonsultasikan tentang cita-citanya untuk menjadi seorang dokter, mungkin manfaat dari hasil konsultasi akan dirasakannya justru pada saat setelah dia menjadi seorang dokter.
Melihat dari uraian di atas, jelas bahwa kesalahpahaman yang terjadi tersebut menyangkut hubungan antara bimbingan dan konseling dengan pendidikan, bagaimana peranan seorang konselor di sekolah, jenis bantuan yang diberikan, karakteristik masalah yang ditangani, prosedur kerja, kualifikasi keahlian, hasil yang harus dicapai, serta penggunaan instrumentasi bimbingan dan konseling. Haruskan permasalahan ini berlanjut terus, hingga apa yang dikonsepkan tentang bimbingan dan konseling menjadi kabur di masyarakat dan akhirnya timbul penilaian yang negatif terhadap bimbingan dan konseling. Banyak yang harus dilakukan untuk permasalahan ini, agar adanya meningkatkan pelayanan Bimbingan dan Konseling yang berdaya guna.Mari kita bangun kerjasama yang baik dalam satu tujuan yang sama yaitu menjadikan anak didik kita menjadi manusia yang berguna bagi bangsa dan Negara. Menciptakan kerjasama yang baik dengan pihak-pihak tertentu sangatlah tidak mudah, perlu adanya kerja keras dari Guru pembimbing. Untuk itu perlu adanya langkah-langkah penguatan dan penegasan peran serta identitas profesi. Langkah-langkah tersebut adalah :
1. Memahamkan Para kepala Sekolah Diyakini bahwa dukungan Kepala Sekolah dalam implementasi dan penanganan program Bimbingan dan Konseling di sekolah, sangat esensial, Hubungan antara kepala sekolah dengan konselor sangat penting terutama di dalam menentukan keefektifan program. Kepala Sekolah yang memahami dengan baik profesi Bimbingan dan konseling akan :
a. Memberikan kepercayaan kepada konselor dan memelihara komunikasi yang teratur dalam berbagai bentuk.
b. Memahami dan merumuskan peran konseling
c. Menempatkan staf sekolah sebagai tim atau mitra kerja
2. Membebaskan konselor dari tugas yang tidak relevan Masih ada konselor di sekolah yang diberi tugas mengajar bidang studi, bahkan mengrus hal-hal yang tidak relevan dengan Bimbingan dan Konseling seperti petugas piket, Bagian tata tertib sekolah , wali kelas dsb nya. Tugas-tugas ini tidak relevan dengan latar belakang pendidikan dan tidak akan menjadikan Bimbingan dan Konseling dapat dilaksanakan secara professional. Contoh : seorang pembimbing di tugas kan sebagai guru piket, pada saat dia piket ada seorang siswa yang terlambat dan menurut aturan bahwa siswa yang terlambat harus di hukum dahulu oleh guru piket baru boleh masuk kelas. Tidak kah hal ini akan menjadikan fungsi Bimbingan dan konseling menjadi kabur.Dimana seorang guru pembimbing di tuntut untuk menghindari sikap menghukum siswa,namun karena sebagai guru piket,dia harus menjalani tugasnya sebagai guru piket.
3. Membangun Standar Supervisi Tidak terpenuhinya standar yang diharapkanuntuk melakukan supervise Bimbingan dan Konseling membuat layanan tersebut terhambat dan tidak efektif. Supervisi yang dilakukan oleh orang yang tidak memahami dan tidak berlatarbelakang Bimbingan dan Konseling bisa membuat perlakuan supervise Bimbingan dan Konseling disamakan dengan perlakuan supervise guru bidang studi. Akibatnya balikan yang diperoleh konselor dari pengawas bukanlah hal-hal yang substanstif tentang kemampuan bimbingan dan konseling melainkan hal-hal tekhnis administrative. Supervisi Bimbingan dan konseling mesti di arahkan kepada upaya membina ketrampilan professional konselor seperti : Memahirkan ketrampilan konseling, belajar bagaimana menangani kesulitan siswa, mempraktekkan kode etik profesi, Mengembangkan program Komprehensif, mengembangkan ragam intervensi psikologis, dan melakukan fungsi-fungsi yang relevan.
4. Melakukan Sosialisasi tentang fungsi dan Tujuan Bimbingan dan konseling Banyak cara untuk melakukan sosialisasi ini. Diantaranya melakukan Seminar-seminar pendidikan yang diselenggarakan oleh ABKIN untuk semua guru Bidang studi. Selalu berbicara dalam rapat atau musyawarah yang diadakan di sekolah sendiri. Bertukar pikiran dengan teman-teman guru di sekolah dan sambil menjelaskan fungsi dan kedudukan Bimbingan dan konseling sebenarnya.
5. Meningkatkan kinerja guru pembimbing sendiri Banyak yang bisa kita lakukan sebagai guru pembimbinguntuk meningkatkan kinerja kita. Paling tidak kita punya niat untuk bekerja secara professional.Hal ini sudah bisa menjadi motifasi kita untuk maju Adapun yang bisa dilakukan diantaranya :
a. Mengikuti kegiatan MGBK. Pemerintah sudah menyiapkan dana untuk melakukan kegiatan MGBK. Maka ikutilah kegiatan itu secara aktif, selain ilmu baru kita dapat, kita juga bisa searing dengan rekan sesama konselor.
b. Mengikuti seminar-seminar Pendidikan Beberapa tahun belakangan ini, banyak sekali instansi , lembaga atau organisasi yang mengadakan seminar.Untuk kita yang berprofesi konselor.Perdalamlah ilmu kita dengan kegiatan seminar khusus bimbingan dan konseling.
c. Memanfaat Ilmu Tekhnologi untuk mengembangkan pengetahuan Banyak sekali informasi-informasi yang bisa kita dapat melalui internet. Banyak tulisan-tulisan yng di buat oleh mahasiswa, dosen, guru pembimbing dan bahkan pakar-pakar Bimbingan konseling juga membagi ilmunya melalui internet.
d. Menambah ilmu dengan mengikuti pendidikan yang lebih tinggi lagi. Tanpa kesadaran dari praktisi Bimbingan dan konseling untuk menanggapi masalah ini, maka bimbingan dan konseling tidak akan maju dan berkembang dan akhirnya tidak bisa melakukan pelayanan-pelayanan terhadap siswa yang menghadapi perkembangan dunia yang semakin kompleks dan penuh dengan permasalahan-permasalahan hidup. Heriyanti,S.Pd

Selasa, 09 Agustus 2011

KETRAMPILAN KONSELING Untuk Meningkatkan Ke-profesional-an Guru Pembimbing


Banyak sekali keluhan guru Pembimbing tantang masalah yang harus dihadapi di dunia kerjanya. Pada umumnya mereka mengeluhkan tentang lingkungan sekolah yang kurang mendukung profesinya sebagai guru pembimbing.
Melihat dan mendengar itu, mari kita Intropeksi diri sebagai Guru Pembimbing. Cobalah untuk melihat diri kita, apa yang sudah kita lakukan di lingkungan kerja kita. Ilmu apa yang sudah kita sumbangkan untuk lingkungan kerja kita......
Perlahan-lahan....mari kita ciptakan dunia kerja kita yang menyenangkan. Lingkungan kerja yang mendukung kita dan Merangkul semua sahabat-sahabat dan teman-teman di sekolah untuk mendukung kerja kita.
Memang tidak semudah membalik telapak tangan...karena yang dihadapi adalah bermacam-macam karakter manusia.Untuk itu,mulailah mendekati orang yg lebih memahami apa itu BIMBINGAN KONSELING....dan perlahan-lahan memberikan pengenalan kepada mereka yang tidak mengerti tentang BIMBINGAN KONSELING. Namun tidak juga semudah itu untuk mendapatkan tujuan yang diinginkan.Masih ada juga guru-guru yang memandang negatif tentang BIMBINGAN KONSELING atau dengan Guru pembimbing.
Dengan satu tekat dan semangat...Mari kita bekerja secara profesional, sehingga segelintir orang-orang yang memandang negatif itu tidak menjadikan suatu hambatan kita dalam berkarir. Hadapi mereka dengan senyuman......
Untuk menjadikan kita bekerja profesional, kita perlu ilmu yang mendasar, terutama dalam melakukan layanan...oleh sebab itu izin kan saya menuliskan informasi tentang KETRAMPILAN KONSELING.
Tulisan ini saya copy dari http://fitrasoka.multiply.com
Baiklah, untuk melaksanakan teknik konseling dengan baik, kita perlu memiliki keterampilan mendengarkan dan mempelajari. Apaan tuh.....? Biar gak keriting, keterangan ilmiahnya ga perlu ya (padahal ga tau) .


1. Komunikasi non verbal
Komunikasi non verbal ini kira-kira adalah komunikasi yang gak pake kata-kata. Bisa dari penampilan kita, mimik muka, maupun gumaman gak jelas seperti "Mmm....", "Ooh...". Jenis komunikasi ini bisa memperlihatkan bahwa kita memperhatikan apa yang lawan bicara sedang bicarakan. Oke, ga terlalu banyak masalah, cukup ditambah cengar-cengir dikit, beres.....

Yang dijadikan catatan kemarin adalah mengusahakan kepala sama tinggi, misalnya lawan bicara duduk kita ikut duduk, beliau berdiri kita ikut berdiri. Tapi untuk ketinggian yang berhubungan dengan anatomi tubuh yang emang segitu-gitunya tentu tidak perlu dipaksakan, hehehe....

Selain itu adalah memberi perhatian, menyingkirkan penghalang (contohnya terlalu terpaku pada form isian di tangan misalnya, akan menghalangi komunikasi dengan lawan bicara). Lalu... menyediakan waktu, gak so' sibuk dan terburu-buru, sambil sedikit-sedikit liat jam misalnya. Serta melakukan sedikit sentuhan yang wajar. Untuk poin terakhir sempat dilakukan diskusi garing tentang "sentuhan". Rekan yang demo mempraktekkan sentuhan ringan di paha dekat lutut si pasien (dua-duanya perempuan), seorang teman yang lain komplen bahwa itu bukan sentuhan yang wajar buatnya. Akhirnya kami menyepakati bahwa sentuhan wajar yang bisa digunakan adalah sentuhan ringan di bahu saja, tidak di bagian tubuh yang lain . Kalau berlainan jenis lebih baik gak bersentuhan sama sekali daripada disangka ganjen.


2. Pertanyaan terbuka
Nah ini dia.... Ini pertanyaan yang bisa memancing banyak jawaban, yang tidak sekedar "ya" atau "tidak". Diharapkan dengan pertanyaan seperti ini si pasien/klien/siapapun bisa bercerita semua tentang permasalahannya yang sedang kita gali. Ini rada hese buat yang pernah belajar anamnesis seperti saya, yang terbiasa bertanya untuk mendapatkan jawaban-jawaban pendek dan jelas, to the point tea lah.

Kadang saya masih mikir, kenapa sih harus nanya dengan cara yang akan menghasilkan jawaban yang mungkin berputar-putar, kan mending kita tanya to the point? Hehe.... Tapi kayaknya sih karena pertanyaan terbuka dapat membuat dia bercerita boanyaaak, dan akan lebih nyaman buat dia (kalo kitanya ndengerin tentunya... ). Kalo pake gaya anamnesis gitu mungkin orang tersebut akan kurang terbuka. Padahal kita membutuhkan banyak data sensitif termasuk kondisi ekonomi, kondisi rumah, dukungan terhadap ibu dan laen-laen. Gitu meureun.....


3. Mengatakan kembali apa yang lawan bicara katakan.
Ini bermanfaat terutama untuk merespon kata-kata lawan bicara yang sebetulnya kurang tepat berdasar fakta. Kita tidak disarankan untuk menyetujui pendapat yang salah, tapi juga tidak boleh menunjukkan ketidaksetujuan karena akan membuat lawan bicara kurang nyaman. Tapi juga gak bisa diem aja karena akan keliatan gak responsif dong, hehe..... *Halah, ribet..*

Bagian sini juga rada hese, karena refleks kita biasanya langsung ingin menampik kata-kata yang salah. Misalnya... seorang ibu mengeluh anaknya sering menangis dan menganggap hal tersebut karena ASI-nya kurang. Bahkan untuk mengatakan : "Jangan khawatir Bu, anak ibu gak apa-apa kok.... ASI ibu pasti cukup," adalah respon yang kurang tepat. Hal tersebut akan membuat si ibu merasa kurang dipahami, tidak dipercaya, merasa tidak mampu, merasa perasaannya salah, dan lain-lain yang akan mengurangi rasa percaya dirinya, padahal percaya diri adalah kunci seorang ibu mampu menyusui.

Dengan demikian akan lebih aman jika kita sekedar melakukan pengulangan atas kalimatnya, misalnya begini,"Jadi menurut ibu, Anto (gunakan nama anaknya) sering menangis karena ASI ibu kurang?" Dengan begitu kita tidak mengiyakan, juga tidak melawan, tapi bahkan akan memancing si ibu bercerita lebih banyak. Responnya akan menjadi, "Iya.... soalnya... bla... bla... bla...." Nah, jadi tambah akrab kan....?


4. Berempati, menunjukkan bahwa kita mengerti bagaimana perasaannya.
Nyang ini juga sulit, hahaha.... Empati ini juga dapat dilakukan dengan pengulangan kata-kata si ibu. Misalnya si ibu bilang dirinya bingung, kita menimpali dengan "Ibu bingung ya...?" Pengulangan kata ini yang menurutku cukup mudah. Tapi tentunya terus-menerus melakukan pengulangan kata lawan bicara lama-lama bisa kelihatan menyebalkan, jadi daripada disambit pasien karena kita kayak membeo, mendingan kita belajar cara-cara lain untuk menunjukkan empati.


5. Menghindari kata-kata yang terdengar menilai/menghakimi.
Misalnya seorang ibu-ibu usia belasan tahun membawa anaknya yang berusia 3 bulan, si anak tampak kurus dan tidak sehat, si ibu membawa-bawa botol yang tampak kotor dengan susu yang sudah setengah basi di dalamnya. Dari berat badannya saja sudah kelihatan bahwa beratnya kurang, pemberian makannya salah, higienenya apalagi. Tapiii......... kita harus menahan diri untuk tidak menyalahkannya, bahkan untuk mengungkapkan fakta bahwa, "Waah, anak ibu beratnya kurang nih...."

Nah lo..., jadi diapain donk.... Akan saya tulis di artikel berikutnya yah, konseling (2) biar gak kepanjangan :-).

Agak beribet memang belajar konseling ini, seakan-akan membuat hal yang seharusnya gampang jadi susah, hehe.... Tenaga kesehatan yang ikut pelatihan ini biasanya agak kesulitan, ya karena sudah terbiasa to the point dan penuh instruksi tea lah. Rekan-rekan peserta pelatihan yang biasa pecicilan, waktu diminta mengemukakan pendapat dengan cara konseling bicaranya langsung jadi terbata-bata semua, karena pake mikirrr, hihi.... Belum biasa sih....

Jadi inget satu pengalaman berkaitan dengan ini, dulu waktu anak saya usia 7 bulan pernah kontrol ke dokter anak, terlihat bahwa berat anak saya kurang, waktu datang saat itu respon beliau cukup enak, saya pulang dan menjalankan instruksinya. Bulan depannya saya datang lagi, setelah ditimbang beratnya ternyata bisa naik, tapi... beliau berkomentar, "Naah, gitu dong, dikasih makan anaknya, harus rajin....".
Hmm... perasaan saya dulu tuh kayaknya yang, 'Eh... emang saya gak ngasih makan ya, emang saya males?' Hehe.... yang gitu-gitu deh. Bulan-bulan selanjutnya anakku susah makan lagi dan beratnya kayaknya gak nambah, tapi udah gak minat lagi tuh konsul ke dokter itu, takut dicela kalo ternyata beratnya gak naik lagi. Kayak gitu kali ya ilustrasi betapa pentingnya keterampilan konseling........ (bersambung)

Senin, 23 Mei 2011

"Redakan Amarahmu" Bagian.2


Kamu Membuat Kepalaku Serasa mau Pecah:TANDA-TANDA PERINGATAN AWAL
Banyak remaja yang meberitahu saya ketika marah, mereka kelepasan begitu saja dan meledak tanpa peringatan. Pengakuan ini sering sekali saya dengar.Terkadang para remaja menjadikan pembenaran atau perilaku mereka dan menghindar untuk mempertanggung jawabkan tindakan yang mereka lakukan. Sebenarnya,mereka seolah-olah sedang berkata, Bagaimana kamu bisa menyalahkanku atas apa yang telah kulakukan jika aku bisa mengendalikan diri sendiri ? Tapi jika alasan ini sepenuhnya benar, tidak akan ada harapan untuk berubah.Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, jika seseorang tidak pernah berada dalam posisi pengendalian, ia tidak pernah memiliki kendali.Agar bisa berubah, para remaja harus terlebih dahulu memahami bahwa mereka masih memegang kendali ketika mereka marah.Begitu menyadarinya, mereka harus belajar menaikkan tingkat kendali mereka sebelum kemarahan menguasai mereka. Para remaja dapat melakukannya dengan terus bersikap waspada terhadap tanda-tanda peringatan awal yang menandai adanya sebuah serangan kemarahan. Mengidentifikasi tanda-tanda ini akan membantu menahan amarah lebih awal, jauh sebelum meledak.
Ada banyak tanda yang mungkin mendahului sebuah serangan kemarahan, seperti otot tegang, perut mengeras, tangan mengepal, gigi menggeretak, atau jantung berdebar. saat marah, saya dapat merasakan wajah saya memerah. Saya dapat merasakan panas menyebar ke seluruh wajah saya. Ingatlah, tidak ada orang yang "Meledak" begitu saja dalam kemarahan tanpa adanya tanda-tanda peringatan.
Berikut ini beberapa sensasi yang mungkin kamu rasakan sebelum menjadi marah :
# Merasakan wajahmu memarah
# Darah mengalir cepat melalui nadimu
# Jantung berdebar
# Napas menjadi lebih cepat, pendek, atau tidak stabil
# Merasa panas atau dingin
# Merasa sakit di lehermu
Berikut ini beberapa tindakan yang mungkin tanpa sadar kamu lakukan tepat sebelum kemarahan terjadi :
@ Mengepal Tanganmu
@ Menegangkan rahangmu
@ Menggertakkan gigimu
@ Menegangkan dan meregangkan otot-ototmu
@ Mondar-mandir mengelilingi ruangan
@ Ketidakmampuan untuk duduk atau berdiri dengan tenang
Berikut ini beberapa pikiran yang dapat menjadi pertanda sebuah serangan kemarahan :
* Ia berbuat begini untuk menyakitkan
* Ia sengaja berbuat begini kepadaku
* Aku tidak percaya ia melakukan hal ini
* Tidak ada orang yang berbicara kepadaku seperti ini
* Akan kutunjukan kepadanya
* Sekarang semua orang sedang mentertawakanku

Berhati-hatilah saat mencatat berbagai pikiran yang menandai serangan kemarahan. Kerap kali, memikirkan apa yang telah membuat kita marah hanya membuat kita lebih marah. Berbagai pikiran ini membakar kemarahan kita dan kemarahan ini kemudian membakar pikiran kita, dan akhirnya menjebak kita dalam lingkaran setan.
SEBAGAI LATIHAN UNTUK MEREDAKAN AMARAH :
Tuliskan sensasi, tindakan dan pemikiran yang biasanya kamu alami tepat sebelum kamu menjadi marah.
Sensasi :...........................................................................
...........................................................................
...........................................................................
Tindakan:...........................................................................
...........................................................................
...........................................................................
Pemikiran:..........................................................................
..........................................................................
..........................................................................
Sebutkan Pemicu Umumnya:
eksternal :.........................................................................
internal :.........................................................................

Dr.Michael Hershorn, "Redakan Amarahmu !" (tip-tip Pengendalian Emosi Remaja)(2006-69-77)

Jumat, 29 April 2011

" Rincian Kewajiban Konselor." Panduan Pengembangan diri (2006)


KONSELOR YANG BERTUGAS DI SEKOLAH/MADRASAH DIWAJIBKAN MENGUASAI DAN MENYELENGGARAKAN HAL-HAL BERIKUT :
1. Menguasai spectrum pelayanan pada umumnya,khususnya pelayanan professional konseling
a. Konselor menguasai spectrum pelayanan pada umumnya, khususnya pelayanan professional konseling.
b. Konselor menguasai spectrum pelayanan professional konseling
2. Merumuskan dan menjelaskan peran professional konselor kepada pihak-pihak terkait, terutama peserta didik,pimpinan sekolah/madrasah, sejawat pendidik, dan orang tua
3. Melaksanakan tugas pelayanan professional konseling yang setiap hari dipertanggung jawabkan kepada pemangku kepentingan, terutama pimpinan sekolah/madrasah , orang tua dan peserta didik.
4. Mewaspadai hal-hal negative yang dapat mengurangi keefektifan pelayanan professional konseling
a. Hal-hal berikut perlu dicegah untuk tidak terjadi atau tidak dilakukan oleh konselor :
1) Tercederainya asas kerahasiaan, karena konselor secara langsung ataupun tidak langsung mengemukakan hal-hal berkenaan dengan diri peserta didik yang tidak boleh atau tidak layak diketahui orang lain.
2) Memberikan label kepada peserta didik, baik perorangan maupun kelompok, dengan cara apapun, yang berkonotasi negative terhadap peserta didik yang bersangkutan
3) Bertindak laksana “Polisi sekolah” yang memata-matai ataupun mencari kesalahan peserta didik, seperti bertindak sebagai piket keamanan, perazia, pencari pencuri. Dalam hal ini, konselor dapat menerima peserta didik yang terjaring dalam kegiatan “Kepolisian sekolah”yang dilakukan oleh pihak lain, untuk mendapatkan pelayanan konseling.
4) Membuat ataupun menyetujui dibuatnya “Surat Perjanjian” dengan peserta didik yang berkonotasi atau berakhir pada sangsi ataupun hukuman tertentu. Dalam hal ini konselor dapat menerima peserta didik yang telah membuat perjanjian dengan pihak lain, untuk mendapatkan pelayanan konseling agar terhindar dari sangsi ataupun hukuman yang sebagaimana dinyatakan dalam “surat perjanjian”.
5. Mengembangkan kemampuan professional konseling secara berkelanjutan

Kamis, 24 Maret 2011

REDAKAN AMARAHMU

Bagian I
Kapan Amarahmu Menjadi Sebuah Masalah ?
Pada waktu-waktu tertentu dalam hidup kita, setiap orang mengalami kemarahan yang tidak perlu dan tidak dapat dibenarkan. Meskipun demikian, jika terlalu sering terjadi, hal ini dapat menjadi masalah. Berikut ini beberapa tanda yang akan memberitahu kapan kemarahanmu menciptakan masalah bagimu.
1. Ketika Kemarahan terlalu sering terjadiAda banyak situasi ketika amarah merupakan hal yang tepat dan dibenarkan. Namun demikian, kita acapkali marah, bahkan ketika kemarahan tersebut tidak berguna atau perlu. Kamu perlu membedakan kapan saat yang wajar untuk marah dan kapan amarah menjadi bukan gagasan yang bagus.
2. Ketika Kemarahan terlalu kuat. Kemarahan terjadi pada level intensitas yang berbeda. Kemarahan dalam kadar yang kecil atau menengah acap kali dapat berguna bagi kebaikanmu. Namun, kemarahan tingkat tinggi jarang menghasilkan hasil yang positif.
3. Ketika Kemarahan berlangsung terlalu lama.Ketika kamu memperpanjang kemarahanmu, tubuhmu harus menjaga stres/pemunculan marahmu pada level yang melebihi batas normal.Kita sering menyebutnya "Melebih-lebihkan sesuatu",Amarah yang berlangsung terlalu lama dapat menahan sistem tubuhmu kembali ke level normal, sehingga membuat dirimu rentan terhadap kesulitan dan gangguan yang lebih lanjut. Karena itu,kemarahan yang berkepanjangan membuatmu lebih mudah marah saat ada sesuatu yang tidak berjalan sebagaimana mestinya dilain waktu. Lebih jauh lagi, kemarahan yang berkepanjangan akan membuat konflik menjadi lebih sulit (bahkan tidak mungkin) di pecahkan
4. Ketika kemarahan menyebabkan tingkah laku (secara fisik atau verbal ) yang mengancam. Tindakan agresi pasti akan mebuatmu terlibat dalam masalah. Saat merasa disakiti atau diperlakukan dengan tidak adil, kamu mungkin ingin mencecar orang yang telah menyinggungmu. Kemarahan, terutama kemarahan yang kuat dan personal, mendorong respons agresif. Otot-ototmu menegangkan, suaramu menjadi lebih keras, dan kamu mengepal tinjumu serta menatap tajam. Ketika kamu berada dalam keadaan seperti itu, kamu lebih cebdrung bertindak secara reaktif. Serangan fisik dan serangan Verbal (seperti menyebut seseorang brengsek)bukanlah cara yang efektif untuk mengatasi konflik. Jika kemarahanmu membuatmu agresif, berarti kamu punya masalah.
5. Ketika Kemarahan mengganggu sekolah, pekerjaan, atau hubunganmu dengan orang lain. Kemarahanmu membuat orang lain sulit berhubungan denganmu, ada harga yang harus dibayar. Kemarahanmu akan membuat kamu tidak dapat berkonsentrasi ditempat kerja atau sekolah, dan membuatmu tidak puas dengan apa yang kamu lakukan. Kemarahanmu acap kali akan menghalau oranglain dan mebuat mereka sulit menyukaimu.
Bersambung........
Dr.Michael Hershorn, "Redakan Amarahmu !" (tip-tip Pengendalian Emosi Remaja)(2006-41,42)